JAKARTA, MEDIAINI.COM – Seiring dengan berkembangnya teknologi di bidang kedokteran, berbagai metode pengobatan ditemukan guna menangani pasien yang didiagnosa mengidap penyakit yang dinilai mematikan, termasuk kanker.
Jika sebelumnya penanganan kanker menggunakan metode kemoterapi, Mandaya Hospital Group menawarkan sebuah inovasi dengan mendirikan Pusat Kedokteran Nuklir.
Benar sekali, Anda tidak salah membaca: nuklir. Hanya saja, nuklir dalam dunia kedokteran tidak diidentikan dengan senjata biologis pemusnah layaknya bom Hiroshima dan Nagasaki, karena hal itu sama sekali tidak didapati pada kedokteran nuklir yang ditawarkan rumah sakit yang berada di kawasan elit, Metland Cyber City, Kota Tangerang.
Spesialis Onkologi sekaligus Ketua Perhimpunan Kedokteran Gigi Indonesia, dr. Eko Purnomo mengatakan, secara sederhana kedokteran nuklir merupakan pelayanan kesehatan penunjang dan atau terapi yang menggunakan sumber radiasi terbuka dari disintegrasi inti radionuklida.
Terkait prosedurnya, kedokteran nuklir terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu pelayanan diagnostik dan pelayanan terapi.
“Pelayanan diagnostik untuk mengetahui fungsi organ tubuh dengan menyuntikkan atau meneteskan, minum dosis kecil radioformaka, dilanjutkan dengan pencitraan melalui alat scan Gamma Camera atau PET. Sedangkan pelayanan terapi menggunakan radiofarmaka untuk diminum (pasien), ditempel di kulit atau disinari netron,” ujar dr. Eko saat ditemui di Mandaya Hospital Group, Tangerang, pada Jumat (10/6/2022).
dr. Eko menambahkan, meski kedokteran nuklir merupakan metode pengobatan paling mutakhir saat ini untuk penanganan tiroid, namun belum banyak yang tahu, kalau Indonesia hanya punya 12 rumah sakit yang punya fasilitas kedokteran nuklir.
“Jadi untuk Indonesia terbilang masih baru. Mandaya Hosipital menjadi satu-satunya rumah sakit di Provinsi Banten yang punya layanan ini,” imbuhnya.
Aman dan Bisa Mendiagnostik Menyeluruh
dr. Eko menggarisbawahi, kedokteran nuklir aman bagi pasien, tenaga kesahatan, maupun lingkungan. Hal ini disebabkan oleh prosedur dari hulu ke hilir yang akan memastikan keamanan penggunaannya.
“Kenapa aman? Karena kedokteran nuklir itu tidak berdiri sendiri. Kami sebagai dokter dan tenaga kesehatan adalah eksekutornya, tapi alat-alat medis, itu kan sudah melewati proses verifikasi dari pihak-pihak terkait, ada dari BRIN, BPOM, dan lain-lain. Kami juga terikat dengan peraturan internasional,” ungkap dr. Eko meyakinkan.
Dibandingkan dengan kekhawatiran tentang penggunaan kedokteran nuklir, lanjut dr. Eko, metode ini justru menawarkan banyak manfaat, baik bagi dokter maupun pasien.
“Ini (kedokteran nuklir) memudahkan dokter untuk mendiagnosa titik penyakit secara detail, misalnya lokasi kanker tiroid atau payudara, sehingga bisa mempermudah tindakan seandainya harus dioperasi,” kata dr. Eko.
Sedangkan bagi pasien, mereka tidak harus menghadapi efek samping layaknya kemoterapi, atau berdampak bagi masa depan pasiennya.
“Jadi alat dan obat yang dipakai itu tidak membuat pasien mengalami kerontokan (rambut), mereka juga masih bisa hidup normal, termasuk memiliki keturunan,” ungkapnya.
Karena bisa mendiagnosa secara mendetail, kedokteran nuklir pun bisa mengidentifikasi sejumlah penyakit dengan akurat, antara lain kanker tiroid, kanker payudara, sendi, alzheimer, jantung, liver, dan penyakit lainnya.
Lebih Murah dan Efektif
Satu asumsi lainnya yang ternyata salah, adalah soal biaya. Karena merupakan sebuah metode baru, banyak yang beranggapan bahwa biaya pengobatan kedokteran nuklir sangat mahal.
Namun pada kenyataannya, itu berbanding terbalik. Biaya pengobatan kedokteran nuklir lebih murah hingga 70 persen ketimbang kemoterapi.
“Kita ambil contoh deh kemoterapi. Rata-rata Rp 100 jutaan. Tapi dengan kedokteran nuklir, itu hanya Rp 30 jutaan saja, tanpa harus mengalami kebotakan,” imbuhnya.
Selain lebih murah, efektivitas pengobatan kedokteran nuklir juga lebih tinggi. Karena bisa diidentifikasi lebih awal, tingkat keberhasilannya mencapai 90 persen.
“Kami mencari sumber (sel kanker) sampai ke akar-akarnya untuk memastikan penyakit ini telah habis dari tubuh pasien. Sejauh ini, 90 persen berhasil,” tambahnya.
Meski begitu, dr. Eko tidak bisa menjanjikan penyakit kanker itu tidak akan kembali menyerang pasien.
“Semuanya kembali ke kebiasaan pasien itu sendiri. Kami sebagai dokter kan menyarankan apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Sisanya tergantung bagaimana pasien menjalani hidup mereka,” pungkasnya. (Tivan)





















