JAKARTA, MEDIAINI.COM – Pemerintah mencanangkan program Work From Bali (WFB) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan klasifikasi tertentu untuk upaya pemulihan ekonomi bagi daerah pariwisata tersebut. Apalagi, Bali kena hantaman berat saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia.
Dengan adanya ASN Work From Bali, diharapkan membuat ekonomi Pulau Dewata itu makin membaik. Dalam program WFB tersebut, setidaknya 8 kementerian yang ASN-nya akan diperintahkan melakukan pekerjaan kantor dari Bali. Kementerian tersebut yakni Kemenko Bidang Kemaritiman dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Lalu Kementerian ESDM, Kemenparekraf, Kemenhub, Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Kementerian Investasi.
ASN Work From Bali Telah Berjalan
Saat ini program WFB yang dicanangkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, sedang berjalan. Hanya saja sejumlah 25 persen dari tiap kementerian ASN yang dapat pembagian bekerja dari kantor dan bekerja dari Bali.
Besaran jumlah tersebut mengacu pada kajian nomadic tourism yang sudah dilaksanakan di beberapa negara, yakni Australia, Jerman, Inggris, dan Prancis. Namun, kuota 25 persen baru berupa usulan yang perlu dibicarakan lebih lanjut. Selain itu, program tersebut hanya untuk golongan ASN dengan jabatan tertentu.
Luhut Binsar Pandjaitan menganggap, Nusa Dua sebagai percontohan pelaksanaan work from Bali, karena kawasan itu memiliki manajemen tunggal. Dengan begitu, pengendalian dan pengawasan akan lebih mudah.
Jumlah Turis Bali Naik Berlipat
Sementara itu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan, Work From Bali yang dilakukan sudah meningkatkan jumlah kunjungan tiga kali lipat.
“Kami sudah mulai dari Januari, kami melihat ada peningkatan efektivitas dari kerja kita untuk membangkitkan pariwisata di Bali dari tadinya kunjungan dari 2.000-2.500 orang per hari menjadi 7.000-7.500 orang, jadi ada 3 kali lipat peningkatannya,” kata Sandiaga Uno.
Sandiaga juga mengungkap fakta soal bugjet. Ia menambahkan meski bekerja dari Bali, anggaran kementeriannya tidak bertambah. Menurutnya, WFB yang sedang dijalankan tepat sasaran dan ini bentuk adaptasi di tengah-tengah pandemi.
Dibeberkan Sandi, angka kunjungan itu terus bertambah dibanding sebulan sebelumnya. Pada April lalu, Sandi pernah mengatakan jumlah kunjungan ke Bali saat itu mencapai 4.000-4.500 orang per hari.
Namun memang angka kunjungan wisata itu masih di bawah jumlah kunjungan harian ke bali sebelum pandemi yang bisa mencapai 17 ribu orang.
Kedepannya, Kemenparekraf kemungkinan akan meluas, bekerja dari destinasi lainnya seperti Labuan Bajo. Namun memang untuk bekerja di destinasi yang terpencil ada satu kendala yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yakni infrastruktur digital seperti koneksi internet.(Ken)























Discussion about this post