JAKARTA, MEDIAINI.COM – Upaya pemerintah untuk terus menekan jumlah tingginya penularan Covid-19 patut diapresiasi. Terhitung, Senin (11/1), kebijakan untuk melaksanakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) mulai dilakukan. Dalam Keputusan Gubernur yang ditanda tangani oleh Anies pada tanggal 7 Januari lalu menyebutkan jangka waktu PSBB. Yaitu mengikuti pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat, yaitu tanggal 11 Januari hingga 25 Januari 2021.
Kebijakan ini memang mendapatkan berbagai respons. Salah satunya para pasien yang tengah karantina berjuang memerangi virus corona. Menyetujui berbagai kebijakan yang mendukung agar virus ini segera hilang dan tak lagi menghantui. Pasalnya, tak pernah memang terlintas di pikiran mereka akan terpapar Covid-19 dan jauh dari keluarga. Lalu menjalani karantina di Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta pusat. Namun, menjalani karantina bukan akhir dari segalanya. Mediaini.com mendapatkan kesempatan untuk bisa wawancara dan mendapatkan berbagai kisah inspiratifnya.
Gelar Resepsi

Nuraini Ummia atau Aini, wanita berusia 25 tahun yang berprofesi sebagai reporter di sebuah grup media terbesar itu terpaksa melangsungkan pernikahan di Wisma Atlet. Padahal sebelumnya Aini bersama kekasihnya sudah mempersiapkan matang rencana perkawinannya.
“Pandemi Covid 19, nggak apa-apa mengambil sedikit nikmat sehat yang aku punya. Tapi pandemi ini nggak boleh ngambil semua mimpi dan harapan aku. Jadi gimanapun situasinya harus punya mimpi dan harapan yang selalu hidup,” ungkap Aini kepada Mediaini.com
Dengan wajah ceria, Aini mengungkap rasa syukurnya. Ia optimis badai yang melanda Indonesia dengan Covid-19 bisa dilewati bersama dengan semangat dan saling mengingatkan pentingnya kesehatan. “Aku nggak ingin membuat ini semua menjadi duka. Aku mencoba untuk selalu mensyukuri apa yg Allah kasih ke aku, apapun itu ini semua takdir dan ketetapan dari Allah jadi kita harus selalu semangat dan gembira. Yang tadinya ku pikir ini semua akan menjadi duka, ternyata dengan kebaikan dan keramahan para nakes semua musibah seolah berubah jadi nikmat luar biasa yang Allah kasih buat aku,” beber Aini.
Bertemu Teman Sefrekuensi

Lain halnya dengan kisah Abdul Aziz, seorang karyawan swasta berusia 30 tahun. Berada di RSD Wisma Atlet karena menderita Covid-19 bukan sesuatu yang menyenangkan. Menurutnya, perasaan rindu memang membuatnya sedih tatkala jauh dari keluarga, anak dan istri. Namun, perlahan dibarengi semangat untuk sembuh, Aziz menemukan kenyamanan tatkala bertemu teman sefrekuensi.
“Saya merasa kurang nyaman disini karena jauh dari istri dan anak anak. Sudah 18 hari disini, berharap swab ke-3 hasil nya negatif dan segera pulang bertemu keluarga. Selama di wisma atlet merasa terawat dari segi makanan dan perawatan. Disisi lain banyak teman-teman juga disini jadi nggak terlalu sedih-sedih amat,” cerita Abdul Aziz mengamini.
Anton Heryanto, pelaku UMKM yang mengembangkan masakan rumahan asal Padang juga mengungkapkan hal yang sama. Menganggap jika karantina bisa mengekangnya.”Saya mikir di sini dikekang nggak bisa ke mana-mana, karena kan namanya rumah sakit. Tapi ternyata pas di sini, jauh dari omongan yang saya dengar. Disini bakat terpendam saya juga keluar, mendadak jadi intruktur senam,”ujarnya.
Menurut Anton memang jauh dari keluarga cukup membuat rasa rindu tapi dengan kehadiran teman yang bisa diajak beraktivitas dan satu frekeuensi sangat membantunya melewati hari-hari di karantina. “Alhamdulillah punya teman baru, keluarga baru jadi belajar arti kesehatan,” tutup Anton Heryanto.(Ken)























Discussion about this post