JAKARTA, MEDIAINI.COM – Meledaknya kasus COVID-19 disertai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sejak 3 hingga 20 Juli mendatang mengakibatkan masyarakat memborong obat-obatan untuk penanganan COVID-19 dan juga vitamin. Akibatnya, ketersediaan obat-obatan tersebut menjadi langka.
Tidak hanya itu, diakui oleh holding BUMN Farmasi bahwa imbas dari pemberlakuan lockdown di India juga memengaruhi pasokan Remdesivir yang menjadi obat bagi pasien COVID-19.
Oleh karena itu, demi mengatasi kendala impor Remdesivir, Indonesia berencana mengembangkannya di dalam negeri. Tepatnya, obat tersebut diluncurkan pada September mendatang.
“Yang menjadi masalah Remdesivir yang diimpor dari tujuh perusahaan farmasi di India, tapi indianya masih lockdown. Upaya dari kami, produk Remdesivir dilakukan pengembangan dalam negeri yang akan diproduksi Kimia Farma dan Phapros. Diharapkan launching September,” jelas Direktur Utama PT Kimia Farma (Persero) Verdi Budidarmo saat rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR di Gedung DPR, Jakarta, dikutip dari YouTube DPR RI, Rabu (7/7).
Remdesivir merupakan salah satu obat penanganan COVID-19 dan telah penggunaannya telah mendapatkan izin dari otoritas obat BPOM. Disampaikan pula oleh Kepala BPOM Penny Lukito dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR RI beberapa waktu lalu, dikutip dari cnbcindonesia.com,”Obat yang sudah mendapatkan EUA sebagai obat covid ada dua. Baru Remdesivir, Favipiravir.”
Sementara itu untuk ketersediaan bahan baku Favipiravir dan Azithromycin tidak ada kendala.
“Importasi produk Favipiravir dan Azithromycin kondisi ketersediaan bahan baku cukup,” ungkapnya.
PT Kimia Farma sendiri tengah memproduksi dan mendistribusikan tiga varian obat terapi bagi pasien COVID-19, yakni jenis Azithromycin, Favipiravir, dan Remdesivir.
“Kimia Farma melakukan produksi Azithromycin tablet yang diproduksi oleh 33 perusahaan di Indonesia, di mana 19 perusahaan adalah memproduksi Azithromycin generik salah satunya Kimia Farma,” kata Verdi.
Verdi melanjutkan bahwa produksi Azithromycin telah didistribusikan sejak Juni 2021 sebanyak 58 ribu kemasan dus dan setiap dus berisi 20 tablet. Sementara itu, untuk produksi Favipiravir yang ditargetkan bergulir sampai dengan 23 Juli 2021 menjadi tujuh juta tablet.
Di akhir sesi paparan, Verdi mengungkapkan bahwa harga obat terapi COVID-19 telah ditentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan tertanggal pada 2 Juli 2021 lalu dan disertai dengan resep dokter yang berlaku di seluruh kasir di Apotik Kimia Farma. Selain itu, tersedia pula layanan Corner COVID, fasilitas konsultasi bersama dengan dokter mengenai COVID-19.























Discussion about this post