SEMARANG, MEDIAINI.COM – Hobi menanam atau berkebun tidak saja menjadikan seorang Hevearita Gunaryanti Rahayu sebagai insinyur pertanian.
Namun Wakil Walikota Semarang ini justru mampu melahirkan ide dan gagasan memiliki Sekolah Berkebun yang ada di rumahnya, Jalan Bukit Duta, Bukit Sari Semarang.
Mbak Ita, panggilan akrab beliau, menceritakan bahwa Pandemi Covid-19 yang mengharuskan semua warga Kota Semarang membatasi aktifitas di luar rumah dan memaksimalkan kegiatan di rumah justru memotivasi kegiatan berkebun. Maka sejak itu, dirinya menyalurkan hobi lamanya untuk menanam di lahan sempit yang ada di dalam rumah dan sekitarnya dengan menggunakan polybag dan pot.
Bibit tanaman maupun biji pun ditanam dan berkat pengetahuan yang didapat dari bangku perkuliahan dulu, menjadikan semua tumbuh subur dan menghasilkan buah yang istimewa. Dari sini lah kabar ‘tangan dingin’ Mbak Ita menyebar ke mana-mana. Semua yang tahu kesusksesan menanam ini justru ingin belajar. Meski dengan cara yang terbatas, akhirnya hobi menanam ini menjadi gerakan menanam sebagai upaya mengisi ‘kegabutan’ selama Pandemi Covid-19.
Mbak Ita sendiri menyikapi cara-cara mengajarkan melalui media sosialnya kepada masyarakat. Minat belajar menanam pun sangat luar biasa ditanggapi masyarakat. apalagi untuk memanfaatkan lahan tidur. Perlahan namun pasti akhirnya Wakil Walikota Semarang ini membuat Sekolah Berkebun yang pesertanya bebas siapa dan dari mana. Juga untuk belajat tidak dipungut beaya alias gratis. Malah mereka pulang diberi tanaman maupun benih untuk ditanam.
Gerakan menanam melalui Sekolah Berkebun ini juga disupport oleh Mantan Presiden ke-5 Indonesia Prof Dr (HC) Hj Megawati Soekarnoputri.
“Ibu Megawati sangat luar biasa mensupport kami. Kami mendapatkan banyak bibit pohon, jumlahnya ribuan untuk mendukung gerakan menanam atau berkebun. Sebagian pohon sudah kami tanam dan tersebar di seluruh wilayah Semarang. Kami juga menguji coba tanaman padi MSP (Megawati Soekarnoputri) yang memiliki masa tanam hingga panen pendek sekitar 3 bulan. Kini masih kami uji coba menanamnya di lahan perkotaan dengan pot. Untuk sementara in kami lihat bisa tumbuh normal dalam kurun sekitar 1 bulan ini. Kami sangat optimistis padi ini bisa kami kembangkan dengan ditanam di lahan perkotaan yang sempit melalui media pot,” ungkap Mbak Ita.
Selain Padi MSP, Mbak Ita juga menguji coba padi M70 yakni padi yaang masuk varietas unggul dengan masa tanam hingga panen 70 hari, lebih cepat dari MSP. “Padi M70 sedang kita tanam dan tunggu hasilnya. Kalau yang sudah berhasil kita uji coba antara lain Si Denuh dengan hasil panen 3 kilogram untuk lahan sekitar 2 x 3 meter dengan media tanam dalam pot. Bulir padinya ternyata genuk dan menghasilkan nasi pulen,” ungkap Mbak Ita.
Sekolah Berkebun ini menurut Mbak Ita menjadi tempat masyarakat belajar menanam dan berkebun.
Tujuannya agar bisa memanfaatkan lahan sempit di perkotaan untuk berkebun maupun bertani.
Meski terbatas ruangannya, harapannya setidaknya bisa untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau keluarga.
Tanaman yang di tanam di lahan-lahan sempit dan sudah berhasil dinikmati hasilnya antara lain sayuran dan buah-buahan. Beberapa waktu lalu, Mbak Ita bahkan diajak warga panen kacang panjang di wilayah Kecamatan Mijen dan panen gambar di wilayah Kelurahan Brotojoyo. Semuanya hasil dari pembelajaran masyarakat di Sekolah Berkebun yang didirikannya.
Putri Proklamator, Prof Dr (HC) Hj Megawati Soekarnoputri sangat mendukung kegiatan yang digagas Mbak Ita karena selaras dengan konsep Kedaulatan Pangan. Bu Mega menurut Mbak Ita sangat konsen terhadap Kedaulatan Pangan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebagai negara yang agraris dan memiliki sumber daya serta potensi yang luas di bidang pertanian, maka Kedaulatan Pangan ini menjadi salah satu unsur kekuatan utama.
Mbak Ita berharap misal satu keluarga bisa mengoptimalkan rumah dan lingkungannya untuk berkebun dan bertani, maka hasilnya ketika bisa dinikmati akan menjadikan keluarga tersebut tidak memiliki ketergantungan. Dan apabila semua kebutuhannya bisa dicukupi sendiri maka mereka bisa disebut berdikari.
Menanam tampaknya akan terus menjadi aktifitas yang sulit ditinggalkan demi terciptanya lingkungan yang hijau serta ketahanan pangan. Oleh karena itu PT Pupuk Pusri Indonesia pun kini ikut mensupport gerakan menanam Sekolah berkebun. beberapa tenaga ahli pertanian bahkan diterjunkan untuk mengobservasi hasil tanaman, kondisi tanah dan hasil panen. Hal ini menurut Moh Adam Mustholih selaku AVP Penjualan Jateng I Pusri (Pupuk Sriwijaya Palembang), untuk menyempurnakan hasil dengan penggunaan pupuk yang tepat.
“Kehadiran kami di Sekolah Berkebun ini bentuk support dan ingin membantu mengoptimalkan hasil pertanian yang dikembangkan Ibu Wakil Walikota Semarang ini. Tentunya kami membantu dengan menentukan pemupukannya yang sesuai dengan produk kami agar bisa mencapai hasil maksimal. perkembangan tanaman dan ciri tananaman sudah kami observasi dan kini tanah sudah kami ambil sample untuk diteliti di laboratorium kami,” ujar Moh Adam Mustholih.
Pada Jumat (29/10/2021), Sekolah Berkebun ini mendapat kunjungan dari Sahabat Difabel Kota Semarang. Para penyandang difabel ini juga ikut belajar cara menanam dan berkebun.
Novi, Koordinator Sahabat Difabel mengaku bahagia sekali bisa berkesempatan belajar berkebun di Sekolah Berkebun milik Mbak Ita. “Berkebun ternyata sangat bermanfaat bagi sahabat difabel. Kami juga berterima kasih, berkat sekolah ini seorang anggota Sahabat Difabel juga sudah sukses berkebun dan hasilnya sudah bisa dinikmati, bahkan dijual. Berkebun ternyata juga bisa menjadi cara terapi , melatih kesabaran juga mengasah perhatian atau kepedulian,” ungkap Novi.






















