MEDIAINI.COM – Berkebun awalnya dianggap sebagai hobi yang kuno, tak banyak peminatnya. Hingga akhirnya beberapa akun Instagram yang bercerita soal seluk beluk berkebun muncul, viral, dan menginspirasi banyak orang.
Penghobi berkebun pun menyebar laksana virus. Dari pinggiran merambah ke kaum urban. Berkebun di perkotaan ini lebih dikenal dengan istilah urban farming.
Salah satu akun yang selalu mengajak masyarakat kembali ke alam adalah @kebunkumara. Kebun Kumara rutin mengadakan virtual learning tentang dasar-dasar berkebun. Selain itu ada akun @idberkebun yang merupakan akun resmi komunitas pertanian kota di Indonesia.
Beberapa kali @idberkebun mengadakan talkshow tentang berkebun, membedah buku, dan memberikan tips-tips dan contoh urban farming yang menarik untuk berkebun di tengah kota. @idberkebun bahkan menawarkan cara unik dalam berkebun yakni menanam sayur di dalam tas dan berkebun hanya dari kotak kecil. Cara ini efektif untuk masyarakat perkotaan yang tidak memiliki banyak lahan.
Kemudian ada pula akun IG @kebunberdaya, yang juga menjadi salah satu referensi banyak orang sebelum memulai berkebun.
Tren Urban Farming
Tren urban farming atau pertanian kota di Jakarta mengalami peningkatan signifikan selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kepala Bidang Pertanian Dinas KPKP DKI, Mujiati, mengatakan bahwa walaupun belum terdata seberapa besar penambahan lokasi urban farming yang terjadi selama masa PSBB, pihaknya sudah mencatat sedikitnya ada sekitar 900 titik urban farming baru di Jakarta.
Urban farming menjadi solusi untuk memenuhi kebutuhan sayuran dan buah secara mandiri. Bahkan jika berlebih, hasil dari urban farming bisa dijual dengan nilai ekonomi yang tak kalah dengan pertanian konvensional.
Planter Bag dari Spanduk Bekas
Beberapa inspirator urban farming sudah menggalakkan berbagai macam konsep dan kegiatan. Salah satunya adalah Kebun Berdaya. Kebun Berdaya adalah proyek dari Kelompok Mina Tani Banjar Tegeh Sari yang diketuai oleh aktivis Kagama Bali jebolan Fakultas Geodesi angkatan 1991, Gede Mantrayasa. Kelompok ini kemudian bekerja sama dengan Kagama Care untuk membuat proyek percontohan budidaya tanaman pangan di lingkungan perkotaan (urban farming).
Beberapa proyek telah dikembangkan di Kebun Berdaya, di antaranya pemeliharaan ikan lele di dua kolam besar berukuran 2 meter dengan ikan lele berjumlah 1000 ekor. Lalu ada proyek pembibitan dengan benih sumbangan dari Kagama Care yang telah menghasilkan bibit tanaman pangan dan sudah dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Saat ini Kebun Berdaya telah memiliki Kebun Taman Dunia (Globe Garden) yang dikelola bersama, melibatkan anak-anak, remaja dan warga sekitarnya. Kini, partisipasi warga untuk bercocok tanam di rumah meningkat. Bahkan kreativitas kelompok ini juga ditunjukkan melalui kreasi planter bag dari kain sisa spanduk atau banner dan hasilnya dibagikan kepada warga yang membutuhkan wadah tanaman.
Menuai Penghargaan
Yang kedua adalah IDBerkebun. ID Berkebun atau Indonesia Berkebun diinisiasi oleh Ridwan Kamil, Sigit Kusumawijaya, Achmad Marendes, dan Shafiq Pontoh. Gerakan yang mengkampanyekan urban farming ini memiliki misi menyebarkan semangat positif untuk lebih peduli lingkungan dan perkotaan.
Sampai saat ini, IDBerkebun telah menyebarkan misi yang sama ke-32 kota dan 9 kampus di penjuru Indonesia Berkat gerakan dengan semangat bertanam ini, Indonesia Berkebun dianugerahi penghargaan oleh Google Asia Pacific untuk kategori Web-Heroes pada tahun 2011, Inspiring Movement for Environment 2013 dari Nutrifood, dan Finalist Ashoka Changemakers 2013.
Penyebaran ID Berkebun ini berkat media sosial, yaitu Twitter, Facebook, dan YouTube. Ke depan, IDBerkebun akan membuat aplikasi mobile untuk mengumpulkan anggota-anggotanya dari berbagai daerah, sehingga bisa mendaftar dan berkomunikasi dengan mudah. Mereka nantinya bisa berdiskusi tentang teknik menanam, merawat, memanen tanaman tertentu, pupuk, dan metode-metode menanam yang lebih mutakhir.
Menggelar Pelatihan
Inspirator ketiga adalah Kebun Kumara. Kebun Kumara didirikan oleh Soraya Cassandra, akrab dipanggil Sandra, seorang perempuan lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan University of Queensland.
Saat ini, Kebun Kumara banyak dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai kalangan usia. Berbagai pelajaran bisa didapatkan dengan membayar tiket sebesar Rp 45 ribu. Kebun Kumara sendiri terletak di Pulau Situ Gintung 3, Jl. Kertamukti Pisangan Raya No. 129, Cirendeu, Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan Banten.
Kebun Kumara juga aktif menawarkan berbagai pendidikan lingkungan hidup dan pelestarian alam. Pelatihannya mulai dari berkebun, belajar Ecobrick, COB (membangun dengan semen organik) dan menyelenggarakan pelatihan dengan anak-anak sekolah, mahasiswa, komunitas dan masyarakat umum. (Chelsea Venda).
Baca juga : Kebun Kumara, Ajak Kaum Urban Milenial untuk Berkebun dan Menjaga Alam



























Discussion about this post