Prestasi Kolektif Hysteria Ditengah Pandemi Covid – 19

SEMARANG, MEDIAINI.com – Pendemi Covid – 19 ini memang sangat meresahkan serta harus meningkatkan kewaspadaan. tetapi bukan berarti tidak bisa berprestasi.

Salah satunya Kolektif Hysteria, yang akhir Februari 2020 lalu memenangkan Grand Prize Youfab Award di Shibuya, Tokyo, Jepang.

Kolektif Hysteria yang bermarkas di Jl. Stonen 29 Kota Semarang ini, adalah organisasi seni yang peduli pada pemberdayaan pemuda berbasis komunitas, yang fokus pada isu-isu tentang seni, pemuda, budaya kota, dan pengembangan masyarakat.

Penghargaan itu adalah apresiasi tertinggi dalam event tahunan yang dihelat oleh Fabcafe Tokyo di bawah manajemen Loftwork Inc, yakni sebuah perusahaan kreatif global yang mempunyai cabang di Hong Kong, Hida, Tokyo, Kyoto, Bangkok, Taipei, Barcelona, Toulouse, Strasbourg, Monterrey.

Loftwork Inc sendiri mendedikasikan dirinya untuk membuat dampak positif melalui desain dengan berbagai inovator di seluruh dunia. di antara satu terobosannya adalah Youfab Award, sebuah kompetisi global yang mencari inovasi teknologi dari para seniman, inovator, maupun maker dari dunia yang mencari solusi atau inspirasi dari relasi tradisional antara individu dan industri untuk kepentingan masyarakat.

Award ini sudah berlangsung sejak 2012 dan memenangkan banyak inovasi menggunakan teknologi dan iikuti 285 partisipan dari 43 negara. kolektif Hysteria  mengajukan Penta KLabs (sites spesifik art project biennale) sebagai gacoan berlomba dengan berbagai inovasi lain menggunakan artificial intellegent, big data analis, internet of things, dan semacamnya.

Bertema ‘Conviviality:  Emerging from the space between the old and new OS’ tema kali ini  mempertanyakan relasi antara yang manual dan digital, perubahan terus menerus dalam operating system secara sosial maupun kultural. Karya Hysteria bersanding dengan 20 finalis lain dari berbagai negara yang dipamerkan sebulan februari lalu di Shibuya QWS, Tokyo.

“Menariknya, apa yang ditawarkan Hysteria bukanlah teknologi yang fancy dan atau advance tetapi dari kerja-kerja pengorganisasian yang bersentuhan dengan darah dan daging”. Ungkap Adin Direktur Kolektif Hysteria pada Mediaini.com (28/3/2020).

Bandingkan misalnya karya The Common Thread, Amir Zobel dan Itay Blumenthal (Israel) yang meraih First Prize yang menggunakan teknologi pemprosesan data spesifik atau Bird Language karya Helena Nikonole + Credits: Veronica Samotskaya, Natalia Soboleva, Konstantin Yakovlev, Nikita Prudnikov (Russia) yang mencoba alat penerjemah bahasa burung ke manusia dan sebaliknya.

Adin, Direktur Hysteria menyatakan sejak awal memang tidak mengulik software dan hardware seperti kebanyakan orang hari ini yang disibukkan membuat start up untuk menjadi unicorn.

Seperti diketahui di Indonesia, fenomena gojek membuat orang berlomba membuat start up dan berburu investor dan mitos smart city mendorong kota berlomba mencipta aplikasi-aplikasi baru tanpa mengetahui siapa usernya. hal ini bukannya tidak baik tetapi perburuan eksesif seperti itu tak jarang menemui kesia-siaan karena salah strategi. Alih-alih terlibat dalam proses itu semua, Hysteria justru menggunakan aplikasi yang sudah tersedia seperti media sosial populer lainnya untuk sarana advokasi komunitas.

