MEDIAINI.COM – Petani milenial yang sukses mampu menghasilkan omzet hingga ratusan juta. Tak hanya satu, tapi ada banyak yang sudah membuktikannya. Padahal petani-petani ini masih sangat muda, tapi masih punya semangat yang besar untuk membuka bisnis di sektor pertanian.
Inilah alasan banyak petani milenial yang sukses, pertama kredibilitas generasi milenial di bidang pertanian memiliki peluang ekonomi yang lebih baik. Kedua, milenial dapat memanfaatkan teknologi digital untuk berwirausaha di bidang pertanian. Hal ini terbukti dengan bertambahnya jumlah start-up milenial pertanian dengan berbagai inovasi pemasaran/distribusi hingga tembus pasar dunia. Ketiga, pendistribusian pangan perlu didukung dengan packaging yang aman. Keempat, strategi menyiapkan ketersediaan hingga pendistribusian pangan di tengah pandemi. Terakhir, sektor pertanian saat ini sedang dibutuhkan dunia.
5 Petani Milenial Sukses
1. Sandi Octa Susila
Sandi Octa Susila adalah seorang petani milenial yang sukses dan mampu menghasilkan omzet hingga ratusan juta. Sandi juga merupakan Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian. Pada usia 27 tahun, ia telah berhasil mengelola tanah pertanian seluas 120 hektar. Laki-laki bergelar Master Manajemen Agribisnis dari kampus pertanian terbaik di Indonesia, Institut Pertanian Bogor (IPB) ini menjadi penggerak 373 petani, dan lahan pribadi yang sudah memiliki 50 karyawan.
Petani muda asal Cianjur, Jawa Barat ini telah memperoleh penghasilan bahkan sejak masih menjadi mahasiswa pada 2014 lalu. Garapan tanah 120 hektar tersebut yang membantu Sandi memperoleh omzet dari Rp500 juta hingga Rp800 juta per bulannya. Tapi dibalik itu semua ada perjuangan besar Sandi. Ia selalu mau turun ke pasar tradisional untuk menutupi kekurangannya jika petani tidak dapat memenuhi pesanan. Pada 2019, Sandi melakukan penjajakan dengan Korea Selatan. Dimana kerjasama tersebut, 70 persennya adalah sharing dari Korea Selatan berupa teknologi, sedangkan 30 persennya sharing dari Indonesia berupa materialnya yang diwakili oleh Mitra Tani Parahyangan.

2. Rizal Fahreza
Rizal Fahreza adalah seorang petani milenial yang baru berusia 29 tahun. Pada saat mengawali bisnis pertaniannya, Rizal memulai dengan menggarap lahan seluas 2,2 hektar yang diperolehnya dengan sistem bagi hasil. Lewat sistem sewa lahan dan juga lahannya sendiri, Rizal mampu menggandeng sebanyak 17 petani hortikultura di enam kecamatan di Garut.
Sampai sekarang ini, Rizal masih menyuplai buah jeruk sebanyak 1,2 ton atau sekitar 400 dus per hari untuk wilayah Jakarta dan Bogor. Petani milenial yang sekaligus jadi pengusaha muda ini menerima program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) dari Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) yang merupakan salah satu SDM berkualitas yang dimiliki oleh Indonesia.

3. Wisnu Saepudin
Wisnu Saepudin merupakan salah satu sosok petani milenial yang sukses. Petani paprika ini sudah 4 tahun mengusung konsep kolaborasi dan edukasi. Ia telah menuai keberhasilan dan menjadi sosok baru bagi milenial di kampungnya yang saat ini telah memiliki 22 petani binaan. Wisnu memberanikan diri untuk membangun sebuah green house dengan biaya yang cukup mahal yaitu Rp105 juta, namun bisa bertahan sampai 8 tahun.
Wisnu mengatakan bahwa ia bisa memasok 1-1,5 ton sehari dengan silih berganti saling mengisi pengiriman ke beberapa pasar di Jawa Barat, Jakarta, dan Bali. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, menurut Wisnu ini juga bisa memberikan kemudahan. Lewat internet, ia mencari supplier bibit paprika terbaik yang masih mengandalkan Belanda dan Thailand. Biasanya wisnu memasok ke petani 10 gram seharga Rp900 ribu yang berisi 1200 biji. Kini ia sanggup meraup untung bersih hingga Rp20 juta per bulan.

Baca juga: Daftar Ide Bisnis Pertanian Modern yang Menguntungkan
4. Kelompok Tani Agronative Farm
Kelompok Tani Agronative Farm di Lembang, Bandung Barat ini telah sukses untuk memasarkan produk sayuran dengan memanfaatkan teknologi informasi. Bahkan kesuksesannya mampu meraup omzet hingga ratusan juta per bulan. Buncis merupakan sayuran favorit impor dan pasar lokal. Kelompok tani tersebut bahkan sudah menjadi salah satu UKM yang tetap bertahan meski di tengah pandemi.
Baby buncis ini dipilih sebagai ladang bisnis masa depan. Karena sayuran ini adalah salah satu jenis yang paling bisa diolah menjadi beraneka masakan lezat. Maka tak heran bahwa potensi bisnis ini cukup luas. Kelompok tani yang beranggotakan 50 orang ini juga sudah mengekspor baby buncis hingga ke mancanegara seperti Singapura. Selain itu, baby buncis pun telah tersedia di beberapa pasar modern di Jakarta dan Bandung dan mampu meraup omzet hingga Rp300-400 juta per bulan.

5. Jatu Barmawati
Salah satu petani milenial yang sukses dengan hasil omzet ratusan juta ini adalah Jatu Barmawati. Meskipun ia merupakan seorang perempuan, tapi perempuan asal Lampung ini memang terlahir dari seorang petani. Pada usianya menginjak 29 tahun, Jatu lebih memilih bertani daripada profesi yang mampu membuatnya menjadi sarjana pertanian.
Menurutnya, pertanian merupakan sustainability sexy, yang semakin ditekuni maka akan semakin penasaran dan menggairahkan. Jatu juga terpilih menjadi Duta Petani Milenial. Menurutnya ini jadi peluang besar untuknya karena semakin luas relasinya. Ia juga telah mendapatkan dukungan dari pemerintah khususnya Kementerian Pertanian. Salah satunya bantuan program Penumbuhan Wirausaha Muda Pertanian (PWMP) yang dimanfaatkan untuk modal usaha mengembangkan bisnisnya.

(Gusti Bintang K.)
Foto Ilustrasi: Pexels


























