SEMARANG, MEDIAINI.COM – Di sebuah pesantren, seorang santri mungkin sedang membuka kitab. Di tempat lain, santri yang sama generasinya sedang belajar bagaimana kecerdasan buatan bekerja. Sementara itu, di sudut kota yang berbeda, seorang pelaku UMKM sedang mengemas produk buatannya dengan satu harapan sederhana: suatu hari produknya tidak hanya dikenal di kampung halaman, tetapi juga sampai ke mancanegara.
Tiga gambaran itu mungkin terlihat berbeda. Namun, semuanya bertemu pada satu pertanyaan besar: seperti apa wajah generasi Jawa Tengah di masa depan?
Pertanyaan itulah yang ingin dijawab Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Tengah melalui kepengurusan periode 2026–2030. Sebanyak 226 pengurus dilantik dengan membawa semangat menjadikan ekonomi syariah bukan sekadar konsep, melainkan gerakan nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Ketua Umum MES Jawa Tengah Rezza Arief Budy Artha menyadari bahwa zaman telah berubah sangat cepat. Teknologi artificial intelligence (AI) kini berkembang begitu pesat. Dunia usaha bergerak semakin digital. Persaingan pasar tidak lagi berhenti pada batas kota, provinsi, bahkan negara.
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya dibekali pengetahuan yang diperoleh dari buku. Mereka juga harus memiliki keberanian untuk beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan nilai, etika, dan karakter.
Dari pemikiran itulah lahir gagasan Santri Melek AI. Pesantren dipandang bukan sebagai ruang yang jauh dari perkembangan teknologi, tetapi justru sebagai salah satu tempat strategis untuk menyiapkan generasi yang mampu memadukan ilmu, akhlak, dan teknologi.
Santri masa depan diharapkan tidak hanya piawai membaca kitab, tetapi juga mampu menggunakan teknologi untuk belajar, menciptakan karya, membangun usaha, mengembangkan ekonomi kreatif, hingga membuka peluang baru bagi masyarakat di sekitarnya.
Teknologi tidak harus menghapus nilai-nilai pesantren. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk memperluas manfaat nilai-nilai tersebut.
Di sisi lain, MES Jateng juga membawa mimpi besar bagi para pelaku usaha kecil dan menengah. Selama ini, banyak produk lokal memiliki kualitas dan cerita yang kuat, tetapi belum seluruhnya memiliki akses, pengetahuan, jejaring, serta kemampuan untuk menembus pasar yang lebih luas.
Karena itu, gagasan UMKM Go Global menjadi bagian penting dari gerakan tersebut. UMKM tidak hanya didorong untuk bertahan, tetapi juga naik kelas. Produk lokal harus memiliki standar kualitas, kemasan, legalitas, sertifikasi, kemampuan pemasaran digital, hingga kesiapan menghadapi karakter pasar internasional.
Di balik target tersebut terdapat wajah-wajah manusia yang nyata. Ada ibu yang memulai usaha dari dapur rumahnya. Ada anak muda yang mencoba menjadikan kreativitas sebagai sumber penghasilan. Ada perajin yang mempertahankan keterampilan turun-temurun. Ada pula pelaku usaha pesantren yang ingin menjadikan bisnis sebagai jalan kemandirian.
Mereka membutuhkan lebih dari sekadar modal. Mereka membutuhkan pendampingan, akses pasar, pengetahuan, jejaring, teknologi, dan kepercayaan diri bahwa produk yang mereka buat di Jawa Tengah layak berdiri sejajar dengan produk dari berbagai belahan dunia.
Di sinilah MES Jateng ingin mengambil posisi sebagai jembatan. Melalui pendekatan pentahelix, dunia usaha, pemerintah, akademisi, komunitas dan ulama, serta media didorong untuk duduk bersama mencari solusi. Sebab membangun ekonomi masyarakat tidak mungkin dilakukan sendirian.
Rezza melihat kekuatan ekonomi syariah bukan hanya terletak pada transaksi yang sesuai prinsip syariah. Lebih jauh, ekonomi syariah berbicara tentang keberpihakan pada pemberdayaan, keadilan, keberlanjutan, dan terciptanya kesempatan agar masyarakat dapat tumbuh dengan kekuatannya sendiri.
Maka, perjalanan 226 pengurus MES Jateng selama empat tahun ke depan bukan sekadar perjalanan sebuah organisasi. Ini adalah ikhtiar untuk menjawab perubahan zaman: menyiapkan santri agar tidak gagap teknologi, mendorong UMKM agar tidak takut membuka pasar dunia, dan membangun ekosistem ekonomi yang memberi ruang lebih besar bagi masyarakat untuk tumbuh.
Pada akhirnya, mimpi besar itu berawal dari langkah-langkah kecil. Dari ruang kelas pesantren yang mengenalkan AI. Dari pelaku UMKM yang berani memperbaiki kemasan produknya. Dari pendamping yang bersedia membuka jaringan. Dari kolaborasi yang mempertemukan mereka dengan pasar.
Sebab masa depan Jawa Tengah mungkin tidak selalu lahir dari gedung-gedung tinggi atau perusahaan besar. Bisa jadi, masa depan itu sedang tumbuh diam-diam di pesantren, di rumah-rumah produksi UMKM, di ruang kelas, dan di tangan anak-anak muda yang hari ini sedang belajar.
MES Jawa Tengah ingin memastikan bahwa ketika dunia berubah, santri dan pelaku UMKM tidak hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi bagian dari orang-orang yang ikut menciptakan masa depan.






















