Tren Masker Lukis, Kenalkan Produk Masker Secara Eksklusif

Share artikel ini

MEDIAINI.COM – Masker kini menjadi kebutuhan wajib masyarakat ketika beraktivitas di luar rumah. Sebab di era new normal seperti sekarang ini, protokol kesehatan masih harus tetap dijalankan.

Karena menjadi kebutuhan sehari-hari, masker pun berubah fungsi. Yang awalnya hanya digunakan sebagai alat kesehatan saja kini masker masuk juga ke dalam tren fashion. Perubahan ini membuat masker pun berdandan, tak lagi tampil apa adanya ala alat kesehatan. Kini marak beredar masker dengan aneka motif, bahkan juga masker dengan ragam ornamen  lukis.

Pegiat seni di Magelang, Nuryanto, memberdayakan UMKM di sekitar Candi Borobudur yang tengah terpuruk akibat pandemi. Ia membuat masker lukis dengan gambar siluet Candi Borobudur. Tak disangka, ide kreatifnya diapresiasi banyak orang, bahkan menjadi peluang ekonomi baru.

Kesuksesan Pelaku Kreatif

Setelah Magelang, UMKM Sidoarjo juga menunjukkan geliatnya. Salah satunya adalah pelaku UMKM Novita Sechan yang membuat masker lukis secara eksklusif. Sebagai pelukis dan pengrajin, Novita juga merasakan dampak ekonomi akibat pandemi.

Ia lalu mengambil masker polos yang didapat dari UMKM di Kota Sidoarjo untuk kemudian ia lukis. Lukisan yang ia buat bertema naturalis, mulai dari pemandangan alam sampai bunga. Selain itu, ia juga menyelipkan pesan di gambarnya seperti stay at home atau jaga jarak. Dalam sehari, Novita mampu membuat 15 buah masker. Ia menjual masker lukisnya dari harga 50 ribu hingga 250 ribu per buah yang dipasarkannya secara online. Karya masker Novita sudah terbang ke beberapa kota Seperti Manado, Solo, Semarang, Pekalongan, Bandung juga Jakarta.

Dipamerkan Secara Virtual

Di Solo, juga ada kreasi masker lukis unik bertema kota Solo. Masker tersebut sengaja dibuat untuk mengobati kerinduan akan kampung halaman. Kreasi ini dibuat oleh karyawan Sunan Hotel  di Solo untuk menambah penghasilan di masa pandemi. Dengan bertemakan Kota Solo, lukisan dengan ragam motif seperti Pasar Gede, Gapura Klewer, dan ikon Solo lainnya ditorehkan di masker. Masker-masker tulis ini masih dibuat dengan cara tradisional dengan tidak menggunakan printing. Pemesanan pun tidak bisa dilakukan secara cepat. Untuk jumlah juga dibatasi.

Sementara itu, pelukis Yasumi Ishii juga membuat masker bermotif lukisan. Hasil karya maskernya dipamerkan secara virtual pada Minggu (14/6/2020) dengan tajuk Mask Art Project 2020“. Pembukaan pameran dilakukan dengan sederhana di Galeri Limanjawi Borobudur.

Masker buatan Yasumi berupa digital print. Namun ada juga batik tradisional yang dijahit sendiri oleh dirinya. Ia menerangkan, untuk masker digital print, ia sengaja memilih beberapa hasil lukisan bertema binatang seperti burung dan kucing. Satu lembar masker lukisan dari Yasumi harganya berkisar Rp 150 ribu.

Gerakan Seniman Lokal

Sejumlah seniman lokal membuat gerakan bertajuk Masker Untuk Indonesia. Mereka bertujuan untuk membantu pergerakan roda kreativitas serta produktivitas ekonomi UMKM agar terus berputar. Setiap orang bisa berkontribusi. Cukup dengan memesan 1 masker kain, pemesan bisa sekaligus berbagi 3 masker kain lainnya kepada mereka yang membutuhkan.

Untuk menyalurkan masker kain non-medis, Masker Untuk Indonesia bermitra dengan sejumlah organisasi seperti BenihBaik.com, GP ANSOR, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Gerakan Indonesia Kuat, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), serta Yayasan Langkah Kasih. Masker kain non-medis ini dapat dipesan di maskeruntuk.id

Gerakan ini didukung oleh banyak seniman dan UMKM di Indonesia dan terus bertambah setiap harinya. Berbagai desain dapat ditemui mulai dari Bluesvilles, Liunic on Things, Locale, Untold, Abenk Alter, Heimlo, Ardneks, Ykha Amelz, Kamengski, Darbotz, hingga Sanchia Hamidjaja.

Selain itu, gerakan ini juga mendapat dukungan dari berbagai selebriti serta tokoh masyarakat, seperti Andy F. Noya, Najwa Shihab, Chicco Jerikho, Joe Taslim, Julie Estelle, Nino RAN, Armand Maulana, Caca Tengker, hingga Boy William dan Jessica Mila. (Chelsea Venda).