MEDIAINI.COM – Patchwork masih jadi daya tarik di dunia fashion. Teknik menjadit garmen dengan cara menyatukan potongan kecil kain ataupun pola tertentu ini bahkan digunakan desainer dunia. Banyaknya sampah kain yang mencapai berkarung-karung itu lantas dijadikan banyak karya dari tangan-tangan dingin perancang busana. Kain sisa atau perca ini mulai banyak dicari kembali dan dijadikan sebuah koleksi utuh.
Purana Tetap Fun dan Colorful Lewat Koleksi dari Kain Perca
Nonit Respati, founder dan creative director Purana, membeberkan jika koleksinya kali ini terinspirasi dari kain perca miliknya yang sangat banyak. Purana berkolaborasi dengan Hakim Satriyo, seorang fotografer fashion, meluncurkan koleksi terbarunya untuk Spring/Summer 2021.
Mengusung motif dan warna yang berani melalui potongan sederhana, jadilah 25 desain busana mulai dari kemeja, celana, setelan, blazer hingga gaun. Purana tetap mempertahankan jatidirinya yang fun dan colorful. Koleksinya itu dibanderol mulai Rp 999 ribu hingga Rp 1,5 juta.
Ide Bisnis dari Kain Perca, Apa Saja?
Memadukan potongan kain perca dengan bahan-bahan lainnya bisa menjadikan produk yang bernilai jual tinggi. Kita bisa mengaplikasikannya menjadi produk fashion. Seperti kemeja, celana, outer, gaun dan jaket. Kain perca juga bisa dibuat bantal kain untuk sofa. Bantal kain dari kain perca selain lebih murah juga cantik hasilnya. Anda hanya perlu menjahit sesuai pola, lalu isi bantal dengan kapas atau dakron supaya lebih empuk.
Tas juga bisa jadi menarik jika dibuat dari kain perca. Lebih cantik, murah, dan tetap berfungsi. Semakin besar ukuran tas, maka semakin banyak pula kebutuhan kain percanya.
Baca juga: 7 Akun Instagram yang Tawarkan Kain Perca Cantik dan Murah
Cara Memulai Usaha, Strategi, dan Kebutuhan Modalnya
Setelah menyiapkan modal untuk membeli bahan baku dan perlengkapan jahit, pelajari dan teruslah berlatih membuat kreasi produk. Setelah dipastikan bahwa produk karya Anda siap jual, pasarkan seluas-luasnya. Untuk memperlancar bisnis ini, rekrutlah pegawai yang kreatif dengan ulet serta terampil agar produk tetap terjaga kualitasnya.
Strategi memasarkan produk olahan dari kain perca ini bisa dilakukan dengan berbagai cara. Yang pertama tentu menawarkan secara langsung ke konsumen. Hal ini bisa dilakukan dengan mendistribusikan barang ke pasar atau mal. Kedua, lakukan promosi lewat media sosial untuk menjaring pasar lebih luas.
Analisa Usaha
Kebutuhan dana untuk membeli peralatan diperkirakan sebesar Rp 2,2 juta, lalu membeli perlengkapan Rp 330 ribu, sedangkan biaya operasionalnya Rp 2 juta. Sementara pendapatan per bulan mencapai Rp 3,8 juta. Maka perhitungan laba bersihnya adalah pendapatan dikurangi dengan biaya operasional. Jadi labanya adalah Rp 1,8 juta.
Sukses Setelah Berkreasi dengan Kain Perca
Danu Riwayat – Aaya Batik Jogja
Danu Riwayat memiliki usaha dari kain perca bernama Aaya Batik Jogja. Dia memulai bisnisnya dengan modal Rp 500 ribu. Kini omzetnya jadi Rp 12 juta/bulan. Danu mengolah kain perca jadi aneka tas yang dibanderol harga mulai Rp 20 ribu sampai Rp 60 ribu. Produknya dibuat dalam jumlah terbatas, pelanggan pun merasa lebih puas karena tidak banyak yang menyamai produknya.
Findia Widyastuti
Findia Widyastuti, pelaku bisnis rumahan yang membuat apron dari kain perca ini mendulang cuan hingga Rp 15 juta/bulan. Memulai usaha sejak 2010, Findia senang memadukan kain katun polkadot dengan kain perca aneka motif. Motif polkadot pun akhirnya jadi ciri khas produk apronnya.
Tak hanya apron, dia juga menciptakan aneka produk seperti bantal, tempat tisu, tas, souvenir, dan lain-lain. Per produknya dihargai mulai Rp 55 ribu sampai Rp 250 ribu. Usaha rumahannya yang berada di Pasar Minggu, Jakarta Selatan inipun telah mencapai pasar Malaysia. Findia memanfaatkan media online untuk menyasar pangsa pasar luar kota hingga luar negeri.
Haneda Ananta & Endah Sutjihati – Caremommies
Haneda Ananta dan Endah Sutjihati adalah dua perempuan dibalik suksesnya usaha kain perca bernama Caremommies. Menggeluti usaha di bidang limbah tekstil, kedua ibu ini juga mengajak para napi di Rutan Salemba dan Cipinang. Keduanya dinobatkan sebagai Social Entrepreneur di ajang Lomba Wanita Wirausaha BNI-Femina 2010.
Keduanya memulai usaha sejak 2007 dengan modal Rp 500 ribu untuk membeli bahan, alat jahit, dan membayar tenaga lepas. Haneda yang jago mendesain karena merupakan lulusan Desain Grafis Trisakti, menyatu dengan Endah yang ahli dibidang jahit dan sulam. Produknya pun bervariasi, sampai sekarang sudah ada lebih dari 30 jenis yang dijual seharga mulai Rp 10 ribu sampai Rp 2,5 juta. Omzetnya per bulan bisa mencapai Rp 20-25juta. (Gusti Bintang K.)
Sumber Foto Ilustrasi: Pixabay



























Discussion about this post