SEMARANG, MEDIAINI.COM – Perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) mengubah wajah dunia jurnalistik secara drastis. Hal ini mengemuka dalam sebuah diskusi bertajuk “Menjadi Wartawan di Era Media Sosial dan AI” dengan menghadirkan Wicaksono, atau yang akrab dikenal sebagai Ndorokakung, Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Digital (KomDigi).
Dalam paparannya, Wicaksono menekankan bahwa peran wartawan tetap relevan meski arus informasi kini sangat cepat dan seringkali tidak terverifikasi. “Tugas utama wartawan adalah menjaga kualitas informasi. Di tengah derasnya banjir data di media sosial, wartawan harus menjadi penyaring sekaligus penjaga kredibilitas,” ujarnya, pada saat memberikan materi Sharing wtith Media yang diadakan oleh Telkom, Kamis (2/10) di Gedung Telkom Jalan Pahlawan No. 10, Semarang.
Menurutnya, media sosial menghadirkan dua sisi mata uang: di satu sisi menjadi sarana distribusi berita yang lebih cepat dan menjangkau banyak orang, namun di sisi lain menjadi ladang subur bagi hoaks dan disinformasi. “AI bisa membantu proses riset dan penulisan, tapi wartawan harus punya integritas, empati, dan kepekaan sosial yang tidak bisa digantikan oleh mesin,” tambahnya.
Acara yang dihadiri oleh puluhan jurnalis muda, mahasiswa komunikasi, dan pegiat literasi digital ini juga membahas tantangan etika dalam penggunaan AI di ruang redaksi. Wicaksono menekankan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan manusia. “AI hanya alat. Wartawanlah yang menentukan nilai berita, sudut pandang, dan bagaimana menyampaikannya ke publik,” jelasnya.
Diskusi interaktif berlangsung hangat. Banyak peserta menanyakan bagaimana menjaga independensi media di tengah tekanan algoritma media sosial dan kepentingan politik. Wicaksono menegaskan bahwa prinsip dasar jurnalistik—akurat, berimbang, dan independen—harus tetap menjadi pegangan utama.
Dengan kehadiran teknologi baru, dunia jurnalistik menghadapi tantangan besar sekaligus peluang emas. “Era ini bukan akhir dari jurnalisme, melainkan awal babak baru. Wartawan yang mampu beradaptasi dengan media sosial dan AI akan tetap menjadi pilar demokrasi,” pungkasnya.






















