Oleh: Alexey Navolokin, General Manager, APAC
JAKARTA, MEDIAINI.COM — Perubahan kebutuhan komputasi dan meningkatnya adopsi kecerdasan artifisial (AI) membuat perusahaan perlu meninjau kembali cara mereka mengelola infrastruktur data center. Salah satu langkah yang dinilai semakin penting adalah konsolidasi server, yakni memindahkan beban kerja dari banyak server lama ke lebih sedikit server dengan kemampuan komputasi lebih tinggi.
General Manager APAC, AMD, Alexey Navolokin, mengatakan konsolidasi server tidak sekadar berkaitan dengan pengurangan jumlah perangkat. Langkah tersebut dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan efisiensi infrastruktur, menghemat ruang dan daya, sekaligus menyiapkan kapasitas bagi kebutuhan komputasi di masa mendatang.
“Tujuannya jelas: memindahkan beban kerja dari sejumlah besar sistem lama yang kurang efisien ke lebih sedikit server dengan kemampuan lebih tinggi, tanpa mengorbankan performa atau mengganggu aplikasi penting,” ujar Alexey.
Menurutnya, konsolidasi yang dilakukan dengan tepat dapat membebaskan ruang rak dan kapasitas daya, menekan biaya lisensi software yang berbasis core, serta menciptakan ruang untuk pertumbuhan aplikasi bisnis, analitik hingga AI.
Kepadatan Core Jadi Faktor Penting
Dalam strategi tersebut, prosesor AMD EPYC dirancang untuk mendukung konsolidasi melalui kombinasi kepadatan core, performa per core dan efisiensi energi pada arsitektur x86 yang telah banyak digunakan perusahaan.
AMD EPYC Generasi Kelima, misalnya, menawarkan konfigurasi hingga 192 core untuk menjalankan lebih banyak beban kerja dalam satu sistem. Selain itu, tersedia pilihan prosesor dengan frekuensi hingga 5GHz untuk kebutuhan yang mengutamakan performa per core, termasuk beban kerja yang sensitif terhadap biaya lisensi berbasis core.
AMD juga menyebut prosesor EPYC Generasi Keenam dengan nama kode “Venice” ke depan akan memperluas kepadatan core dengan konfigurasi hingga 256 core.
Pilihan tersebut memungkinkan perusahaan menyesuaikan jenis prosesor dengan karakteristik beban kerja, sekaligus menyediakan kapasitas untuk kebutuhan komputasi berikutnya, termasuk penggunaan GPU AMD Instinct untuk inferensi dan pelatihan AI serta jaringan AMD Pensando untuk mendukung pergerakan data.
Konsolidasi Bisa Kurangi Jumlah Server hingga 86 Persen
Gambaran mengenai dampak konsolidasi terlihat dari simulasi yang disampaikan AMD. Sebanyak 100 server dual CPU Intel Xeon Platinum 8280 yang telah digunakan selama lima hingga tujuh tahun dapat dikonsolidasikan menjadi 14 server berbasis CPU AMD EPYC 9965 dengan total performa yang setara.
Artinya, jumlah server dapat berkurang sekitar 86 persen. AMD memperkirakan skenario tersebut dapat menurunkan konsumsi daya hingga 69 persen dan total biaya kepemilikan selama tiga tahun hingga 41 persen.
Secara kapasitas core, konfigurasi tersebut membandingkan 5.600 core dari 100 server lama dengan 5.376 core dari 14 server berbasis AMD EPYC 9965. Perbedaan jumlah core tersebut menunjukkan bahwa jumlah perangkat bukan satu-satunya ukuran kapasitas komputasi.
Yang menjadi perhatian adalah seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan oleh setiap server dan setiap core.
Konsolidasi juga berpotensi memberikan dampak langsung terhadap biaya software. Pada perangkat lunak yang menggunakan model lisensi berdasarkan socket atau core, berkurangnya jumlah sistem dan core yang diperlukan dapat menekan biaya lisensi serta pemeliharaan.
Namun, manfaat tersebut tidak berlaku dengan cara yang sama untuk software yang menggunakan model lisensi berdasarkan pengguna, perangkat, maupun skema lainnya.
