SEMARANG, MEDIAINI.COM – Transformasi digital tidak hanya mengubah cara masyarakat berkomunikasi dan bertransaksi, tetapi juga membawa perubahan besar dalam pengelolaan administrasi usaha. Bagi pelaku usaha kecil, perubahan sistem perpajakan digital terkadang menjadi tantangan tersendiri.
Namun, keterbatasan pemahaman tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkembang. Semangat itulah yang dibawa Tim Pelaksana Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ekonomi Universitas Semarang (USM) saat memberikan edukasi Coretax kepada para pelaku usaha yang tergabung dalam UKM Tangan Terampil Kota Semarang.
Kegiatan bertajuk “Literasi Kepatuhan 5.0: Mengoptimalkan Notifikasi dan Edukasi Mandiri pada Dashboard Coretax bagi Pelaku Usaha Lokal UKM Tangan Terampil Kota Semarang” tersebut berlangsung di Dapur Naika, Jalan Badak Raya No. 63A, Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Jumat (19/6/2026).
Sebanyak 11 pelaku usaha mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai aturan perpajakan, tetapi juga diajak belajar secara langsung agar mampu menggunakan sistem perpajakan digital dengan lebih mandiri.
Kegiatan dipimpin Ketua Pengabdian Kepada Masyarakat, Citra Andriani Kusumawati, S.E., M.M., bersama tim dosen yang terdiri atas Dr. Asih Niati, S.E., M.M., Tri Rinawati, S.E., M.M., dan Naini Rizka Amalia, S.E., M.Ak.
Bagi Citra, literasi perpajakan di era digital bukan semata-mata berbicara tentang kewajiban membayar dan melaporkan pajak. Lebih dari itu, pelaku usaha perlu memiliki kemampuan untuk memahami serta mengelola administrasi perpajakannya sendiri.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memastikan para pelaku UKM tidak hanya sekadar patuh pajak, tetapi juga benar-benar menguasai penggunaan sistem perpajakan terbaru secara mandiri,” ujarnya.
Menurut dia, pemanfaatan fitur notifikasi dan edukasi pada dashboard Coretax dapat membantu pelaku usaha memperoleh informasi yang dibutuhkan secara lebih cepat. Dengan demikian, administrasi perpajakan dapat dikelola secara lebih efisien sekaligus mengurangi potensi kendala di kemudian hari.
Pendampingan tersebut mendapat sambutan positif dari Ketua UKM Tangan Terampil, Hesti Ari Respati, S.Kom. Ia menilai pendekatan praktis yang diberikan para dosen USM membuat materi yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih mudah dipahami.
“Kami mewakili rekan-rekan pelaku usaha di UKM Tangan Terampil sangat berterima kasih atas pendampingan langsung dari para dosen USM. Materi Coretax yang dibawakan secara praktis ini sangat membantu kami yang sebelumnya sempat merasa bingung dengan sistem perpajakan digital yang baru,” ungkap Hesti.
Menurutnya, edukasi tersebut memberikan dampak nyata bagi para anggota UKM. Mereka kini tidak hanya memahami konsep dasar Coretax, tetapi juga mulai memiliki keberanian untuk melakukan navigasi dashboard dan mengelola kebutuhan perpajakan secara mandiri.
Pendekatan pembelajaran yang digunakan pun dibuat inklusif dan interaktif. Para peserta terlebih dahulu mendapatkan pemaparan mengenai landasan hukum literasi kepatuhan pajak digital serta pemahaman mengenai konsep aturan dalam sistem perpajakan terbaru.
Setelah memahami dasar-dasarnya, peserta diajak masuk ke sesi praktik langsung atau hands-on. Dengan pendampingan tim dosen, mereka belajar mengenali fitur, melakukan proses masuk ke sistem, memahami navigasi dashboard, serta mengoptimalkan notifikasi dan fitur edukasi mandiri.
Suasana pembelajaran berlangsung dua arah. Peserta tidak sekadar duduk mendengarkan materi, tetapi aktif mencoba, bertanya, dan menyampaikan persoalan yang selama ini mereka hadapi dalam menjalankan administrasi perpajakan.
Sesi konsultasi di penghujung kegiatan bahkan menjadi salah satu bagian yang paling hidup. Berbagai pengalaman dan kendala yang ditemui pelaku usaha dalam aktivitas sehari-hari dibahas bersama sehingga peserta memperoleh pemahaman yang lebih kontekstual.
Dari kegiatan tersebut, terlihat bahwa digitalisasi tidak selalu harus menjadi sesuatu yang menakutkan bagi pelaku usaha kecil. Dengan pendampingan yang tepat, teknologi justru dapat menjadi alat untuk membuat pengelolaan bisnis lebih tertib, efisien, dan profesional.
Lebih jauh, kegiatan PKM ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani perubahan teknologi dengan kebutuhan masyarakat. Ilmu yang dimiliki akademisi tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dapat hadir langsung dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi pelaku usaha.
Bagi UKM Tangan Terampil, edukasi Coretax bukan sekadar pelatihan teknis. Kegiatan ini menjadi langkah kecil menuju kemandirian dan kepercayaan diri dalam menghadapi ekosistem usaha yang semakin digital.
Sementara bagi Fakultas Ekonomi USM, pendampingan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pelaku usaha lokal yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga semakin sadar akan pentingnya tata kelola usaha dan kepatuhan terhadap regulasi.
Pada akhirnya, kemajuan UMKM tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan produk yang berkualitas. Kemampuan beradaptasi, memahami teknologi, serta mengelola administrasi secara tertib juga menjadi modal penting agar usaha dapat bertahan dan berkembang.
Dari ruang sederhana di Dapur Naika, para pelaku UKM Tangan Terampil mendapatkan satu pelajaran penting: ketika teknologi dipahami dan dikuasai, sesuatu yang semula terasa rumit dapat berubah menjadi peluang untuk tumbuh lebih mandiri.






















