JAKARTA, MEDIAINI.COM – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, Farid Nila Moeloek
(FNM) Society berkolaborasi dengan Takeda menyelenggarakan Forum Perempuan bertajuk “Rights. Justice.
Action. Dari Hak Menuju Aksi untuk Semua Perempuan dan Anak Perempuan”. Forum ini menjadi wujud
nyata upaya kolektif dan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, organisasi
masyarakat sipil, LSM dan akademisi dalam rangka mewujudkan kepemimpinan perempuan dalam
memperkuat kesehatan masyarakat yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Secara global, laporan Global Gender Gap 2025
2 menunjukkan Indonesia berada di peringkat ke-97 dunia, naik
tiga posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Skor kesetaraan gender Indonesia juga meningkat dari 68,6%
menjadi 69,2%. Kemajuan ini turut tercermin dalam peningkatan keterwakilan perempuan di posisi
kepemimpinan, di mana skor kesetaraan untuk kategori legislator, pejabat senior, dan manajer naik signifikan
dari 20,5% pada 2006 menjadi 49,4% pada 2025.
Di sektor kesehatan, capaian juga menunjukkan perkembangan positif. Data WHO Global Health Observatory,
2023,
3 sebanyak 63,2% persalinan berlangsung di fasilitas kesehatan dan 90,6% perempuan menerima
layanan antenatal care (pemeriksaan kehamilan) minimal empat kali selama kehamilan, indikator penting
dalam upaya pencegahan risiko kematian ibu dan bayi. Namun demikian, tantangan struktural masih
memerlukan perhatian serius. Data BPS (2024)
4 menunjukkan sekitar 5,9% perempuan berusia 20 – 24 tahun
berstatus kawin atau hidup bersama sebelum 18 tahun. Hal ini berpotensi memengaruhi kesehatan,
pendidikan, dan kemandirian mereka.
Kondisi ini menegaskan bahwa perkembangan akses dan representasi perlu diiringi dengan penguatan
kepemimpinan substantif perempuan di tingkat komunitas, agar hak dan keadilan benar-benar terwujud dalam
aksi nyata dan berdampak langsung pada kesehatan keluarga serta masyarakat.
Indonesia, menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia untuk memastikan perempuan dan anak perempuan
memperoleh perlindungan dan kesempatan berpartisipasi secara setara dalam pembangunan nasional.
“Kemajuan perempuan harus dimulai dari pemenuhan hak-hak dasar, dilanjutkan dengan penegakan keadilan,
dan diwujudkan melalui aksi nyata dalam kebijakan dan program pembangunan berkelanjutan. Salah satu
prinsip penting dalam pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan adalah kesetaraan gender. Artinya,
perempuan dan laki-laki memiliki hak, kesempatan, akses, partisipasi, serta kontrol yang setara terhadap
sumber daya dan manfaat pembangunan. Berbagai studi menunjukkan pemberdayaan perempuan
berkontribusi terhadap peningkatan kesehatan ibu dan anak, memperkuat ketahanan keluarga, serta
meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat.”
Pendiri dan Ketua FNM Society sekaligus Ketua Dewan Pembina Indonesia Health Development Center
(IHDC), Prof. Dr. dr. Nila Moeloek, Sp.M(K), menekankan bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat
program kesehatan, melainkan penggerak perubahan. “Hari Perempuan Internasional adalah momentum
untuk melihat perempuan sebagai pemimpin dan agen perubahan. Kepemimpinan perempuan di tingkat
komunitas sangat menentukan keberhasilan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan masyarakat.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar hak dan keadilan benar-benar terwujud dalam tindakan nyata.
Forum ini menjadi ruang dialog lintas sektor yang menegaskan peran strategis perempuan sebagai pemimpin
komunitas dalam mendorong upaya pencegahan serta peningkatan kesehatan masyarakat. Kegiatan ini sejalan
dengan tema global Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun ini, “Rights. Justice. Action. For All Women and Girls,”
yang menekankan bahwa investasi pada perempuan harus berjalan beriringan dengan perlindungan hak dan
keadilan,” kata Prof. Nila.
dr. Lovely Daisy, MKM, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga, Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan
Komunitas, Kementerian Kesehatan RI, menekankan pentingnya penguatan sistem kesehatan berbasis
pencegahan dan keterlibatan komunitas. “Penguatan kesehatan masyarakat harus dimulai dari pendekatan
yang menempatkan pencegahan sebagai fondasi utama. Perempuan memiliki peran strategis dalam
mendorong praktik hidup sehat di tingkat keluarga dan komunitas, mulai dari kesehatan ibu dan anak hingga
kesehatan reproduksi. Oleh karena itu, sistem kesehatan perlu memastikan bahwa perempuan memiliki akses
terhadap informasi, layanan kesehatan yang berkualitas, serta perlindungan terhadap hak-hak kesehatan
reproduksi mereka.
