JAKARTA, MEDIAINI.COM – Setelah sempat melandai beberapa waktu lalu, jumlah kasus harian Covid-19 di Indonesia kembali meningkat.
Menurut catatan laman resmi Satgas Covid-19, total kasus Covid-19 hingga Rabu, 26 Januari 2022, terpantau sudah menembus angka 4.301.193, naik 7.010 kasus ketimbang hari sebelumnya dan 3.509 diantaranya berasal dari wilayah DKI Jakarta.
Dengan demikian, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kasus aktif Covid-19 paling banyak di Indonesia. Di ibukota, kasus aktif mencapai 14.093 dan 11 diantaranya teridentifikasi terpapar Covid-19 varian Omicron.
Lalu untuk angka kesembuhan mencapai 4.127.662. Sedangkan kasus kematian bertambah 7, sehingga total kasus kematian meningkat menjadi 144.254 orang.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI terus menggenjot vaksinasi Covid-19. Hingga 26 Januari 2022, tercatat sudah ada 182.500.287 masyarakat Indonesia yang telah menjalani vaksinasi tahap pertama, 125.673.513 untuk vaksinasi tahap kedua, serta 1.374.184 yang sudah melalukan vaksinasi tahap ketiga alias vaksin booster.
Hadapi Kasus Covid-19, Pemerintah Matangkan Vaksin Merah Putih
Di sisi lain, pemerintah masih terus mengembangkan vaksin buatan lokal yang diberi nama vaksin Merah Putih. Pelaksana tugas Kepala PRBM Eijkman Wien Kusharyoto menyebut vaksin Covid-19 dengan platform sub unit protein rekombinan itu masih dalam proses pengembangan.
“Riset Vaksin Merah Putih masih berjalan, yang berbasis sel ragi atau yeast dalam proses pengembangan lebih lanjut. Tingkat produksinya juga sudah sesuai dengan taraf yang diisyaratkan pihak industry, dalam hal ini PT. Bio Farma,” papar Wien melalui keterangan tertulisnya.
Mendukung pernyataan Wien, Peneliti Pusat Riset Biologi Molekular Eijkman-BRIN, Tedjo Sasmono mengatakan, saat ini perkembangan Vaksin Merah Putih yang diteliti oleh tim PRBM Eijkman-BRIN sudah dalam tahap hilirisasi di mitra industri, yakni PT Bio Farma. Ia berharap dalam waktu dekat sudah bisa dilakukan uji pra-klinik dan klinik. “Semoga vaksin COVID-19 karya anak bangsa ini bisa berkontribusi dalam penangulangan pandemi dan menjadi wahana untuk kemandirian bangsa dalam riset vaksin,” imbuhnya.
Dalam kesempatan terpisah, Periset Lab. Terapeutik dan Vaksin, Andri Wardiana mengatakan, sampai saat ini Indonesia belum berhasil membuat vaksin ataupun obat biologi lainnya secara mandiri. “Dalam artian, dari mulai desain awal dan baru bisa melakukan transfer teknologi seperti yang dilakukan Biofarma dan beberapa perusahaan farmasi lainnya,” terangnya.
Menurut pendapatnya, agar Indonesia bisa memproduksi vaksin sendiri, harus dimulai dengan melakukan kerja sama banyak pihak. “Dukungan secara menyeluruh dari berbagai pihak meliputi akademisi/ peneliti, pelaku industri dan pendukung lainnya, termasuk political will dari pemerintah juga diperlukan,” tuturnya.
Andri mencontohkan, pada pengembangan vaksin Covid-19 dari Oxford/Astrazeneca berbagai macam institusi yang saling memberikan support. Berbagai institusi bekerja sama menghasilkan satu jenis vaksin yang mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) di awal.
“Kita harus memulai seperti itu, kepakaran dari berbagai bidang berkumpul dan bekerja sama untuk mewujudkan tujuan utama yaitu kemandirian produksi vaksin,” tegas Andri. “Harapan saya, dengan adanya program Vaksin Merah Putih ini bisa dijadikan momentum untuk mewujudkan kemandirian vaksin dalam negeri,” tuturnya. “Kita harus sudah mulai belajar memperbaiki hal-hal apa saja yang menjadi kendala pada proses pengembangan Vaksin Merah Putih ini” tambahnya. (Tivan)





