Pengalaman DNSE Securities di Vietnam
Penerapan konsolidasi juga tercermin dalam pengalaman DNSE Securities, perusahaan broker saham online di Vietnam.
Perusahaan tersebut membutuhkan infrastruktur dengan kepadatan dan performa tinggi, tetapi tetap harus mempertahankan sistem on-premises karena persyaratan regulasi. Infrastruktur server sebelumnya dinilai belum mampu memberikan tingkat konsolidasi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan perusahaan.
Setelah melakukan benchmarking terhadap sistem berbasis AMD dan Intel, DNSE menerapkan CPU AMD EPYC Generasi Ketiga dan Keempat di data center mereka.
Hasilnya, DNSE dapat mengurangi jumlah rak hingga setengahnya. Konsumsi daya per rak juga turun dari sekitar 16–17 kilowatt menjadi 7–9 kilowatt.
Saat ini, sekitar 90 persen beban kerja DNSE berjalan menggunakan CPU AMD EPYC. Perusahaan menggunakan prosesor dengan frekuensi tinggi untuk sistem perdagangan yang sensitif terhadap latensi, sementara prosesor dengan jumlah core tinggi digunakan untuk berbagai beban kerja terkontainerisasi.
CTO DNSE Binh Nguyen mengatakan fleksibilitas tersebut memungkinkan perusahaan memilih prosesor sesuai kebutuhan pekerjaan tanpa melakukan overprovisioning.
“Server yang didukung CPU AMD EPYC akan memungkinkan kami untuk terus membangun infrastruktur dan menjalankan software seperti yang kami lakukan saat ini, tetapi dalam skala yang jauh lebih besar,” kata Binh.
Ruang Data Center untuk Kebutuhan AI
Bagi perusahaan yang tengah mengembangkan AI, efisiensi data center menjadi semakin strategis. Pengurangan jumlah server tidak hanya menghasilkan penghematan biaya dan daya, tetapi juga dapat membebaskan ruang, kapasitas listrik serta kemampuan pendinginan untuk infrastruktur baru.
Kebutuhan tersebut semakin relevan dengan berkembangnya agentic AI. Setiap aktivitas agen AI dapat memicu berbagai proses komputasi, mulai dari query database, pemanggilan API, pembuatan token hingga eksekusi berbagai tools.
Dengan mengonsolidasikan beban kerja yang sudah ada ke server yang lebih efisien, perusahaan berpotensi menyediakan kapasitas tambahan untuk menangani kebutuhan tersebut tanpa harus segera memperluas fasilitas data center secara fisik.
Pada saat yang sama, infrastruktur AI perusahaan semakin beragam. Beban kerja dapat tersebar di frontier models, layanan cloud, infrastruktur on-premises hingga perangkat client yang mendukung AI.
Pemilihan lokasi dan model komputasi pun dapat disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan, termasuk kompleksitas, sensitivitas data, latensi dan biaya.
Konsolidasi Menjadi Agenda Strategis CIO
Alexey menilai konsolidasi server mungkin bukan proyek yang paling mendapat sorotan dalam agenda Chief Information Officer (CIO). Namun, dampaknya dapat diukur secara konkret melalui jumlah server, penggunaan ruang rak, konsumsi daya, biaya lisensi serta total biaya kepemilikan.
Dengan pendekatan tersebut, konsolidasi bukan sekadar upaya mengurangi perangkat di data center. Lebih jauh, langkah ini dapat menjadi strategi untuk membangun fondasi infrastruktur yang lebih efisien sekaligus menyediakan kapasitas bagi kebutuhan komputasi berikutnya.
Ketika kebutuhan AI terus berkembang, ruang, daya dan kapasitas komputasi yang tersedia dapat menjadi aset strategis. Karena itu, kemampuan menjalankan lebih banyak pekerjaan dengan infrastruktur yang lebih sedikit menjadi bagian penting dari perhitungan baru dalam pengelolaan data center.
“Matematika” data center pun berubah: bukan lagi semata-mata tentang berapa banyak server yang dimiliki, melainkan seberapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan sumber daya komputasi, energi dan ruang yang tersedia.





















