JAKARTA, MEDIAINI.COM – Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) melaporkan jumlah kasus Covid-19 harian di Indonesia yang saat ini masih menembus angka 40 ribu orang. Hingga kemarin, Jumat (11/2), kasus virus corona di Indonesia bertambah 40.489 orang dalam 24 jam terakhir.
Bila dibandingkan dengan dua hari sebelumnya, Kamis (10/2/2022), jumlah ini sedikit melandai. Kamis lalu, penambahan kasus harian Covid-19 di Indonesia mencapai 40.618 kasus positif.
Dengan demikian, jika dikalkulasikan, jumlah keseluruhan kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 4.708.043 kasus.
Tambahan kasus positif ini berasal dari hasil tes 363.565 spesimen dari 226.502 orang. Dengan demikian, positivity rate harian mencapai 17,88 persen, atau lebih tinggi dari hari sebelumnya.
Sementara itu, jumlah tes harian yang dilaporkan hari ini lebih sedikit ketimbang Rabu kemarin, yang berjumlah 386.063 spesimen dari 238.688 orang. Positivity rate kemarin mencapai 17,02 persen.
Di sisi lain, kabar baik datang dari pasien sembuh yang bertambah menjadi 15.767 orang, sehingga totalnya menjadi 4.250.277 orang. Sedangkan kasus kematian bertambah 100 orang, dan totalnya mencapai 144.958 orang.
DKI Jakarta Terbanyak Covid-19 se-Indonesia
Sementara itu, kasus kematian hingg Jumat malam (11/2) dilaporkan paling banyak di DKI Jakarta (39 jiwa), disusul Bali (13), Jawa Tengah (12), Jawa Timur (10), Jawa Barat (8), Banten (3), DIY, Kalimantan Selatan, Lampung, (2), Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, NTB, Riau, Kalimantan Barat, Bangka Belitung, Jambi, Bengkulu dan Aceh (1).
Sementara itu, jumlah kasus positif tertinggi masih dipegang DKI Jakarta dengan 10.707 kasus. Disusul Jawa Barat dengan 8.945 kasus, Banten 5.218 kasus, dan Jawa Timur 4.506 kasus.
Lalu yang terakhir, kasus aktif bertambah 24.622 orang, yang artinya total ada 312.808 kasus aktif di Indonesia saat ini. Baik yang sedang menjalani isolasi mandiri, isolasi terpusat, maupun yang dirawat di rumah sakit.
Perhatian Khusus untuk Lansia dan Penderita Komorbid
Secara terpisah Kemenkes juga memperkirakan puncak kasus infeksi Covid-19 varian omicron yang diprediksi akan terjadi dalam 1-2 minggu ke depan. Oleh karena itu, Kemenkes meminta agar kelompok masyarakat ini berhati-hati dan tidak melakukan mobilitas yang tinggi.
Direktur Jenderal Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Abdul Kadir menjelaskan, sebagian besar kasus Covid-19 varian omicron di Indonesia bergejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG). Hal ini terjadi lantaran pemerintah gencar melakukan vaksinasi.
“Kita tetap harus berhati-hati. Omicron bisa berbahaya pada lanjut usia (lansia) termasuk orang dengan komorbid (penyakit penyertaan), orang yang belum divaksin, dan anak-anak,” papar Abdul Kadir dalam kanal YouTube Kemenkes yang dikutip pada Jumat (11/2).
Ia menambahkan, kelompok belum divaksinasi rentan terinfeksi karena belum ada kekebalan dalam tubuhnya. Hati-hati lansia dan komorbid dan anak-anak serta mereka yang belum divaksin.
Abdul Kadir pun mengimbau masyarakat lansia, yang memiliki komorbid apalagi memiliki penyakit hipertensi untuk tetap berada di rumah sementara. Jangan ke mana-mana sebab bila terpapar bisa menyebabkan kematian, kritis atau gejala berat.
“Umur lanjut dan komorbid ada hipertensi bisa menyebabkan kematian (bisa terinfeksi omicron). Teman-teman lansia dan ada komorbid stay di rumah,” pungkasnya. (Tivan)






















