JAKARTA, MEDIAINI.COM — 28 Oktober 2026. The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 mencatatkan tonggak bersejarah sebagai edisi terbesar sepanjang penyelenggaraan konferensi ini, dengan total lebih dari 225.000 partisipan dan pengunjung dari 82 negara melalui rangkaian konferensi dan program Creativillage.
Diselenggarakan pada 21–25 Oktober 2026 dengan tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, WCCE 2026 menjadikan Jakarta sebagai ruang pertemuan bagi para pemimpin ekonomi kreatif global, pelaku industri, komunitas lokal, serta masyarakat luas.
Lebih dari sekadar konferensi internasional, WCCE 2026 memperkenalkan pendekatan baru dalam penyelenggaraan pertemuan ekonomi kreatif. Tidak lagi terpusat pada satu lokasi, kegiatan tersebar di berbagai ruang kreatif di Jakarta, sekaligus membuka kesempatan bagi komunitas dan kreator untuk terlibat langsung dalam percakapan global.
Di balik penyelenggaraannya, terdapat satu tujuan utama: memperkenalkan keberagaman kreativitas Indonesia kepada dunia, sekaligus menghubungkan talenta lokal dengan jejaring, kemitraan, dan pasar yang dapat mendukung pertumbuhannya.
Model Baru Konferensi Global: Terdesentralisasi, Berkelanjutan, dan Berbasis Komunitas
Secara tradisional, konferensi internasional cenderung memusatkan seluruh kegiatan di satu lokasi, dengan akses yang sering kali terbatas bagi delegasi terdaftar. WCCE 2026 memperluas pendekatan tersebut dengan menyebarkan aktivitas ke berbagai lokasi dan membuka lebih banyak ruang partisipasi bagi ekosistem kreatif yang lebih luas.Jakarta sebagai kota global memungkinkan hal ini terwujud berkat sistem transportasi publiknya yang unggul dan menjadi bagian integral dari ekosistem kreatif kota.
Konferensi utama mempertemukan pembuat kebijakan, delegasi internasional, pemimpin industri, akademisi, dan pemangku kepentingan ekonomi kreatif.
Sementara itu, Creativillage menghadirkan praktisi kreatif, merek lokal, komunitas, dan masyarakat umum melalui pameran, aktivasi merek, pengalaman interaktif, serta pertunjukan.
Pendekatan terdesentralisasi ini memungkinkan berbagai kelompok masyarakat berpartisipasi sesuai dengan kebutuhan dan minat masing-masing, mulai dari diskusi kebijakan dan jejaring industri hingga pameran produk serta kegiatan berbasis komunitas.
WCCE menghadirkan lebih dari 200 pemikir dan pelaku kreatif melalui empat panggung konferensi dan creativillage, WCCE menjadi ruang pertukaran gagasan dan kolaborasi lintas sektor.
Model ini juga mencerminkan pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam penyelenggaraan acara berskala besar, dengan memanfaatkan ruang kota yang telah tersedia, menghubungkan destinasi kreatif yang sudah berkembang, serta membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha dan komunitas lokal.
Alih-alih memusatkan semua orang di satu tempat, WCCE 2026 membawa percakapan ekonomi kreatif global lebih dekat dengan tempat kreativitas itu tumbuh dan berkembang.
Hasilnya adalah platform partisipasi yang lebih luas, memberikan kesempatan bagi kreator dari berbagai sektor dan latar belakang untuk menjangkau audiens serta pemangku kepentingan di luar jejaring mereka sebelumnya.
Satu Ekosistem, Lebih dari 200 Kolaborator: Mempertemukan Seluruh Elemen Hexahelix
Salah satu prinsip utama WCCE 2026 adalah pendekatan hexahelix, yang mempertemukan enam elemen ekosistem kreatif melalui lebih dari 200 kolaborator, yaitu pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, media, dan agregator.
Pendekatan ini menegaskan bahwa pertumbuhan industri kreatif tidak hanya bergantung pada talenta individu. Industri ini juga membutuhkan dukungan kebijakan, pengetahuan, peluang komersial, platform, audiens, serta jejaring yang menghubungkan berbagai sektor. Diantaranya: Kedutaan Besar Inggris, Kedutaan Besar Prancis, Danantara, Tencent, Pagelaran Sabang Merauke, Indosat, Tale X, dan banyak lainnya.
Melalui kegiatan business-to-business (B2B), pelaku usaha kreatif memperoleh ruang untuk bertemu calon mitra dan menjajaki peluang kerja sama. Keterlibatan atase perdagangan juga memperluas akses pelaku usaha berorientasi ekspor terhadap jejaring perdagangan internasional serta membantu kreator memahami jalur untuk memasuki pasar luar negeri.
Filosofi Gotong Royong yang telah mengakar kuat dalam budaya Indonesia menjadi kekuatan penggerak WCCE. Filosofi ini mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki tujuan dalam hidup dan membawa cahayanya masing-masing. Ketika cahaya-cahaya ini bersatu, semuanya akan menjadi mercusuar yang menerangi jalan menuju dunia yang lebih baik.” — Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Republik Indonesia
Creativillage: Menjelajahi Keberagaman Ekonomi Kreatif Indonesia
Jika WCCE menjadi ruang dialog global, Creativillage menghadirkan keberagaman kreativitas Indonesia dalam bentuk yang nyata, interaktif, dan dapat diakses oleh masyarakat luas.
