JAKARTA, MEDIAINI.COM – Bisnis Jonatan Christie di luar profesinya sebagai atlet bulutangkis dimulai sejak tahun 2019 lalu. Melalui merek dagang Satoe-Noesa, pebulutangkis peringkat 8 dunia versi BWF ini menjual aneka produk clothing line. Dalam menjalankan bisnisnya, ia bermitra dengan pengusaha muda Ryan Bilardi.
Diintip dari laman resminya yang beralamat di satoenoesa.com, bisnis Jonatan Christie yang satu ini menawarkan berbagai jenis produk, mulai dari topi, kaos, masker, dan aneka macam outwear seperti hoodie dan jaket.
Jago Promosi Clothing Line, Bisnis Jonatan Christie Melesat
View this post on Instagram
Berdasarkan pengamatan Mediaini, pebulutangkis yang akrab disapa Jojo itu sering menjadi model untuk produknya. Ini menjadi salah satu strategi promosi Jojo untuk mengembangkan bisnisnya. Terlebih, Jojo memang melihat jika brand yang akan dipasarkan melalui Instagram @satoenoesa yang saat ini telah diikuti oleh lebih dari 12 ribu pengguna Instagram. Maka, peluang para pengikut untuk tertarik membeli dan mengoleksi berpeluang besar.
Selain memasarkan produknya melalui web dan Instagram, Satoe-Noesa juga membuka toko online resminya di beberapa platform e-commerce, termasuk Shopee dan Tokopedia. Di dua lokapasar ini, Satoe-Noesa kerap memberikan aneka promo dan diskon kepada para pelanggannya.
Sedangkan untuk banderol harganya, t-shirt Satoe-Noesa dijual mulai dari Rp 190 ribu, Rp 39 ribu untuk produk masker, harga topi mulai dari Rp 120 ribu, dan mulai dari Rp 280 ribu untuk outwear. Selain menjual produk, Satoe-Noesa juga kerap melakukan aktivitas sosial, misalnya lelang produk yang hasilnya didonasikan untuk membantu penanganan Covid-19.
Sukses Bisnis Jonatan Christie, Begini Tips Memulai Bisnis Clothing Line
Dalam beberapa tahun terakhir ini industri clothing line makin menjamur. Meski tampak sederhana, hanya mendesain baju dan menjualnya, tapi pada kenyataannya mengelola bisnis ini tak semudah itu. Clothing line perlu persiapan yang matang. Sebelum terjun ke bisnis ini, lakukan dulu riset yang mendalam. Terutama yang berkaitan dengan keinginan konsumen.
Data yang sudah didapat, bisa jadi pertimbangan pula terhadap konsep bisnis yang akan diambil. Jika ada satu brand yang sangat digemari di wilayah tersebut, maka menjadi reseller dari brand tersebut tampak lebih menggiurkan. Bagi yang belum memiliki modal yang cukup, bisnis menjadi reseller ini bisa menjadi pilihan yang pas.
Namun, jika persaingan merek di wilayah tersebut merata dan modal sudah mulai terkumpul di tangan, tak ada salahnya untuk mencoba membuat brand sendiri. Tentu saja, dengan mendirikan brand sendiri, Anda akan melahirkan produk yang memiliki sisi unik dibanding produk lain.
Kemudian, kembangkan brand yang Ada. Lakukan branding agar produk bisa lebih mengena di masyarakat. Pemilihan logo dan tagline yang unik sangat diperlukan di sini.
Jangan lupa, tentukan juga metode penjualan. Jika modal terbatas, berjualan secara online dengan memanfaatkan media sosial bisa jadi salah satu solusi. Namun jika modal sudah mulai terkumpul, tak ada salahnya menjajal pasar offline dengan membuka gerai fisik.
Mengenal Dunia Fesyen dan Ikuti Tren
Bisnis Jonatan Christie dibidang clothing menunjukkan jika tak perlu modal besar jika ingin mendirikan clothing line. Karena modal terbesar di clothing line adalah kreativitas dan pengetahuan dari SDM yang ada. Jadi sebaiknya kenali lebih dahulu seluk beluk dunia fesyen. Dimana fesyen erat kaitannya dengan model dan tren. Pelaku bisnis mesti paham tren fesyen apa saja yang pernah berputar di tanah air maupun dunia internasional.
Pengetahuan yang cukup akan menghasilkan kreativitas yang apik. Dari berbagai macam model dan tren yang telah dipelajari, pelaku bisnis bisa mengkombinasikan satu atau dua tren ke dalam satu item produk miliknya. Desain baju yang didesain sendiri tentu akan memiliki nilai jual yang lebih dibanding baju keluaran pabrikan.
Agar bisnis lebih terarah, buatlah tema besar setiap bulannya. Misalnya, untuk bulan ini adalah tema 90-an. Maka model baju, desain, dan segala hal berpatokan dengan tren fesyen di tahun tersebut. Ini akan jadi daya tarik tersendiri dan pembeli pun tidak akan bosan karena tema fesyen selalu berganti.
Terakhir yang paling penting adalah menemukan tempat produksi yang tepat. Jika tak bisa melakukan sendiri, bisa menjalin kerja sama dengan penjahit. Namun, pastikan penjahit tersebut bisa mengaplikasikan model yang telah disepakati. (Tivan)























