SEMARANG, MEDIAINI.COM – Perkembangan teknologi secara otomatis telah membawa manusia pada peningkatan intelektualitas peradaban, sehingga menjadi semakin cerdas dan selektif.
Ketua Komisi A DPRD Jateng, Muhammad Saleh mengatakan, salah satu dampak positif digitalisasi, yakni masyarakat sudah semakin cerdas memfilter informasi. Sehingga tidak mudah termakan berita bohong alias hoaks.
“Contohnya saat menjelang pilkada beberapa waktu lalu, berita hoaks tidak sampai membuat masyarakat resah. Masyarakat paham mana berita yang benar atau yang sekadar sensasi dengan kepentingan sesaat,” kata Muhammad Saleh, saat menjadi salah satu narasumber dalam Diskusi Prime Topic dengan tema: Berlindung dari Hoax, di Hotel Noormans, Semarang, Senin (14/12).
Berita hoaks, menurut Muhammad Saleh, mayoritas memang sengaja dibuat, disebarkan, dan memunculkan akibat. Karena itu, semakin banyak berita hoaks disiarkan, maka yang terjadi adalah berita tersebut seolah benar. Maka masyarakat yang cerdas harus bisa saring sebelum sharing, tidak asal sebar kabar yang diterima.
“Untuk mencegah dan meredam banyaknya berita hoaks bisa dimulai dari diri kita, jangan keburu-buru menyebarkan apa yang kita terima, tolong cek kebenaran itu. Salah satunya dengan mengenali berita itu, jika ada kata-kara yang dilebih-lebihkan atau terlalu dan terkesan bombastis biasanya itu hoaks,” tutur Muhammad Saleh.
Muhamad Saleh menambahkan, ada dua kategori informasi hoaks yaitu karena memang adanya kepentingan dan yang kedua karena ketidaktahuan masyarakat yang menyebarkan.
Karena itu, ia mengajak kepada masyarakat khususnya Jawa Tegah untuk lebih cerdas dalam menerima dan menyebar sebuah berita yang diterimanya dalam grup whatapps atau medsos lainnya.
“Bijak bermedia itu dimulai dari diri kita dan keluarga kita untuk menyetop maraknya berita-berita hoaks,” pungkasnya
Kabid Informasi & Komunikasi Publik Diskominfo Jateng, Agung Kristianto yang mewakili Kadiskominfo Jateng, Riena Retnaningrum, mengatakan bahwa hoax adalah konsekuensi dari perkembangan arus informasi.
“Hoaks itu tumbuh kembang, segala aspek bisa tumbuh jadi hoaks. Sehingga seperti penyakit atau budaya yang menjangkiti masyarakat. Tapi masyarakat makin paham soal klasifikasi informasi hoaks dengan berbagai tujuannya,” kata Agung.
Sementara Rektor Unika Sugijapranata, Ridwan Sanjaya mengatakan, berita hoaks belum sepenuhnya bohong. Karena ada juga berita yang setengah bohong.
Menurut Ridwan, kalau berita hoaks itu sengaja diciptakan karena memang ada kepentingan. Sementara yang setengah hoaks, disebarkan oleh orang-orang yang sebenarnya bodoh tetapi sok pinter.
“Maka akan lebih bagus jika kita menjadi orang yang cerdas memfilter berita dengan tidak ngeshare atau menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya,” kata Ridwan.























Discussion about this post