SEMARANG, MEDIAINI.COM – Gelaran Event Gereget Pasar Tradisional Bulu Semarang yang berlangsung selama dua hari pada Sabtu dan Minggu kemarin berhasil menuai apresiasi luas. Acara yang digagas langsung oleh emak-emak pedagang Pasar Bulu tersebut mendapat tepuk tangan meriah dari sejumlah perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang turut hadir menyaksikan rangkaian kegiatan.
Leo Aji, salah satu tokoh yang hadir dalam gelaran tersebut, menyampaikan kekagumannya terhadap keberanian dan kreativitas para pedagang. Menurutnya, event seperti ini harus sering diadakan di pasar-pasar tradisional Kota Semarang sebagai upaya mendobrak minat pengunjung.
“Event ini betul-betul bagus. Keberanian, kedisiplinan, dan kepintaran tertuang dalam acara ini. Saya melihat perjuangan mereka sangat istimewa. Kami akan terus mensuport dan memperhatikan para pedagang. Ini sangat inovatif, penuh kreasi, dan patut diacungi jempol,” ujar Leo Aji saat ditemui awak media.
Ia menambahkan, para pedagang yang seharusnya fokus berjualan justru rela berpikir realistis dan meluangkan waktu demi memajukan pasar tradisional yang selama ini nyaris tanpa perhatian. “Ini luar biasa,” tegasnya.
Selama dua hari pelaksanaan, event ini meninggalkan kesan positif bagi pengunjung, pedagang, dan masyarakat sekitar. Beragam penampilan disuguhkan, mulai dari tarian daerah, talkshow, kreativitas seni, hingga kolaborasi komunitas dan talent lokal yang menghidupkan suasana pasar.
Ketua pelaksana Ami bersama Yos Aringga menyampaikan bahwa target kegiatan ini bukan semata-mata mengejar keramaian. “Kami tidak mematok harus ramai. Ini tahap pengenalan kepada pengunjung dan pedagang Pasar Bulu Semarang. Yang terpenting bagi kami adalah menjaga persatuan dan kesatuan pedagang pasar,” ujarnya.
Ami juga menegaskan bahwa kegiatan ini terasa sangat spesial karena digagas oleh para pedagang, khususnya emak-emak pasar, yang di tengah kesibukan tetap mampu melahirkan gagasan untuk meramaikan Pasar Bulu. “Dengan konsep seadanya, dana seadanya, alhamdulillah acara berjalan kondusif dan aman,” tambahnya.
Tak hanya itu, Kelurahan Barusari dan Kelurahan Bulustalan turut ambil bagian dalam lomba tumpeng bersama pedagang pasar. Sekolah Al Qoiriyah juga hadir pada hari Sabtu dengan melibatkan murid-muridnya. Kepala Sekolah Al Qoiriyah menyampaikan bahwa event semacam ini harus terus digalakkan.
“Pasar tradisional jangan vakum dan diam saja. Ini warisan yang harus dijaga agar tetap hidup,” tuturnya.
Sementara itu, pedagang Pasar Bulu Semarang, Mandang dan Santi, menyatakan komitmennya untuk terus menghadirkan kegiatan serupa ke depannya. “Insyaallah, kemungkinan tiga bulan sekali kami akan mencoba memikirkan gagasan dan ide baru untuk event selanjutnya. Apalagi sebentar lagi tahun baru dan Ramadhan, kami akan berupaya menjadikan Pasar Bulu ramai kembali,” kata Santi.
Meski demikian, hingga gelaran Event Gereget Pasar Bulu ini berlangsung sukses, Pemerintah Kota Semarang belum memberikan respons terhadap inisiatif emak-emak pedagang yang dengan penuh keberanian dan dana seadanya mampu membuktikan bahwa pasar tradisional masih bisa hidup, bergerak, dan nyata keberadaannya.
Event Gereget Pasar Tradisional Bulu Semarang pun menjadi bukti bahwa semangat, persatuan, dan kreativitas pedagang mampu menghadirkan harapan baru bagi kebangkitan pasar tradisional.






















