SEMARANG, MEDIAINI.COM — Pasar Bulu kembali menggeliat. Dipelopori oleh para emak-emak pedagang, event “Gereget Pasar Tradisional” resmi digelar dengan menggandeng Mualim Farma Ngaliyan, Evata, Komunitas Semarang, Dispora Kota Semarang, Battra, Lunpia Musik, Hadroh UIN Semarang, hingga musisi pelajar Kota Semarang. Gerakan ini lahir dari keresahan pedagang atas sepinya pengunjung Pasar Bulu dalam beberapa waktu terakhir.
Santi, salah satu pedagang jahit di lantai 2, menuturkan bahwa gagasan ini murni berasal dari para pedagang sendiri.
“Emak-emak di sini penuh ide. Kami melihat keluhan banyak pedagang bahwa pasar semakin sepi. Dari situ kami berani bergerak, mengumpulkan gagasan, diskusi dengan teman-teman, kerabat, serta komunitas kota Semarang. Tidak ada kata lain selain “matursuwun sanget” untuk semua pihak yang mendukung—Allah yang akan membalas kalian,” ujarnya.
Heny, pedagang lantai 3, menambahkan semangat khas pedagang tradisional.
“Rawe-rawe rantas, nek ora gerak ora mangan,” tuturnya sambil menegaskan tekad pedagang yang siap berjuang agar pasar kembali ramai.
Kolaborasi Besar untuk Menghidupkan Pasar Ikonik
Event ini menghadirkan kolaborasi lintas komunitas:
Mualim Farma Ngaliyan yang menyediakan khitan gratis beserta fasilitas tambahan seperti baju koko, konsumsi, hingga peminjaman mobil untuk peserta khitan.
Battra dengan layanan terapi tradisional seperti gurah, pijat, dan bekam.
Hadroh UIN Semarang, Lunpia Band, dan musik pelajar Kota Semarang yang meramaikan acara dengan hiburan.
Dispora Kota Semarang di bawah pimpinan Fravarta Sadmant, memberikan dukungan demi kelancaran kegiatan.
Evata School, binaan tari yang akan tampil di event tanggal 13–14 Desember 2025.
Ami, Ketua Pelaksana Event, menegaskan bahwa semua ini lahir dari kekompakan para pedagang, khususnya emak-emak Pasar Bulu.
“Kami mengawali gerakan ini untuk meramaikan pasar. Jika teman-teman dari pasar lain ingin berdiskusi, kami terbuka dan siap membantu. Harapan kami event seperti ini terus hadir di Pasar Bulu,” jelasnya.
Kirab Budaya: Pedagang Tunjukkan Identitas Pasar
Mandang, pedagang angkringan, menjelaskan bahwa acara akan semakin meriah dengan adanya kirab budaya pada Minggu, 14 Desember 2025.
“Kami para pedagang akan membawa identitas jualan masing-masing—tampah, sapu, makanan, ember, dan lainnya. Pokoknya akan kami bikin semarak,” ujarnya.
Windi, pedagang lantai 3 sekaligus pelindung pedagang, menegaskan bahwa momen ini sangat berarti bagi usaha mereka.
“Ini momentum yang ditunggu pedagang. Meramaikan pasar agar dagangan laku dan ada rejeki untuk keluarga. Kami bawa Evata School untuk tampil di event. Dengan ridho Allah, Pasar Bulu harus bangkit dan kembali ramai,” katanya.
Dukungan dari Pihak Pasar dan Pemerintah
Kepala Pasar Bulu, Suratno, menyatakan dukungan penuh dengan syarat semua kegiatan mengikuti prosedur dan berkoordinasi dengan pihak terkait.
Plt. Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Aniceto Magno da Silva, mengapresiasi inisiatif para pedagang.
“Event ini akan selalu kami dukung. Kami berharap bisa sukses seperti acara ‘Grebek Pasar Bulu’ tahun 2017 yang juga digagas oleh pedagang,” ujarnya.
Pegiat Seni Budaya Siap Kawal Kebangkitan Pasar Bulu
Gunung Mahesa dan Yoss Aringga, pentolan Pegiat Seni Budaya Semarang, menyatakan bahwa mereka telah bersama pedagang sejak 2017.
“Membantu meramaikan pasar adalah bagian dari kami. Kami lahir di sini. Ini momen untuk bangkit melestarikan budaya pasar dan pedagangnya supaya tidak kalah dengan yang namanya online. Maju terus, pantang mundur pedagang pasar tradisional. Kami siap membantu kapan pun,” pungkas Yoss.




