Dengan dukungan sistem kesehatan yang kuat dan partisipasi aktif masyarakat, kita dapat mempercepat upaya pencegahan sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan keluarga dan generasi mendatang. Untuk itu, kami mengajak pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan seluruh elemen komunitas untuk bersama-sama memperkuat upaya promotif dan preventif serta memastikan layanan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan perempuan di setiap tingkat pelayanan,” ujar dr. Lovely Daisy.
Figen Samdanci, Growth and Emerging Market Leadership Team, Takeda Pharmaceuticals, menegaskan
kembali komitmen perusahaan untuk membangun kemitraan jangka panjang dalam memperkuat kesehatan
masyarakat.
“Peningkatan kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada pengembangan obat-obatan
dan vaksin yang inovatif. Di Takeda, kami berkomitmen menjalankan kemitraan yang dapat memperluas akses
terhadap layanan kesehatan perempuan, memperkuat perlindungan dari kekerasan berbasis gender, serta
mendukung upaya pencegahan di tempat yang paling penting, di tengah masyarakat. Melalui program Global
Corporate Social Responsibility (CSR), kami mendukung berbagai inisiatif yang bertujuan memperkuat
kesehatan dan perlindungan perempuan, termasuk melalui kemitraan dengan Ipas untuk meningkatkan aksesterhadap layanan kesehatan reproduksi yang berpusat pada perempuan, serta dengan UNFPA melalui program PIHAK untuk memperkuat penanganan kekerasan berbasis gender di Indonesia. Melalui kolaborasi lintas sektor, Takeda tetap berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah dan masyarakat sipil dalam memperkuat kesehatan masyarakat serta menjaga masa depan generasi mendatang.”
Sementara itu, Verania Andria, Assistant Representative, United Nations Population Fund (UNFPA) Indonesia,
menyoroti pentingnya perlindungan perempuan dari kekerasan sebagai bagian dari kesehatan masyarakat yang
komprehensif. “Perlindungan terhadap perempuan dan anak perempuan merupakan bagian integral dari upaya
membangun masyarakat yang sehat dan setara. Melalui program Perempuan Indonesia Hidup Tanpa
Kekerasan (PIHAK) yang diinisiasi oleh UNFPA, kami berupaya memperkuat sistem penanganan kekerasan
terhadap perempuan dan anak perempuan (KTP/AP) melalui peningkatan kapasitas layanan lini depan,
penguatan koordinasi antar lembaga, serta kampanye kesadaran publik,” kata Verania. “Dilaksanakan secara
nasional dan beberapa wilayah prioritas seperti Brebes, Garut, Lombok Timur, dan Serang, program ini juga
mendorong penanganan KTP/AP yang lebih terstandarisasi, sehingga penyintas dapat memperoleh layanan
yang lebih terpadu, responsif, dan melindungi hak-hak mereka. Melalui kemitraan dengan Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Sosial, Komnas Perempuan, Yayasan Pulih,
serta komunitas, kami berharap PIHAK dapat memberi dampak yang sistemik berkelanjutan,” imbuh Verania.
Forum Perempuan ini menghadirkan lebih dari 500 peserta secara luring dan daring, serta melibatkan
perwakilan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, sektor swasta, dan lembaga internasional.
Melalui forum ini, FNM Society dan Takeda berharap kolaborasi yang terbangun dapat memperkuat peran
perempuan sebagai penggerak utama dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, dan
berkelanjutan bagi keluarga serta generasi mendatang.
“Hak dan keadilan bagi perempuan tidak boleh berhenti pada komitmen atau wacana. Hak dan keadilan harus
hidup dalam tindakan nyata, di keluarga, di komunitas, dan dalam setiap kebijakan publik. Ketika perempuan
diberdayakan untuk memimpin, kita tidak hanya melindungi satu individu, tetapi kita sedang membangun
fondasi masyarakat yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih berkelanjutan untuk generasi mendatang. Mari kita
bersama-sama memastikan bahwa setiap perempuan memiliki ruang, kesempatan, dan dukungan untuk
berperan sebagai penggerak perubahan” tutup Prof. Nila.






















