MEDIAINI.COM – Branding adalah sebuah usaha yang masuk dalam strategi marketing. Branding dibentuk dari nama, logo, simbol dan hal lainnya yang bisa mengidentifikasikan sebuah bisnis. Tujuan dari branding adalah untuk dapat lebih cepat mengenalkan perusahaan ke khalayak luas, baik soal produk maupun pelayanan.
Nama di Balik Layar
Ada beberapa perusahaan yang sukses melakukan usaha branding-nya. Bahkan saking kuatnya, merek brand tersebut justru lebih terkenal dibanding nama pemiliknya sendiri. Siapa sajakah mereka?
Adalah Kevin Systrom, mahasiswa asal Stanford University, si pemilik Instagram. Hal ini berawal dari ketertarikan Kevin pada dunia fotografi, kemudian ia berusaha untuk mencari sokongan dana dari investor dan mulai mengembangkan Instagram. Dua tahun setelah peluncuran aplikasi, Facebook membelinya dengan harga USD 1 miliar.
Yang kedua adalah Ole Kirk, si penemu mainan lego. Lego sendiri terdiri dari 2 kata dari Denmark yaitu “leg” (bermain) dan “godt” (bagus). Pada 1947, mainan yang terbuat dari plastik ini lahir dan besar hingga kini.
Yang ketiga adalah Isaac Tigrett dan Peter Morton. Dimulai pada 1969, ketika grup band The Doors sedang merekam album Morrison Hotel dan menemukan restoran bernama Hard Rock Cafe. Mereka kemudian membuat beberapa foto di kafe ini dan meletakkan foto itu di sisi belakang sampul album. Setahun kemudian, 2 orang Inggris Isaac Tigrett dan Peter Morton meminta izin The Doors untuk membiarkan mereka membuka kafe di London dengan nama Hard Rock Cafe.
Keempat adalah Howard Schultz, sang pendiri kedai kopi paling terkenal di dunia, Starbucks. Pada awalnya, Starbucks berdiri pada tahun 1971 sebagai toko yang menjual biji kopi dan peralatan kopi di Seattle. Baru pada 1987, ketika perusahaan itu dibeli oleh Howard Schultz (pemilik Il Giornale), berubah menjadi kedai kopi sungguhan.
Berikutnya ada Larry Page dan Sergey Brin. Nama CEO Google ini tak dikenal banyak orang seperti halnya Mark Zuckerberg sebagai pendiri Facebook. Google didirikan pada September 1998 oleh Larry Page dan Sergey Brin yang pada saat itu masih berstatus mahasiswa Ph. D. di Universitas Stanford.
Mengubah Genre Produk
Tokoh di balik layar sebuah merek ternama lainnya adalah Phil Knight. Phil ini di waktu mudanya sangat hobi berlari. Menurutnya, kualitas sepatu lari yang dijual di AS pada 1960-an tidak ada yang cukup baik. Ia pun menciptakan perusahaan Blue Ribbon Sports untuk menjual sepatu sneakers Jepang di AS. Seiring berderaknya waktu, Phil memutuskan membuat merek sepatu sneakers sendiri yang diberi nama Nike. Hal ini lantaran hubungannya dengan pemasok sepatunya yang terdahulu mengalami kendala.
Beberapa pebisnis memang mengubah alur perusahaan hingga mengubah genre produk karena beberapa faktor. Ada yang karena menemukan masalah di tengah jalan sehingga akhirnya kreatif berinovasi, ada yang mengubah genre produk karena mengikuti permintaan pasar.
Hal ini seperti yang dilakukan Lee Byung-chull. Pada awalnya Samsung yang didirikan Lee Byung ini tidak bergerak di bidang elektronik, melainkan distributor bahan makanan sehari-hari yang diekspor ke China. Baru pada tahun 1960, Lee nekat mengembangkan sayapnya ke dunia industri elektronik karena melihat pangsa pasar yang mulai kecanduan teknologi.
Tips Membangun Personal Branding
Personal branding adalah proses memasarkan diri dan karier melalui suatu citra yang dibentuk untuk khalayak umum. Sebelum melakukan personal branding, pastikan dulu bahwa produk dan layanan yang ditawarkan memiliki kualitas baik. Baru kemudian rangkul massa lewat brand personal.
Langkah kedua untuk membangun brand, tonjolkan karakteristik produk ke dalam konten-konten misalnya seperti artikel, foto, video, dan sebagainya. Semakin baik dan banyak konten yang dibuat, kredibilitas dalam bidang terkait juga akan ikut meningkat.
Ketiga, posisikan produk mudah dicari di internet. Ini bisa dilakukan dengan membuat profil di berbagai situs yang punya jangkauan luas seperti Facebook, LinkedIn, atau Twitter. (Chelsea Venda).


























Discussion about this post