Rumah Pertama Bagi Milenial, Cek Tips Jitu untuk Memilihnya

rumah idaman

JAKARTA, MEDIAINI.COMKabar baik jika mengincar rumah pertama bagi milenial. Pasalnya, industri properti di Tanah Air terus berkembang, dan banyak program yang diberikan untuk generasi milenial. Terutama kemudahan untuk memiliki rumah meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 menjadi sebuah tantangan besar bagi semua industri.

Data perkembangan industri properti Bank Indonesia menunjukkan penjualan properti pada kuartal III 2021 lalu tumbuh sebesar 13,95% dibanding tahun yang sama di periode sebelumnya.

Kebutuhan rumah tapak juga masih banyak diminati oleh end-user meskipun dalam kondisi pandemi, terlihat dari riset JLL yang menunjukkan permintaan secara kumulatif meningkat rata-rata 9.000 unit pada paruh pertama 2021. Lalu, angka ini diperkirakan akan stabil pada tahun 2022.

Untuk dicatat, rumah tapak adalah jenis hunian yang langsung dibangun di atas tanah dan berdiri mandiri tanpa hitungan tingkat. Jenis hunian ini adalah salah satu jenis hunian yang paling banyak diminati oleh berbagai kalangan masyarakat

Di sisi lain, generasi milenial yang berada di rentang usia 24 sampai 39 tahun mungkin sudah memiliki atau sudah berencana membeli rumah dan hunian untuk masa depan.

Pasalnya, saat ini mereka sedang berada di rentang usia produktif dan banyak di antaranya adalah konsumen properti untuk pertama kali.

Oleh karena itu, penting bagi generasi milenial untuk tahu apa saja sih yang harus diperhatikan sebelum membeli rumah? Apakah perlu mempertimbangkan pembelian rumah baru (primer) atau seken (sekunder)? Bagaimana dengan harga rumah, sistem pembayaran hingga fasilitas dari penyedia atau developer?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, simak beberapa tips dan trik bagi milenial yang berencana mencari dan membeli rumah pertamanya, seperti yang berikut ini.

1. Rumah Pertama Bagi Milenial Wajib Sesuaikan dengan Kebutuhan

Data JLL juga menunjukkan bahwa di tahun 2021, rumah yang mendapatkan permintaan paling banyak adalah yang harganya berkisar 1,3 sampai 2 miliar.

Hal ini menunjukkan bahwa affordability merupakan salah satu faktor esensial bagi orang-orang sebelum membeli properti. Selain itu, faktor utama lain yang tak kalah pentingnya adalah lokasi properti yang sesuai dengan tempat mereka beraktivitas.

Untuk milenial, salah satu hal yang harus diperhatikan juga adalah luas tanah dan luas bangunan. Mungkin untuk keluarga kecil luas tanah sekitar 60 m² dengan dua kamar sudah cukup.

Namun saat seseorang sudah memiliki dua anak, kebutuhannya menjadi berubah karena membutuhkan area yang lebih luas dan ruangan yang lebih banyak. Untuk mendukung kehidupan sehari-hari, fasilitas pendukung yang ada di sekitar lokasi juga sangat penting dipertimbangkan. Hal ini dapat berupa keamanan, taman bermain untuk anak, atau tempat ibadah.

2. Aksesibilitas

Aksesibilitas juga harus menjadi pertimbangan sebelum membeli properti, karena mereka akan cenderung memilih hunian yang dekat dengan akses transportasi, fasilitas umum, dan layanan-layanan lainnya.

3. Kenali Karakteristik Properti Primer dan Sekunder

Pilihan properti atau rumah primer dan sekunder memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, sesuai dengan kebutuhan pembelinya.

1. Properti primer

Properti primer memiliki keunggulan desain lebih modern karena biasanya properti ini merupakan bangunan baru. Oleh karena itu, pembayaran untuk rumah ini juga memiliki lebih banyak opsi dan administrasi yang lebih mudah untuk diurus dibandingkan rumah sekunder.

Namun di sisi lain, rumah tipe ini juga memiliki kekurangan, yakni rumah tersebut belum tentu langsung bisa dihuni karena masih dalam pembangunan. Harga yang ditawarkan juga biasanya relatif mahal, kecuali properti tersebut masih dalam tahap konsep.

2. Properti Sekunder

Tidak hanya properti primer, properti sekunder juga memiliki keunggulan di mana properti ini tentu siap untuk dihuni dan cenderung memiliki harga yang lebih murah karena dihitung berdasarkan luas bangunan atau tanah, juga penawaran harga yang lebih fleksibel.

Selain itu, tentunya lokasi properti ini juga bisa relatif strategis, menyesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan pembeli. Namun, opsi pembiayaan untuk pembelian properti sekunder ini terbatas dan mungkin juga membutuhkan renovasi, tergantung kondisi bangunan ketika dibeli.

4. Budget

Dalam proses pembelian rumah, tidak hanya biaya pembelian rumah yang harus disiapkan, namun beberapa biaya untuk kebutuhan administrasi lainnya, baik saat pembelian maupun setelah pembelian rumah.

Biaya pembelian biasanya mencakup down payment, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Biaya Akta Jual Beli (AJB) dan balik nama, serta biaya KPR. Untuk pembelian rumah sekunder, akan ada pula biaya tambahan yaitu biaya notaris dan biaya appraisal.

Biaya setelah pembelian biasanya meliputi biaya pengisian perabotan dan biaya pemeliharaan. Untuk rumah sekunder mungkin ada biaya lain yang harus dikeluarkan seperti biaya renovasi.

Exit mobile version