JAKARTA, MEDIAINI.COM – Lebih dari dua tahun terakhir, dunia tengah dilanda pandemi Covid-19. Lantas, kapan pandemi Covid-19 berakhir?
Pertanyaan tersebut bisa saja keluar dari masyarakat yang jenuh hidup dalam pandemi. Kabar baiknya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai berani untuk memperkirakan akhir pandemi.
Dalam situs resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi kesehatan tertinggi di dunia itu mengeluarkan prediksi yang menyebut bahwa pandemi Covid-19 bisa diakhiri pada tahun 2022, asalkan jumlah orang yang telah divaksin sesuai dengan target yang mereka tentukan.
Sekadar informasi, WHO menargetkan sekitar 70 persen populasi dunia seharusnya sudah mendapat vaksin pada pertengahan tahun 2022. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan bahwa untuk mencapai target tersebut, semua negara harus bekerjasama agar cakupan vaksinasi bisa disalurkan secara merata.
“Inilah saatnya untuk mengatasi nasionalisme jangka pendek. Lindungi populasi dan ekonomi dari varian masa depan dengan mengakhiri ketidakadilan suplai vaksin global,” ungkap Tedros dalam situs resmi PBB.
“Kita memiliki 185 hari untuk mencapai target 70 persen di awal Juli 2022. Dimulai dari sekarang,” imbuhnya.
WHO juga mengingatkan, Covid-19 varian Delta dan Omicron masih menjadi ancaman utama yang meningkatkan kasus orang sakit dan kematian. Bahkan, WHO juga masih khawatir Omicron yang bersirkulasi bersamaan dengan Delta bisa menjadi pemicu kembali pandemi Covid-19 gelombang berikutnya.
Namun seandainya mayortitas populasi dunia telah mendapat perlindungan dari vaksin, seharusnya jumlah kasus positif dan kematian akibat Covid-19 bisa ditekan, meskipun kemungkinan tidak akan hilang sepenuhnya, melainkan menurun menjadi endemi.
“Dunia harus menerima bahwa Covid-19 bersama kita di masa mendatang, bahkan jika mungkin untuk mengakhiri fase akut pandemi tahun ini,” sebut Tedros.
Meski begitu, Tedros tetap mempertimbangkan kemungkinan lain yang akan terjadi pada tahun ini.
“Berbahaya untuk berasumsi bahwa Omicron akan menjadi varian terakhir, atau bahwa kita berada di akhir pandemi. Sebaliknya, secara global, kondisinya ideal untuk lebih banyak varian muncul,” tutup Tedros.
Eropa Merdeka Covid-19 Lebih Dahulu?
Pada kesempatan yang sama, WHO juga memperkirakan bahwa pandemi Covid-19 akan terlebih dahulu meninggalkan daratan Eropa.
Direktur WHO Eropa Hans Kluge mengatakan, dengan tingkat vaksinasi yang tinggi di Benua Biru, Omicron digadang akan menjadi varian Covd-19 terakhir yang melanda Eropa.
“Konteks ini memberi kita kemungkinan untuk ketenangan jangka panjang. Ini bukan untuk mengatakan bahwa (pandemi) sekarang sudah berakhir, tetapi ada peluang tunggal untuk mengendalikan transmisi (penularan),” ujar Kluge.
Seandainya ada varian baru pun, lanjut Kluge, para ilmuwan sudah mulai terbiasa menyiapkan formula vaksin yang disesuaikan dengan mutasi virus corona.
“Bahkan bila ada varian yang lebih ganas (daripada Omicron), adalah mungkin kita menanggapi varian baru tanpa harus meng-install ulang (merancang kembali) jenis tindakan yang kita perlu lakukan sebelumnya,” imbuh Kluge.
Oleh karena itu, Kluge memperingatkan agar seluruh negara tetap mengejar cakupan vaksinasi dan tetap melaksanakan pengawasan untuk mendeteksi varian baru.
Negara Eropa Mulai Menanggalkan Masker
Di saat WHO memberikan harapan bebas Covid-19, sejumlah negara di Eropa mulai memperbolehkan masyarakatnya untuk tidak mengenakan masker.
