MEDIAINI.COM – Sejak diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO pada tahun 2009, perkembangan batik berjalan pesat. Kain batik didesain menjadi seragam kantor, busana untuk menghadiri acara-acara resmi, bahkan disulap juga menjadi pakaian kasual kekinian. Pemerintah memberikan dukungan penuh akan warisan budaya yang satu ini. Salah satunya dengan mencanangkan hari batik nasional dan menetapkan penggunaan batik sebagai seragam kantor di hari Kamis dan Jumat.
Pelaku bisnis batik dari berbagai daerah di nusantara, jadi semakin semangat memproduksi sekaligus melestarikan batik. Lantas berkembanglah batik di setiap daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Yogyakarta, Kalimantan, hingga Papua. Di Cirebon sendiri muncul batik dengan motif mega mendung. Motif ini tampil trendi dan mewah.
Masih ingat dengan sosok Sally Govanny? Wanita kelahiran 25 September 1988 ini berhasil mempekerjakan 850 karyawan dari usaha batiknya. Tidak hanya itu, dia juga bekerja sama dengan 500 pengrajin dalam mengelola usahanya. Sally adalah pendiri batik Trusmi Cirebon yang gerai tokonya makin mengepakkan sayap kemana-mana.
Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Memulai
Dukungan dari pemerintah dan antusias pasar yang besar semakin menegaskan usaha batik memiliki peluang yang menjanjikan. Namun sebelum memulai bisnis ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan :
1. Pahami Jenis Batik
Batik yang berkembang di setiap daerah tentu berbeda motif, makna, dan cerita. Maka sebagai pengusaha batik, tidak lazim rasanya bila tidak memahami jenis-jenis batik ini. Jika pun berniat memodifikasi batik yang sudah ada sesuai kreatifitas, pelaku bisnis tetap harus memberikan makna yang terkandung di dalamnya.
2. Tentukan Target Market
Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah menentukan target market. Penentuan konsep ini akan membantu pelaku bisnis dalam membuat motif, desain, strategi pemasaran serta penentuan harga. Jika target market adalah golongan menengah ke atas, maka pengerjaan motif harus sangat teliti dengan teknik tradisional dan bahan terbaik.
3. Ikuti Trend Pasar
Tren fesyen selalu berubah waktu demi waktu. Begitu juga yang terjadi dengan batik. Jika tidak mampu mengikuti arus maka pelaku bisnis akan tergerus. Jadi, peka-pekalah membaca keadaan tren yang ada.
4. Siapkan Strategi Pemasaran
Sejalan dengan permintaan terhadap batik yang tinggi, pelaku usaha di bidang ini juga tinggi. Ini artinya, pesaing dalam bisnis batik juga banyak. Jadi pelaku bisnis harus menyiapkan strategi pemasaran agar tak tertinggal dengan para pesaing.
Selain promosi offline, gencarkan pula promosi online mengingat perkembangan marketplace dan sosial media tengah pesat, Untuk mendorong branding, keluarkan diskon dan flash sale.
5. Siapkan Modal
Modal merupakan hal krusial yang harus dipersiapkan sebelum memulai bisnis. Tapi pelaku bisnis tidak perlu menyiapkan modal dalam jumlah besar jika belum ada niatan menyewa ruko atau lahan. Pelaku bisnis hanya perlu menyiapkan modal untuk bahan baku dan proses produksi serta penggajian karyawan. Selanjutnya untuk tempat dan iklan, bisa dilakukan melalui lapak online yang gratis.
Menangkap Peluang dari Batik Krian
Belum lama ini berkembang batik Krian di Cirebon. Krian sendiri merupakan salah satu nama kampung kumuh dengan roda perekonomian yang bisa dikatakan berada di bawah rata-rata.
Batik yang tergolong baru ini memiliki keunikan tersendiri. Dalam pembuatannya, pengrajin batik Krian memanfaatkan bahan alami, baik untuk pewarnaan maupun peralatan. Produksi batik Krian dikelola sendiri oleh warna lokal, dengan harapan langkah ini bisa meningkatkan perekonomian warga kampung Krian.
Meskipun hanya dikelola warga lokal namun laju bisnis batik ini tidak main-main. Selain angka penjualan tinggi, pengrajin batik asal Krian juga sering mendapatkan undangan pameran UMKM dari pemerintah. Bahkan, pemasarannya pun sudah sampai sampai Korea dan Amerika. Usaha batik ini terbukti mampu mengangkat perekonomian warga lokal. (Tri Puspitasari)



























Discussion about this post