SEMARANG, MEDIAINI.COM – Warisan budaya tidak akan pernah kehilangan makna selama masih ada generasi yang bersedia mengenal, mempelajari, dan melestarikannya. Semangat tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Music Kolintang Competition Piala Wali Kota Semarang yang menghadirkan puluhan anak muda untuk menunjukkan kecintaan mereka terhadap musik tradisional Indonesia.
Bertempat di Atrium Tentrem Mall Semarang, Minggu (8/11/2026), kompetisi tersebut diikuti sekitar 90 peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA) dari sejumlah daerah di Jawa Tengah.
Di balik penampilan para peserta, tersimpan proses panjang berupa latihan, kedisiplinan, kerja sama, dan keberanian untuk tampil di hadapan masyarakat. Setiap dentingan alat musik kolintang menjadi bukti bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti yang hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi. Menurutnya, kegiatan seni seperti ini menjadi ruang penting bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat sekaligus memperoleh pengalaman dan penghargaan atas proses belajar yang telah mereka jalani.
Agustina menilai, salah satu kebahagiaan terbesar seorang seniman adalah ketika memiliki kesempatan untuk mengekspresikan kemampuan dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Karena itu, anak-anak yang selama ini belajar kolintang perlu diberikan ruang lebih luas untuk menunjukkan kemampuannya.
Baginya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui ajakan atau imbauan. Warisan budaya harus terus dihidupkan dengan memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk memainkannya, memperkenalkannya, dan menjadikannya bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pemerintah Kota Semarang pun berkomitmen mendorong semakin banyak panggung bagi kesenian kolintang melalui berbagai agenda pemerintah daerah maupun kegiatan kemasyarakatan.
Salah satu contoh yang pernah dilakukan adalah kegiatan seribu kolintang di kawasan Kota Lama Semarang. Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa musik tradisional dapat tampil menarik di ruang publik sekaligus menjadi daya tarik budaya bagi masyarakat luas.
“Kita ingin kegiatan seperti ini diteruskan, sehingga semua yang belajar kolintang mempunyai kesempatan untuk tampil. Tidak ada tindakan yang lebih tepat selain sering menampilkan anak-anak bermain kolintang dalam berbagai kegiatan di Kota Semarang,” ungkap Agustina.
Dukungan tersebut menjadi penting mengingat keberlangsungan sebuah kesenian sangat bergantung pada regenerasi. Semakin banyak anak yang mengenal dan mempelajari kolintang, semakin besar pula peluang musik tradisional ini untuk terus bertahan di tengah perkembangan musik modern.
Ketua DPD Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINGKAN) Jawa Tengah, Dewi Susanti, mengatakan kompetisi tersebut merupakan salah satu langkah untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan musik kolintang kepada generasi muda.
Menurutnya, antusiasme sekitar 90 peserta menunjukkan bahwa masih banyak anak yang memiliki ketertarikan terhadap musik tradisional. Peserta berasal dari berbagai daerah di Jawa Tengah, meskipun sebagian besar masih didominasi anak-anak dari Kota Semarang.
PINGKAN Jawa Tengah juga terus berupaya memperluas pengenalan kolintang melalui pendekatan ke sekolah-sekolah. Langkah ini dilakukan agar semakin banyak pelajar memiliki kesempatan mengenal alat musik tersebut, menemukan minat, dan mengembangkan bakat di bidang seni.
Dewi berharap kegiatan kompetisi tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan yang melahirkan generasi baru insan kolintang.
Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni mengenalkan musik tradisional kepada anak-anak, memberikan ruang untuk belajar, kemudian menghadirkan panggung agar mereka berani menunjukkan kemampuan.
Pengakuan UNESCO terhadap kolintang sebagai warisan budaya tak benda semakin memperkuat pentingnya upaya menjaga kesenian tersebut. Namun, pengakuan dunia harus diikuti dengan kecintaan dan keterlibatan nyata masyarakat, terutama generasi penerus.
Melalui kolaborasi pemerintah, komunitas seni, sekolah, dan keluarga, musik kolintang diharapkan tidak hanya dikenal sebagai warisan leluhur, tetapi juga menjadi kebanggaan generasi masa kini. Sebab, menjaga budaya bukan sekadar merawat sesuatu yang berasal dari masa lalu, melainkan memastikan kekayaan bangsa tetap memiliki suara di masa depan.
Catatan sumber: Artikel dikembangkan dari pemberitaan RRI Semarang, 8 November 2026. RRI.co.id






















