Rayakan 18 Tahun di Indonesia, Starbucks Keluarkan Tumbler Bertema Nusantara 

Rayakan 18 Tahun di Indonesia, Starbucks Keluarkan Tumbler Bertema Nusantara 

SEMARANG, MEDIAINI.com – Salah satu merek kopi global Starbucks, sudah 18 tahun hadir di Indonesia.

Kehadiran Starbucks di Indonesia bukan hanya ekspansi bisnis, melainkan menjadikan kopi Indonesia memiliki nilai lebih tinggi di kancah internasional.

Momen ulang tahun 18 tahun Starbucks di Indonesia dirayakan dengan berbagai cara. Setelah mengadakan virtual coffee tasting bersama 185 barista di seluruh Indonesia, Starbucks Indonesia menghadirkan serangkaian merchandise unik bertama “Folklore City Collection”.

Koleksi Folkore City Collection hadir dengan beberapa koleksi. Seperti tumbler, Starbucks Card, buku album untuk mengoleksi Starbucks Card, mug, tote bag, dan boneka barista.

Pemilihan tema nusantara bertujuan untuk menghadirkan warisan budaya melalui 12 desain yang menggambarkan karakter dan cerita rakyat dan legenda.

Seperti Si Pitung, Bawang Merah Bawang Putih, Timun Mas, Raden Alit, dan tokoh lainnya. Tak ketinggalan landmark di beberapa daerah tempat Starbucks Berada.

Anthony Cotan, presiden direktur PT Sari Coffee Indonesia mengatakan, keterlibatan kami di tengah masyarakat adalah ambisi dan cita-cita yang membuat kami terus melangkah maju. (18/5/2020).

“Dalam masa yang tidak pasti ini, kami bersyukur karena masih dapat melayani para pelanggan di tengah pandemi dengan berbagai cara”. Lanjutnya.

Dengan mengusung tagar #18TahunBarengSbuxID di media sosial, Starbucks mengajak masyarakat untuk berbagai momen mereka dengan Starbucks. Selain itu, berbagai promo tetap berlaku di masa pandemi ini untuk merayakan ulang tahunnya.

“Untuk menunjukkan dukungan kami kepada masyarakat, kami terus memberikan dorongan dan semangat melalui produk dan minuman Starbucks yang kami berikan kepada para garda terdepan selama bulan April dan Mei, dan berencana untuk menjaga hubungan berkelanjutan dengan mereka yang mendedikasikandirinya untuk pelayanan kepada masyarakat”. Pungkasnya. (Praditya Wibisono)

Exit mobile version