MEDIAINI.COM – Meski sudah sering diperbincangkan, namun belum banyak yang mengerti apa itu panel surya. Sesuai namanya, ini adalah teknologi yang menggunakan bantuan surya atau matahari untuk mendapatkan energi baru. Secara gamblangnya, panel surya mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik menggunakan proses yang dinamakan photovoltaic.
Energi listrik yang sudah ada akan disimpan dahulu dalam wadah layaknya batere. Sehingga meski hari hujan atau matahari sudah tenggelam, sistem kelistrikan menggunakan panel surya tetap bisa berjalan.
Dilihat sepintas, panel surya memang menguntungkan. Karena kita tak mengeksplorasi kekayaan bumi lagi untuk mendapatkan aliran listrik. Kita justru memanfaatkan cahaya matahari yang bisa diambil gratis dan sebanyak-banyaknya, tanpa “melukai” bumi.
Angka Pemakaian Masih Rendah
Dalam pemakaian rumah per rumah, panel surya ini akan tersambung ke instalasi listrik. Begitu ada pemakaian daya, maka energi dari panel surya dulu yang akan dipakai hingga habis. Ketika daya dalam cadangan batere panel surya habis, barulah instalasi listrik akan ganti memakai aliran dari PLN.
Meski memiliki banyak keuntungan, yang terutama membuat masyarakat lebih hemat, namun sayang angka pemakaian listrik panel surya di perumahan-perumahan rakyat masih sangat rendah.
Menurut penelusuran Mediaini.com, pemanfaatan energi surya baru sekitar 0,05% dari potensi maksimal yang terbentang. Angka ini diperoleh dari Direktur Perencanan dan Pembangunan Infrastruktur dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, M. Arifin.
Hal ini sangat disayangkan, mengingat Indonesia berada di lajur khatulistiwa yang tentu saja kaya akan sinar matahari.
Mulai Marak di Kota-kota Besar
Solar panel atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) memang makin banyak diperbincangkan meskipun penggunaannya sendiri masih terpusat di kota-kota besar.
Untuk menyuport penggunaan PLTS, seluruh gedung di lingkungan Kementerian ESDM sudah menggunakan atap solar panel. Bahkan Kementerian ESDM pun menyerukan dan mengeluarkan surat instruksi agar seluruh kantor kementerian, lembaga non kementerian, dan kantor-kantor pemerintahan daerah juga menggunakan solar panel.
FX Sutijastoto, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, mengatakan bahwa divisinya terus mendorong pertumbuhan PLTS untuk digunakan di masyarakat umum. Sehingga nantinya ada tambahan kapasitas PLTS 300 MW per tahun dan target 23% EBT di 2025 bisa tercapai.
Tercatat, angka penggunaan PLTS atap di 2019 mencapai 1.580 rumah atau pelanggan. Angka ini disinyalir akan terus naik seiring kesadaran masyarakat mengubah pola hidup menjadi ramah lingkungan. Tentu saja, ini membuka peluang bisnis yang cerah dan berpotensi menggendutkan pundi-pundi.
Berbagai Peluang Bisnis
Penggalakan program dari pemerintah, melahirkan peluang bisnis yang tidak main-main. Masyarakat atau pelaku bisnis bisa masuk ke ranah solar panel dan memilah industri apa yang paling cocok dijalankan yang sesuai dengan skill.
Pertama, pelaku bisnis bisa menjual atau menjadi distributor sistem penghangat, sistem pendingin, pompa solar, solar gadget, charger solar dan berbagai produk yang menggunakan tenaga surya sebagai sumber energi.
Atau, pelaku bisnis bisa menjadi distributor produk-produk sekunder bagi mereka yang sudah memasang polar panel sebelumnya. Produk sekunder ini biasanya berfungsi sebagai pelengkap, atau alat maintenance dari alat yang sudah terpasang. Seperti alat solar backup generator, yang berfungsi memproduksi listrik lebih banyak lagi.
Lini bisnis berikut, Anda bisa menjajal jadi pihak ketiga, yang masuk ke ranah pemasangan dan pemeliharaan panel surya. Jasa pemerliharaan alat dan produk adalah jasa yang menjanjikan di masa depan. Lantaran tidak semua pelanggan solar panel tahu seluk beluk tenaga surya dengan benar.
Yang terakhir, yaitu buat pelaku bisnis yang memiliki modal besar dan malas untuk terjun di ribetnya perkara teknik dan operasional. Di sini pelaku bisnis bisa memilih jadi investor dalam proyek tenaga surya.
Cerita Sukses Pelaku Bisnis
Peluang bisnis di dalam solar panel masih terbentang luas dan cerah. Salah satunya karena belum banyaknya pemain bisnis yang terjun di dalamnya. Beberapa cerita sukses pun mudah digali di sini.
Menurut penelusuran Mediaini.com, banyak pelaku usaha solar panel yang kebanjiran pesanan. Seperti Suryanto Edward, yang sudah dua tahun mengelola Royal PV. Dalam satu bulan, ia bisa memasang antara 20 hingga 30 solar cell dengan omzet melesat hingga 90 juta.
Ahmad Kurnain, yang juga bergelut di bisnis solar panel, menyebut bahwa usaha ini tak hanya diminati oleh pasar perusahaan saja. Namun juga pasar perseorangan atau perumahan-perumahan rakyat.
Lahirnya Startup dari Kalangan Milenial
Melihat prospek bisnis yang cerah, kaum milenial pun bergerak cepat merangsek masuk ke lini solar panel. Hal ini dikatakan oleh Agung Pribadi, Kepala Biro Komunikasi dari Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM. Bahwa terbukanya peluang Energi Baru Terbarukan (EBT) membuat banyak orang mengembangkan startup energi.
Salah satu startup yang mulai dikenal luas adalah Warung Energi, perusahaan yang mengembangkan pembangkit listrik tenaga hybrid antara surya dan angin. Ke depannya mereka berharap bisa membangun dan menyediakan produk-produk penyedia listrik berbasis energi terbarukan lain, tak hanya solar system. (Intan Esty)
Baca juga : 7 Startup EBT Lokal yang Menginspirasi Generasi Muda untuk Peduli Lingkungan



























Discussion about this post