MEDIAINI.COM – Nama Kebun Kumara tidak asing lagi di kalangan yang hobi berkebun. Di Instagram, Kebun Kumara dikenal sering memberikan edukasi, tips, bahkan mengadakan kelas belajar daring untuk yang ingin menjajal asyiknya dunia berkebun.
Tidak dipungkiri, kemajuan kota-kota di Indonesia membuat maraknya pembangunan gedung bertingkat. Hal ini berbanding terbalik dengan ketersediaan lahan perkebunan. Sehingga masyarakat perkotaan cenderung sulit untuk melakukan kegiatan berkebun.
Kebun Kumara hadir memberi perspektif lain dalam melihat permasalahan tersebut. Ririn, salah satu relawan di Kebun Kumara mengatakan berkebun tidak lagi harus memiliki lahan besar. Yang terpenting menurutnya adalah kemauan untuk belajar terlebih dahulu. Kegiatan berkebun di perkotaan bisa diakali dengan menggunakan pot sebagai media tanam.
Kenalkan Cara Berkebun dan Bertani
View this post on Instagram
Siti Soraya Cassandra, pemilik Kebun Kumara, awalnya ingin membuat wadah berupa kebun belajar. Ide ini berangkat dari keprihatinannya tentang betapa berjaraknya manusia dengan alam. Ia dan sang suami, Dhira Narayana, juga keluarganya kemudian mendirikan Kebun Kumara di Tangerang Selatan. Setelah sebelumnya berguru soal permakultur di Yogyakarta.
Sandra menyebut dirinya petani kota dan tak ragu menyebarkan serta mengajarkan ilmu yang dimiliki untuk banyak orang, dari anak-anak sekolah, hingga penduduk kota lain yang ingin belajar hidup serasi berdampingan dengan alam.
Menurutnya, berkebun seperti terapi bagi dirinya. Berkebun membantu menyelaraskan kehidupan manusia, mengajarkan kita untuk sedikit melambat, hidup di masa sekarang dan lebih peka terhadap semesta.
Lewat Kebun Kumara, Sandra ini ingin mengedukasi generasi muda untuk mengenal kembali tanah dan mengajak mereka bercocok tanam. Hal ini agar ada regenerasi petani di Indonesia, mengingat banyak anak muda yang tidak menyukai dunia pertanian.
Berlibur dan Bertanam
Kebun Kumara terletak di area wisata Situ Gintung, tepatnya di pintu 3. Setiap hari tempatnya tak pernah sepi menerima tamu yang ingin mengenal berkebun. Di Kebun Kumara setiap akhir pekan selalu mengadakan kelas khusus. Cukup Rp 45 ribu per orang, pengunjung akan diajak praktik langsung dan mendapat segudang pengetahuan.
Kelas akan dimulai dengan penjelasan singkat tentang poin-poin penting yang mesti diperhatikan. Tidak sekedar belajar jenis tanaman yang diinginkan, tetapi perlu memperhitungkan lokasi tanam dan medianya. Kelas yang berlangsung sekitar dua jam ini akan memberikan materi yang berbeda setiap minggunya.
Meski ilmu berkebun begitu kompleks dan cenderung membutuhkan lahan besar, namun di Kebun Kumara pengunjung akan diajarkan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitar yang tidak memakan banyak biaya. Misalnya menggunakan wadah plastik bekas untuk media pot dan pupuk kandang untuk proses penyuburan. Hasilnya, sehat dikonsumsi dan ramah lingkungan.
Terakhir, berkunjung ke Kebun Kumara juga bisa untuk media terapi. Menurut Sandra, ada manfaat lebih dari sekadar menanam. Saat tangan dan kaki sering bersentuhan dengan tanah atau alam, tubuh dengan sendirinya juga berelaksasi.
Berkebun bisa menjadi media terapi yang tepat untuk menyeimbangkan jiwa dan raga yang lelah. Karena itu, Kebun Kumara menganjurkan saat training tak perlu ragu tangan dan kaki jadi kotor. Tanah memang mengotori, namun ia juga menyerap polusi yang telah meracuni tubuh sehari-hari.
Baca pula : Raup Untung Lewat Bisnis Hidroponik, Berikut Cara Strategis Memulainya
Hidup Berdampingan dengan Alam
Kebun Kumara ingin mengajak kaum urban untuk hidup berdampingan dengan alam. Itu merupakan alasan utama Sandra mendirikan Kebun Kumara pada 2016 silam. Sandra melihat jarak antara masyarakat urban dengan alam semakin jauh, terutama adanya persepsi bahwa untuk kembali ke alam sulit dilakukan bila tinggal di kota.
Padahal masyarakat kota bisa ikut andil mengurangi emisi karbon dengan berkebun, meskipun sebatas berkebun di halaman sempit dengan pot saja. Kebun Kumara, Sandra dan para pendiri lainnya bertekad mengajak kaum urban untuk meraih gaya hidup seimbang dengan berinteraksi dengan alam. Tentu saja membangun sesuatu yang di luar kebiasaan tidak segampang membalikkan telapak tangan. Banyak sekali tantangan.
Sandra bahkan sempat mengungkapkan kekesalannya saat diundang ke Istana Negara pada hari Sumpah Pemuda 2017 lalu. Sandra sempat curhat pada Presiden Joko Widodo tentang banyaknya anak muda sekarang yang tidak berminat menjadi petani. Menurutnya, regenerasi petani di Indonesia cukup memprihatinkan. Bahkan, anak petani sendiri yang ditemuinya juga enggan meneruskan pekerjaan orang tuanya. (Chelsea Venda).
Baca juga : Urban Farming Viral Lewat Sosmed, Ikuti Akun Para Inspiratornya



























Discussion about this post