MEDIAINI– Kota Semarang tengah bertransformasi menjadi kota yang lebih tangguh dan adaptif, namun resiliensi sejati hanya dapat dicapai jika seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali, terlibat aktif dalam pembangunan. Salah satu tantangan terbesar dalam mewujudkan kota inklusif adalah adanya kesenjangan informasi dan stigma terhadap penyandang disabilitas yang masih mengakar di ruang publik.
Hadirnya Kendis (Kenali Disabilitas) sebagai inovasi media edukasi berbasis flashcard menjadi angin segar yang menjembatani hambatan komunikasi tersebut. Kartu ini dirancang bukan sekadar sebagai alat permainan, melainkan sebagai instrumen strategis untuk membongkar sekat-sekat eksklusi dan membangun kesadaran kolektif warga Semarang akan pentingnya interaksi yang setara dan bermartabat.
Digagas oleh tim Gendis (Gerakan Edukasi Nyata Disabilitas Inklusif Semarang) yang terdiri dari Talitha Ulfa Raissa, Gea Erlita dan Swita Amallia Hapsari, warga Semarang yang ingin berkontribusi untuk resiliensi sosial dalam isu disabilitas.
“Kartu kenali disabilitas ini jadi salah satu pendekatan pembelajaran yang partisipatif dan menyenangkan, menjauhkan kesan kaku atau menggurui dalam isu disabilitas. Dengan format kartu yang ringkas dan visual yang menarik, diharapkan mampu menyederhanakan konsep-konsep etika berinteraksi dan pengenalan ragam disabilitas yang selama ini dianggap kompleks,”ujar Talitha mewakili timnya saat diwawancara Mediaini.
Kendis jadi Edukasi Inklusi untuk Ruang Layanan Publik
Flashcard kenali disabilitas ini dapat digunakan di ruang-ruang layanan publik hingga pertemuan tingkat RT/RW dan dapat menjadi pemicu dialog yang sehat.
Ditambahkan oleh Swita Amallia Hapsari anggota Gendis yang mengungkapkan jika kartu kenali disabilitas dibuat dalam bentuk digital dengan barcode yang mudah dipindai serta dalam bentuk fisik yang juga bisa mudah dikantongi agar fleksibel dibawa kemanapun.
“Kartu kenali disabilitas didesain secara digital dan fisik agar bisa jadi opsi tentunya selain mudah diakses juga flashcard dalam bentuk fisiknya ini dalam ukuran yang ramah untuk dibawa. Lewat flashcard ini harapan tim Gendis warga memiliki kelenturan sosial untuk saling mendukung dan mengakomodasi kebutuhan satu sama lain dalam semangat guyub khas Semarang,”jelasnya.
Sebagai ujicoba penerapannya, tim Gendis mengunjungi Roemah Difabel Semarang dan mengajak salah satu pengurus Yayasan Roemah Difabel Indonesia, Theresiana Rina, untuk mencoba menggunakan flashcard ini.
“Informatif ya pengenalan disabilitas yang dimasukkan dalam kartu fisik atau bisa dipindai kalau mau cek dalam bentuk digital, visualnya menarik, sederhana tapi praktis. Bisa jadi media edukasi yang mudah untuk dibawa juga oleh pengurus kalau mau sosialisasi kemanapun,”katanya yang juga menjadi penanggung jawab kelas advokasi di RD Puspowarno.
Penggunaan kartu kenali disabilitas secara masif di berbagai sektor dapat mempercepat terciptanya ekosistem inklusi yang organik di Jawa Tengah. Inovasi ini mengubah paradigma “kasihan” menjadi “kesetaraan”, di mana masyarakat mulai melihat penyandang disabilitas sebagai subjek yang berdaya. Ketika setiap individu di Semarang memiliki literasi disabilitas yang baik, maka risiko diskriminasi dapat ditekan secara signifikan, menciptakan lingkungan yang aman bagi semua orang untuk berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan kota.
Secara teknis, efektivitas flashcard ini terletak pada kemampuannya untuk masuk ke berbagai lini kegiatan pemberdayaan masyarakat. Integrasi kartu kenali disabilitas ke dalam program literasi digital dan pelatihan komunikasi publik di Semarang memastikan bahwa pesan-pesan inklusivitas tersampaikan secara konsisten dan terukur. Flashcard ini berfungsi sebagai panduan praktis yang mudah dibawa dan dipelajari kapan saja, menjadikannya solusi efisien di tengah keterbatasan waktu sosialisasi tatap muka yang mendalam. Dengan dukungan data dan narasi yang tepat pada setiap kartunya mampu menjadi basis data pengetahuan lokal yang relevan dengan dinamika sosial warga Semarang, memperkuat identitas kota sebagai kota yang ramah dan terbuka bagi keberagaman.
Pada akhirnya, keberlanjutan inovasi dari tim Gendis ini diharapkan mampu membentuk masyarakat Semarang yang tidak hanya resilien terhadap bencana atau tantangan ekonomi, tetapi juga resilien terhadap krisis kemanusiaan dan intoleransi.