Misalnya Swedia yang baru saja mengambil langkah untuk menghapus sebagian besar pembatasan virus corona, menetapkan 9 Februari sebagai tanggal saat pandemi Covid-19 memasuki ‘fase yang sama sekali baru’.
Ibu kota Swedia, Stockholm, akan menyudahi pembatasan bar dan restoran yang harus tutup pada pukul 23.00 waktu setempat, lalu mereka juga tidak akan membatasi jumlah pengunjung.
Selain itu, sertifikat atau tiket vaksin untuk acara dalam ruangan akan dicabut dan masker wajah tidak lagi direkomendasikan di transportasi umum yang padat.
“Pandemi belum berakhir, tetapi kita memasuki fase yang sama sekali baru,” ujar Perdana Menteri Swedia Magdalena Andersson.
Sekadar informasi, Swedia menjadi negara yang tidak memberlakukan lockdown selama pandemi Covid-19. Dengan lebih dari 16.000 kematian sejauh ini, jumlah kematian di negara tersebut tak berbeda jauh dengan rata-rata kematian akibat Covid-19 di Eropa, namun jauh lebih tinggi daripada negara Skandinavia lainnya, seperti Norwegia, Finlandia, dan Denmark yang menerapkan pembatasan.
Selain Swedia, beberapa negara Eropa lainnya juga mengambil kebijakan serupa. Inggris dan Irlandia menyatakan berhenti melakukan pembatasan.
Lalu ibu kota Denmark, Kopenhagen, pada Selasa pekan lalu telah mencabut sebagian besar pembatasan Covid-19 domestik, diikuti kemudian oleh Norwegia.
Selanjutnya pada Rabu lalu, Prancis melonggarkan beberapa pembatasan yang diberlakukan untuk mengekang lonjakan Covid-19 terbaru. Pihak berwenang berharap, penurunan kecil dalam jumlah kasus harian yang besar akan segera mengurangi tekanan pada rumah sakit yang terbebani.
Bagaimana dengan Indonesia?
Di saat negara-negara Eropa mulai menanggalkan maskernya sebagai simbol ‘merdeka’ dari pandemi Covid-19, Indonesia masih berkutat dengan produksi vaksin buatan lokal dengan nama Vaksin Merah Putih.
Sejauh ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menyetujui uji klinik fase 1 dan 2 vaksin Merah Putih yang dikembangkan oleh Universitas Airlangga bersama PT Biotis Pharmaceutical Indonesia.
“Berdasarkan itu semua BPOM menerbitkan PPUK vaksin Merah Putih yang dikembangkan peneliti Unair dan Biotis,” ujar Kepala BPOM Penny Lukito dalam konferensi pers virtual pada Senin (7/2).
Sebelum memberikan persetujuan uji klinik, lanjut Penny, BPOM juga telah mempertimbangkan data studi praklinik atau non klinik.
Berdasarkan hasil studi tersebut, vaksin terbukti aman dan dapat ditoleransi, yakni tidak terdapat kematian dan kelainan pada hewan uji. Sedangkan jika ditinjau dari sisi imunogenisitas, terdapat respons imun yang menunjukkan pembentukan antibodi setelah pemberian vaksin pada hewan uji.
“BPOM telah memberi pendampingan sejak awal dari penelitian dan pengembangan vaksin Merah Putih, mulai dari seed vaksin, pengembangan pada laboratorium pra klinik, hewan uji, scalling up dari skala lab, jadi upstream sampai downstream, kemudian formulasi dan fill and finish, mulai dari bahan baku sampai produk jadi,” sahut Penny.
Selanjutnya, ada 90 subjek yang akan diikutsertakan pada uji klinik tahap 1 dan 405 subjek pada uji klinik tahap 2 yang diberikan kepada tiga kelompok dengan dosis yang berbeda.
Seandainya rencana berjalan mulus, uji klinik fase 3 akan dilakukan pada April 2022 setelah didapatkan hasil interim penelitian.
“Selanjutnya setelah diproses hasil interim itu dapat berproses ke BPOM dan mendapat persetujuan emergency use authorization (EUA) kira-kira pertengahan Juli 2022,” tutup Penny.
Sumber Gambar : ilustrasi Pixabay






















