MEDIAINI.COM – Pesatnya kemajuan teknologi tentu berpengaruh terhadap bisnis di semua bidang. Ada yang bisnisnya makin berjaya, tapi ada juga yang tergerus karena tidak bisa melawan arus. Di sini industri penerbitan juga sedikit banyak terpengaruh. Orang-orang memang sudah banyak yang beralih dari membaca buku cetak ke digital. Namun, tidak sedikit juga yang masih tertarik membaca buku versi cetak. Pembaca masih ramai datang ke toko buku membeli karya penulis favorit mereka. Bicara soal dunia penerbitan, ada tiga jenis model bisnis penerbitan. Penerbit mayor, penerbit indie, dan self publishing. Mana yang lebih baik?
Baca juga: Mengenal Bisnis Self Publishing
Tipe Penerbitan, Kelebihan, dan Kekurangannya
Pada dasarnya setiap jenis penerbitan memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Mediaini.com mencoba merangkum kelebihan dan kekurangan yang dimiliki:
-
Penerbit Mayor
Tidak dimungkiri, bisa menerbitkan karya di penerbit mayor masih menjadi prestise tersendiri bagi penulis. Hal ini tidak terlepas dari poin plus yang ditawarkan. Apalagi kalau bisa berada dalam penerbit yang sama dengan penulis idola.
Menerbitkan buku di penerbit mayor berarti karya akan dicetak dalam ribuan kopi. Ada tim ahli yang menggarap naskah dari mulai editing, layout, desain cover, sampai pemasaran. Selanjutnya hasil cetak akan dipasarkan lebih luas di toko buku besar juga marketplace. Peluang untuk terjual semakin lebar.
Hal yang menarik bagi penulis adalah mereka tidak harus mengeluarkan rupiah saat menerbitkan karya. Sebaliknya, mereka justru menerima royalti hasil dari penjualan buku. Hanya saja, royalti di sini tidak sebanyak jika menerbitkan buku sendiri.
Tetapi, memasukkan naskah di penerbit mayor itu harus memiliki kesabaran. Paling tidak, karya dari penulis baru mendapatkan konfirmasi setelah tiga bulan dari saat karya dikirim. Potensi untuk lolosnya pun sedikit karena ada puluhan hingga ratusan karya yang masuk di meja editor setiap harinya. Semuanya harus dikurasi agar produk yang diterbitkan benar-benar bagus dan memenuhi selera pasar.
-
Penerbit Indie
Penerbit indie adalah solusi bagi mereka yang kurang sabar menunggu konfirmasi dari penerbit mayor. Pencetakan karya dilakukan atas permintaan penulis sendiri. Urusan penjualan juga ditentukan penulis. Penulis menerima penuh hasil dari penjualan. Penerbit indie juga memiliki editor, designer, dan layouter. Namun, penulis harus merogoh kantong untuk jasa mereka. Soal keahlian pastinya lebih mumpuni tim yang dimiliki penerbit mayor.
-
Self Publishing
Self publishing hampir menyerupai penerbit indie. Di sini penulis melakukan semua fungsinya dari mulai menulis, mengedit, mendesain, membuat layout, sampai penjualan buku. Keuntungannya, penulis tidak perlu membagikan fee pada penerbit. Semua hasil penjualan utuh masuk ke penulis.
Pengalaman Menerbitkan Buku Lewat Self Publishing
Penulis besar seperti Dee Lestari, Ika Natassa dan Andrea Hirata menerbitkan karyanya di penerbit Mayor. Hasilnya, kita tahu sendiri. Buku yang diterbitkan laku dan menjadi best seller. Tidak berhenti di sana, karyanya pun diangkat ke layar lebar.
Lalu bagaimana dengan penerbit indie dan self publishing? Salah satu penulis yang pernah menerbitkan novel secara mandiri adalah M.K. Wirawan. Dia menerbitkan novelnya yang berjudul Karpinski Street yang merupakan pengalamannya menjadi relawan di Kyrgyzstan.
M.K Wirawan mengaku mendapatkan pengalaman menyenangkan dengan menerbitkan novelnya lewat self publishing. Sebelumnya dia mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan di penerbit mayor dan indie. Setelah menerbitkan karya secara mandiri, dia bisa bebas menuangkan idenya. (Tri Puspitasari)



























Discussion about this post