MEDIAINI.COM – Sistem agentic AI menggabungkan berbagai peran CPU dalam satu alur kerja yang dinamis. Generasi terbaru CPU AMD EPYC memungkinkan pelanggan mengoptimalkan setiap tugas sekaligus memberikan fleksibilitas untuk memenuhi kebutuhan komputasi di masa mendatang.
CPU server AMD EPYC 9006 Series menjadi bagian dari portofolio solusi AMD untuk berbagai kebutuhan, mulai dari agentic AI, cloud, enterprise, high-performance computing (HPC), hingga general-purpose computing.
Dalam dua tahun terakhir, kebutuhan infrastruktur AI mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya perencanaan infrastruktur lebih banyak berfokus pada kapasitas untuk proses training, kebutuhan inference kemudian menjadi faktor penting. Kini, kehadiran agentic AI kembali mengubah pola tersebut.
Sistem agent dapat mengubah satu permintaan menjadi rangkaian proses yang terus berkembang, mulai dari retrieval, pemanggilan berbagai tool, eksekusi kode, hingga menghasilkan output. Kondisi ini menciptakan alur kerja yang lebih dinamis sekaligus mengubah kebutuhan komputasi dan lokasi pemrosesan yang diperlukan pada setiap eksekusi.
Infrastruktur yang dibangun hanya untuk satu jenis kondisi berpotensi tidak mampu memenuhi kebutuhan workload berikutnya. Karena itu, fleksibilitas tidak lagi sekadar menjadi fitur, tetapi kebutuhan di setiap lapisan stack, termasuk CPU yang menopang pipeline agentic AI.
Enterprise sebenarnya telah lama menghadapi kebutuhan komputasi dengan karakteristik berbeda. Database, virtualisasi, analytics, web services, technical computing, dan AI membutuhkan profil sistem yang beragam. Agentic AI kini membawa semakin banyak profil workload tersebut ke dalam satu alur kerja.
Sebagai respons terhadap kebutuhan tersebut, white paper terbaru AMD mengevaluasi CPU server AMD EPYC™ 9006 “Venice” Generasi ke-6 pada beragam workload, termasuk general-purpose, enterprise, cloud-native, AI, dan high-performance computing. Evaluasi tersebut tidak hanya mengandalkan sejumlah workload tertentu, tetapi melihat performa prosesor dalam spektrum kebutuhan komputasi yang lebih luas.
Dalam pengujian SPECrate® 2026 Integer, CPU server AMD EPYC™ 9996 diklaim menghasilkan performa per core 1,2 kali dibandingkan platform berbasis NVIDIA Vera¹ dan performa tingkat platform hingga 2,24 kali.²
Sementara itu, pada sejumlah pengujian enterprise dan cloud-native, termasuk server-side Java, OpenSSL, MongoDB, Redis, NGINX, dan transaction processing, AMD melaporkan peningkatan performa antara 2,4 kali hingga 3,7 kali.³
Dibandingkan prosesor Intel® Xeon® 6980P, CPU server AMD EPYC 9996 juga disebut menghadirkan keunggulan performa antara 1,8 kali hingga 3,13 kali pada workload molecular dynamics, materials modeling, dan weather forecasting.⁴ Dalam model rack dengan konsumsi daya 100 kilowatt, CPU tersebut diperkirakan mampu menghasilkan throughput hingga 3,4 kali dibandingkan platform berbasis Vera.⁵
Performa tinggi per core dapat membantu mempercepat pekerjaan yang sensitif terhadap latensi. Di sisi lain, kepadatan core memungkinkan peningkatan concurrency sekaligus throughput pada tingkat rack. Melalui portofolio prosesornya, AMD berupaya memberikan fleksibilitas bagi pelanggan untuk mengoptimalkan kedua aspek tersebut sesuai karakteristik workload tanpa harus menerapkan kompromi yang sama di seluruh armada server.
“Venice” menjadi salah satu bagian dari portofolio tersebut. AMD merancang empat keluarga prosesor yang menggunakan fondasi software yang sama, mulai dari deployment edge dengan 8 core, prosesor flagship hingga 256 core, sampai node host AI dalam skala rack.
Dengan pendekatan tersebut, setiap peran dalam pipeline agentic AI dapat menggunakan profil prosesor yang sesuai dengan kebutuhan tanpa harus menciptakan lingkungan operasi yang terpisah.
CPU AMD EPYC “Venice” saat ini telah memasuki tahap produksi. Sejumlah platform dari OEM utama berada dalam jalur menuju peluncuran, sementara penyedia layanan cloud terkemuka dijadwalkan mulai menerapkannya pada akhir tahun ini.
Seiring perkembangan agentic AI, kebutuhan komputasi diperkirakan akan semakin beragam. Karena itu, kemampuan untuk menyediakan pilihan komputasi yang fleksibel menjadi semakin penting dalam membangun infrastruktur AI yang mampu beradaptasi terhadap perkembangan workload.
























