MEDIAINI.COM – Film pendek Tilik telah ditonton 16 juta kali hanya dalam waktu 3 hari sejak pertama kali dirilis. Film ini turut menambah deret panjang prestasi para sineas muda tanah air.
Berbicara soal film, sineas kita sudah banyak yang memberikan bukti. Bahwa tak hanya menjadi raja di ranah domestik, tetapi juga mampu berbicara banyak di kancah internasional.
Diputar di Festival Internasional
Ada sederet nama sutradara dan film nasional yang telah membuktikan karya lokal mampu bersaing dan diapresiasi di luar negeri. Yang terbaru, adalah film superhero besutan Joko Anwar berjudul Gundala. Film ini telah tayang di Toronto International Film Festival pada bulan September tahun lalu. Tak hanya itu, Gundala bahkan bersaing dengan film-film Hollywood seperti Joker, Knives Out, First Love, serta Radioactive untuk memperebutkan kategori People’s Choice Award.
Selain itu, di tahun 2018, The Science of Fictions karya Yosep Anggi Noen juga berhasil diputar di festival bergengsi luar negeri. Sebut saja Locarno Film Festival tahun 2019, dimana film tersebut diputar untuk edisi kompetisi internasional Concorso Internazionale. Awalnya film ini diproyeksikan beredar di bioskop komersial mulai tahun 2020. Namun sayang, terkendala pandemi.
Menang di Festival Bergengsi
Sutradara legendaris, Garin Nugroho, di tahun yang sama juga turut meramaikan kontes festival film internasional lewat film Kucumbu Tubuh Indahku. Film yang menggabungkan antara maskulinitas dan feminin dalam satu peran ini telah menang sebagai film terbaik di tiga festival bergengsi luar negeri. Di antaranya Venice Independent Film Critic, Festival Des 3 Continents, dan Asia Pacific Screen Awards. Selain itu, film ini juga meraih piala International Cinephile Society Awards dan Guadalajara International Film Festival.
Di tahun 2017, ada film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang mendapat berbagai apresiasi di festival luar negeri. Mulai dari skenario terbaik di FIFFS Maroko edisi ke-11, film terbaik di Asian Nest Wave The Qcinema Film Festival Filipina, dan NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival 2017. Di Indonesia sendiri, film Marlina meraih 10 kategori dari 15 nominasi yang didapatkan dalam ajang FFI tahun 2018.
Selain itu, ada pula film garapan Kamila Andini yang juga bersinar di tahun ini. Filmnya yang berjudul Sekala Niskala berhasil meraih meraih Film Remaja Terbaik dalam Asian Pasific Screen Award, Film Terbaik dalam Tokyo FILMeX, dan Film Terbaik dalam Festival Film Asia Netpac Jogja (JAFF).
Turah, film berbahasa Tegal, juga melesat di kancah internasional. Beberapa penghargaan diraih seperti Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival, serta Singapore International Film Festival 2016.
Lalu ada Headshot karya Timo dan Kimo yang lebih dulu menjajal festival Toronto dibanding Gundala. Film ini tayang dalam kategori Midnight Madness gelaran festival yang ke-41.
Di era yang lebih lama ada film Babi Buta yang Ingin Terbang milik Edwin. Film ini menyabet lima piala, di antaranya di Golden Horse Film Festival, Rotterdam International Film Festival, Singapore International Film Festival, dan dua piala dari Nantes Three Continents Festival.
Peran Serta PH
Berkembangnya industri sinema tanah air tak lepas dari peran rumah produksi (PH) yang berkomitmen membuat film-film berkualitas. Di Indonesia ada banyak nama PH yang langganan menelurkan film-film terbaik.
Pertama ada Miles Films, PH milik Mira Lesmana yang lahir sejak tahun 2000-an. PH ini rutin mengeluarkan film-film berkualitas seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Ada Apa Dengan Cinta, dan Petualangan Sherina.
Selanjutnya ada Starvision Plus, PH yang berawal dari produksi FTV dan sinetron yang kini mulai merambah dunia perfilman. Starvision cenderung berani menampilkan sutradara baru dan cerita-cerita baru yang unik. Ernest, yang lebih dulu dikenal sebagai komika, kini telah sukses menjadi sutradara berkat bergabung di Starvision Plus.
Visinema Pictures, disebut-sebut sebagai PH yang akan mendobrak sinema tanah air. PH yang digawangi sutradara muda Angga Dwimas Sasongko ini mampu menghasilkan film dengan kualitas seni yang tinggi. Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi menjadi Box Office serta meraih Piala Citra di Festival Film Indonesia.
Sinema Indonesia di Dalam Pandemi
Pandemi membuat hampir seluruh proses produksi film Indonesia terhenti. Tak hanya proses produksi saja, proses distribusi pun berhenti total. Sebab bioskop-bioskop tutup untuk mencegah penyebaran pandemi.
Serangkaian kejadian tersebut, membuat banyak pegiat sinema yang merombak berbagai konsep di film-filmnya. Tak hanya itu, pegiat film juga mulai merancang protokol kesehatan agar bisa melakukan shooting kembali.
Sutradara ternama, Hanung Bramantyo, mengaku telah menghubungi Gugus Tugas Percepatan Covid 19 untuk membahas hal tersebut. Pada pertengahan bulan Agustus lalu, ia bahkan telah memulai kembali shooting film terbarunya, Gatotkaca.
Produksi dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Mulai dari pembatasan jumlah kru hingga menyiapkan biaya tambahan untuk menunjang protokol kesehatan bagi seluruh kru yang terlibat. (Chelsea Venda).
Baca juga : Selain Tilik, Ada 7 Film Pendek Besutan Ravacana yang Wajib Tonton



























Discussion about this post