SEMARANG, MEDIAINI.COM — Dunia kedokteran terus berinovasi dalam menghadirkan terapi yang memanfaatkan potensi alami tubuh manusia. Salah satu teknologi yang kini semakin populer adalah Platelet Rich Plasma (PRP), sebuah prosedur medis yang menggunakan darah pasien sendiri untuk membantu regenerasi jaringan dan mempercepat proses penyembuhan.
Menurut dr. Okty Prahalanitya, Sp.PK, MARS, M.Biomed, Dokter Spesialis Patologi Klinik, PRP merupakan inovasi kedokteran modern yang menitikberatkan pada kemampuan alami tubuh untuk memperbaiki diri. “PRP dibuat dari darah pasien sendiri yang diproses melalui sentrifugasi untuk memisahkan plasma kaya trombosit. Plasma inilah yang mengandung berbagai faktor pertumbuhan penting seperti PDGF, TGF-β, VEGF, dan EGF,” jelasnya.
Faktor-faktor tersebut berperan besar dalam pembentukan kolagen, regenerasi sel, serta perbaikan mikrosirkulasi darah, sehingga terapi ini sering disebut sebagai bentuk natural rejuvenation atau peremajaan alami.
Setelah darah diambil sebanyak 10–20 ml, proses laboratorium menghasilkan plasma dengan konsentrasi trombosit 3–5 kali lebih tinggi dari kadar normal. Plasma ini kemudian disuntikkan ke area tertentu sesuai kebutuhan pasien — seperti wajah, kulit kepala, atau sendi.
“Manfaat PRP kini telah meluas, tidak hanya di bidang estetika dan anti-aging, tetapi juga untuk perawatan rambut, kedokteran olahraga, ortopedi, bahkan perawatan luka kronik dan kedokteran gigi,” tambah dr. Okty.
Berbagai penelitian internasional juga menunjukkan efektivitas PRP dalam memperbaiki tekstur kulit dan menstimulasi pertumbuhan rambut. Karena berasal dari darah pasien sendiri, terapi ini memiliki risiko yang sangat rendah dibandingkan metode sintetis. Meski demikian, keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh teknik pengambilan, pemrosesan laboratorium, serta kualitas alat yang digunakan.
Sebagai dokter patologi klinik, dr. Okty menekankan pentingnya proses laboratorium yang steril dan presisi, agar konsentrasi trombosit yang dihasilkan optimal. “Tugas kami memastikan plasma yang dipakai benar-benar berkualitas dan aman,” ujarnya.
Efek samping ringan seperti kemerahan atau memar mungkin muncul pasca tindakan, tetapi biasanya akan hilang dalam satu hingga dua hari. Namun PRP tidak disarankan bagi pasien dengan gangguan pembekuan darah, infeksi aktif, atau kondisi medis berat lainnya.
“PRP adalah bentuk terapi regeneratif alami yang aman dan efektif jika dilakukan dengan pengawasan dokter berkompeten. Ini menjadi bukti bahwa kemajuan ilmu kedokteran regeneratif di Indonesia semakin berkembang pesat,” tutup dr. Okty.






