Berlandaskan tiga pilar utama—pameran, kolaborasi, dan promosi—Creativillage menampilkan karya dan inovasi dari berbagai subsektor, mulai dari arsitektur dan fesyen hingga gim, teknologi imersif, hiburan, musik, serta usaha lokal.
Tiga destinasi Creativillage menghadirkan perspektif berbeda mengenai ekosistem kreatif Indonesia yang saling terhubung.
Village One: Desain, Kriya, dan Identitas Indonesia
Ashta District 8, SCBD, Village One merayakan kekuatan desain dalam menerjemahkan identitas, budaya, dan imajinasi menjadi ekspresi kreatif kontemporer. Ruang ini mempertemukan desainer, arsitek, praktisi fesyen berkelanjutan, studio kreatif, dan merek lokal untuk menunjukkan luasnya lanskap desain Indonesia serta peran pelaku usaha kreatif dalam membawa gagasan khas ke pasar.
Organisasi yang berpartisipasi antara lain Asosiasi Desain Grafis Indonesia (ADGI) dan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Sejumlah desainer fesyen, termasuk Adrie Basuki, Poppy Dharsono, dan Wilsen Willim, turut berkontribusi dalam pameran ini, bersama berbagai merek dan studio seperti Akisa, Boemi, Bell Living Lab, Floorstudio, dan Tuksedo Studio.
Village Two: Teknologi, Hiburan, dan Batas Baru Industri Kreatif
MGP Space, SCBD, Village Two mengeksplorasi pertemuan antara kreativitas, teknologi, hiburan, dan model bisnis baru. Destinasi ini menghadirkan pengalaman interaktif serta pameran yang mencakup gim, teknologi imersif, musik, film, dan inovasi digital. Berbagai pelaku usaha kreatif ditempatkan dalam ekosistem yang berdekatan dengan perusahaan teknologi, platform, dan organisasi yang dapat mendukung pengembangan serta distribusi karya kreatif.
Organisasi yang berpartisipasi antara lain Apple Academy, Grab, Indosat, World Intellectual Property Organization (WIPO), UniPin, Visinema, Tencent, Shopee, dan lainnya.
Village Three: Musik, Komunitas, dan Kreativitas dalam Kehidupan Sehari-hari
WCCE Weekland, SCBD Park, Village Three membawa kreativitas ke ruang publik melalui WCCE Weekland yang berlangsung pada 24–25 Oktober 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Ekonomi Kreatif Nasional. Menghadirkan 88 merek lokal, WCCE Weekland menggabungkan bazar kreatif, instalasi seni, pertunjukan musik, pengalaman kuliner, produk lokal, dan berbagai kegiatan komunitas.
Destinasi ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak hanya tumbuh melalui institusi formal atau kegiatan industri, tetapi juga melalui kreator independen, wirausaha lokal, talenta baru, dan komunitas yang terus menghadirkan gagasan menjadi pengalaman yang dapat dinikmati bersama. Bersamaan dengan doa bersama dan penutupan Creativillage, konser musik diadakan dengan kehadiran Marbles, SEEN, dan Moluccan Soul.
Dari Indonesia untuk Dunia: Visi Jakarta untuk Agenda Global yang Berkelanjutan
WCCE 2026 juga memperkuat peran Indonesia dalam percakapan internasional mengenai masa depan ekonomi kreatif. Diinisiasi oleh Indonesia di Bali pada 2018, konferensi ini berlanjut ke Dubai pada 2021, Bali pada 2022, Tashkent pada 2024, dan kini Jakarta pada 2026.
Salah satu hasil penting dari penyelenggaraan di Jakarta adalah adopsi Jakarta Vision on Creative Economy, yang menetapkan arah bersama bagi kerja sama internasional di sektor ekonomi kreatif.
Visi ini mencakup sejumlah prioritas, antara lain teknologi dan transformasi digital, keberlanjutan dan desain sirkular, ekosistem kreatif yang inklusif, serta perlindungan kekayaan intelektual. Visi tersebut akan dibawa ke dalam diskusi global di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada akhir tahun ini.
Konferensi ini juga mengumumkan Glasgow, Inggris, sebagai tuan rumah WCCE 2028, melanjutkan perkembangan platform internasional ini ke tahap berikutnya.
Ekonomi Kreatif Indonesia Lebih Besar dari Satu Industri
Kekuatan kreatif Indonesia terletak pada keberagamannya. Kreativitas tersebut hadir dalam kriya tradisional dan fesyen kontemporer, musik independen dan hiburan digital, arsitektur dan budaya kuliner, gim dan teknologi imersif, hingga usaha kecil dan komunitas yang terus menemukan cara baru untuk menciptakan nilai.
Berbagai ekspresi tersebut tidak harus bersaing untuk mendefinisikan satu identitas kreatif Indonesia. Sebaliknya, semuanya bersama-sama memperlihatkan kekayaan ekosistem yang dibentuk oleh beragam daerah, disiplin ilmu, generasi, dan perspektif.
Pesan WCCE 2026 jelas: ekonomi kreatif Indonesia bukanlah satu cerita. Ekonomi kreatif Indonesia adalah ribuan cerita, gagasan, dan kemungkinan yang bersatu untuk menciptakan masa depan yang lebih besar.






