Mayoritas karya peserta lain sangat teknologis dan canggih seperti lazimnya karya-karya new media art atau multimedia. Karya-karya berbasis big data, sensor maupun artificial intelligent banyak disajikan. Hysteria justru menciptakan sesuatu yang manual seolah membawa perhelatan menengok ke belakang apa yang sudah dicapai teknologi demi kebaikan masyarakat.

“Karya kami platform dan festival, artwork itu network, dan tugas kesenimanan adalah social engineerin,” tambahnya.

Alih alih menciptakan start up berbasis digital, Hysteria justru menggunakan aplikasi yang sudah tersedia untuk memaksimalkan kerja-kerja advokasi di masyarakat. Misalnya waktu ramai kasus seruan banning terhadap tik tok karena dianggap sampah dengan trigger meet and greet Bowo Alpenliebe, Hysteria justru menggunakan tik tok untuk membuat video dengan latar belakang situs penting di kampung misalnya pepunden (tempat bersemayamnya leluhur) di Rembang.

Kolektif Hysteria juga menggunakan Open Street Map dan Ushahidi untuk platfom pemetaan hingga akhirnya diundang ikut berpameran di Pasific Place dalam Big Data Fest oleh Mediatrec. Selain itu untuk keperluan mengungkap cerita di kampung Bersama seniman Inggris, Liam Symth Hysteria menggunakan Aurasma (belakangan dibeli oleh HP) untuk menciptakan augmented reality. Hal-hal itulah yang dilakukan Hysteria dalam menyiasati teknologi. Di samping itu melalui Penta KLabs Hysteria menghubungkan jejaring yang kompleks antara kamu/kami/ kita, kelas/kampus, komunitas, kampung , dan kota dalam sebuah festival bersama merespons isu spesifik di tempat yang khusus.

Relevansi, konteks, dan signifikansi adalah kata-kata kunci untuk menggambarkan kerja-kerja Kolektif Hysteria yang berhubungan langsung dengan isu perkotaan di mana ia bertumbuh.

Dalam sesi diskusi ‘Mana Teknologinya?’ yang digelar di Dangau Kopi, Jalan Kolonel HR Hadijanto, Sekaran, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah 17 Maret lalu yang disokong penuh oleh Japan Foundation Asia Center, Adin bersama Humam Zidni Ahmad memberikan banyak insight ketika menerima award di Jepang sembari memamerkan karyanya bersama para seniman atau maker lain.

Humam menambahkan perbedaan temperature lebih dingin hingga 5-9 derajat celcius dan seruan waspada virus corona saat itu sedang booming namun tidak mengganggu produktivitas berkarya di tengah ancaman pandemi.

“Tiap hari kami menggunakan transportasi publik dari Kanamecho Station ke Shibuya Station untuk membuat karya berupa mural, instalasi, dan video, kemudian menerima penganugerahan Youfab Award 2019 dan terakhir membuat workshop zine tentang masa depan Tokyo 20 tahun mendatang,” katanya.

Dalam pameran itu tergambar alur kerja Kolektif Hysteria ketika menginisiasi program di situs spesifik. Penta Klabs sendiri sudah berlangsung dua kali di Semarang, yakni di Kemijen (Narasi Kemijen, 2016 tentang ketahanan kampung) dan di Nongkosawit (Sedulur Banyu, 2018 tentang ekosistem air).

Platform inilah yang memenangkan hati para juri yakni Kei Wakabayashi (editor), Keiichiro Matsumara (Okayama University Literature Department Associate Professor), Leonard Bartolomeus (Artist collective ruangrupa & Gudskul Ekosistem) dan  (Chiaki Hayashi, Loftwork Inc Co Founder) karena secara umum seperti mengingatkan kembali bahwa dimensi manusia dan sosial itu penting untuk diretas. Sayangnya awarding tersebut tidak berjalan semestinya karena pandemi Covid 19 sedang ganas-ganasnnya sehingga acara ditutup untuk publik.(Praditya Wibisono)