MEDIAINI.COM – Beberapa lini bisnis memang meraup untung selama pandemi. Selain marketplace, yang meraup untung berlipat-lipat adalah provider telekomunikasi dan internet.
Anjuran Work From Home (WFH) dan sekolah online membuat semua orang membutuhkan jasa provider telekomunikasi. Tak hanya kalangan dewasa saja, namun juga anak-anak usia sekolahan.
Penyedia layanan telekomunikasi, yaitu PT Telekomunikasi Selular atau Telkomsel, mengaku mengalami kenaikan trafik sebesar 22,8% selama Ramadan dan Idul Fitri tahun ini. Secara global, selama pandemi, Telkomsel mengalami peningkatan trafik sebesar 31,7% di 436 Point of Interest (POI) yang tersebar di area-area pemukiman, jalur transportasi utama, serta rumah sakit rujukan Covid-19.
Kenaikan trafik juga dialami dan diakui oleh PT XL Axiata. Peningkatan trafik di XL Axiata mencapai 18% semenjak pandemi berlangsung. Sedangkan XL Home, mengalami peningkatan sebanyak 20%.
Kenaikan Trafik di Seluruh Bisnis Provider
Berdasarkan data yang ditelusuri Mediaini.com, kenaikan trafik juga dialami oleh provider internet lain. Telkom Regional 3 Jawa Barat misalnya, mencatat bahwa penggunaan internet jaringan serat optik Indihome meningkat sebanyak 20-25%. Dengan kenaikan trafik tertinggi ada di bulan Februari hingga April. Setelah itu, grafik melandai.
Dari data yang diperoleh Telkom, peningkatan terbesar bandwidth ada di jalur rapat virtual. Yaitu pada penggunaan berbagai fitur seperti Cloudx, Skype, Zoom, juga Google Meet.
Meski beberapa kantor sudah menerapkan normal baru dan tak seluruh karyawannya melakukan WFH, namun diperkirakan trafik internet akan tetap tinggi. Hal ini ditengarai karena kegiatan sekolah online masih terus berjalan. Demikian menurut data dari Smartfren.
Smartfren sendiri juga mengakui memperoleh peningkatan trafik sebesar 15 – 20 % selama pandemi berlangsung. Perubahan dari masa PSBB ke normal baru, ternyata tak mempengaruhi kondisi trafik. Alias masih tetap tinggi seperti masa PSBB.
Prediksi Kominfo
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), mengatakan bahwa penggunaan internet di kalangan masyarakat meningkat hingga 40% selama pandemi berlangsung. Peningkatan ini, ditengarai Kominfo akan terus stabil meski kondisi sudah menjadi normal baru, dan beberapa masyarakat sudah melakukan aktivitas harian seperti sebelum pandemi melanda.
Hal ini karena berbagai faktor. Pertama, adalah adanya sekolah online yang masih terus berkelanjutan. Kedua, adanya peningkatan lini bisnis di jalur marketplace, yang makin tinggi selepas pandemi menerjang. Ketiga, pembatasan physical distancing membuat semua orang mengambil jalur daring untuk berkomunikasi dengan keluarga atau sahabat yang berada di beda kota.
Karena meningkatnya jalur daring ini, Kominfo selalu menggembar-gemborkan kepada masyarakat untuk pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadinya.
Baca juga : Anti Boros, Ini Provider Internet yang Aksesnya Paling Kencang Lancarkan WFH
Butuh Dua Sateli Lagi
Naiknya trafik dunia daring, membuat Kominfo dan banyak provider layanan telekomunikasi berbenah. Kominfo memaparkan bahwa Indonesia membutuhkan satelit High Throughput Satellites (HTS) dengan kapasitas yang lebih besar dari Satelit Satria. Johnny G. Plate, Menteri Komunikasi dan Informatika, bahkan memaparkan bahwa sampai tahun 2030 Indonesia masih membutuhkan kapasitas satelit yang diproyeksikan mencapai 900 Gbps.
Satelit inilah yang nantinya akan mendukung program layanan WiFi gratis di ribuan titik dapat memiliki kecepatan internet 20 kali lipat dibanding satelit yang ada sekarang ini.
Satelit multifungsi Satria sendiri sebenarnya telah diklaim sebagai satelit terbesar di Asia untuk kelas 150 Gbps dan nomor lima terbesar di dunia jika dilihat dari sisi kapasitasnya.
Program Kominfo sendiri, dengan menggunakan satelit Satria, berusaha membangun internet berkecepatan tinggi ke 149.000 titik daerah. Yaitu 93.900 titik di sarana pendidikan, 47.900 titik di kantor pemerintahan, 3.700 titik di pelayanan Puskesmas dan 3.900 titik di markas polisi dan TNI. (Inten Esty).



























Discussion about this post