Bisnis Bengkel Sepeda, Raup Untung di Tengah Pandemi

Bisnis Bengkel Sepeda, Raup Untung di Tengah Pandemi

MEDIAINI.COM – Pandemi telah memberi dampak signifikan bagi kehidupan. Namun, tak semuanya berakhir buruk. Disadari atau tidak, pandemi juga telah mengubah orang untuk menerapkan gaya hidup sehat, misalnya dengan mengkonsumsi makanan sehat dan olahraga.

Salah satu olahraga favorit yang belakangan ramai adalah bersepeda. Ya, aktivitas bersepeda kini semakin banyak dilakukan oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Terlebih ketika akhir pekan tiba, jalanan yang biasa dipenuhi sepeda motor berubah jadi tempat melaju berbagai komunitas sepeda.

Maraknya penggunaan sepeda ini, membuat toko sepeda kebanjiran cuan. Namun bukan itu saja yang meraup untung, ada yang luput dari perhatian, yaitu bengkel sepeda. 

Langkah-Langkah Mendirikan Bengkel Sepeda

Pelaku bengkel sepeda yang tak terlalu banyak, membuat bengkel sepeda jadi peluang bisnis yang menjanjikan. Terlebih, tren sepeda diprediksi akan berlangsung lama. Namun, sama seperti bisnis pada umumnya, terjun ke usaha bengkel sepeda mesti dipersiapkan dengan matang.

Pertama, modal. Bengkel sepeda tak hanya membutuhkan skill dari montir saja, tetapi juga berbagai kebutuhan alat bengkel. Umumnya, untuk membuka bengkel sepeda dibutuhkan modal awal Rp40 – 85 juta. Modal tersebut digunakan untuk sewa tempat, melengkapi sparepart, alat bengkel dan lainnya.

Kedua, update tren. Pemilik bisnis wajib mengikuti perkembangan tren sepeda. Jadi, alat-alat bengkel dan sparepart yang ada nantinya berpatokan dari tren tersebut. 

Ketiga, lokasi bengkel. Untuk menentukan lokasi, perhatikan tingkat keramaian dan kebiasaan warga sekitar. Jika di daerah tersebut warganya memiliki hobi bersepeda, tentu menjadi nilai plus tersendiri. Tak ada salahnya juga untuk melirik kompetitor di daerah tersebut. Hal ini untuk mengukur kemampuan dan target pasar yang akan dibidik nantinya.

Keempat, persiapkan montir. Jika pemilik bengkel merasa belum terampil dalam memperbaiki sepeda, maka mempekerjakan montir adalah jalan keluarnya. Langkah tersebut mungkin akan sedikit menguras biaya operasional. Namun, hal itu akan meminimalisir kemungkinan pelanggan akan kecewa terhadap pelayanan bengkel.

Kelima, lakukan promosi. Promosi via sosial media masih jadi solusi yang efektif. Selain membangun konten di akun media sosial bengkel, media sosial juga bisa digunakan untuk membangun relasi dengan komunitas sepeda. 

Selain itu, tawarkan kenyamanan kepada pelanggan. Bengkel umumnya dipandang sebagai tempat yang kotor, penuh oli dan barang-barang bekas. Ubah persepsi tersebut dengan menciptakan suasana yang nyaman. Misalnya dengan mendirikan kafe di sebelah bengkel atau membuat ruang tunggu tersendiri yang bersih.

Nah, cara terakhir adalah dengan strategi jemput bola. Rusaknya sepeda memang tak bisa diprediksi, kadang lokasi rusak sepeda jaraknya jauh dari bengkel. Masalah tersebut, bisa diselesaikan dengan konsep bengkel panggilan.

Lonjakan Permintaan Perbaikan Sepeda

Salah satu pemilik bengkel di kota Yogyakarta, Supeno, mengaku bengkel sepedanya semakin ramai selama tiga bulan terakhir. Permintaan perbaikan sepeda di bengkel miliknya ini terus meningkat seiring dengan tren sepeda di masyarakat. Jika dulu ia biasa memperbaiki satu sepeda dalam sehari, kini ia bisa memperbaiki 4 hingga 5 sepeda per harinya. Supeno tak hanya memperbaiki sepeda saja, namun ia juga menerima jasa untuk merakit sepeda.

Berdasarkan penelusuran Mediaini.com di ranah daring, harga servis sepeda di bengkel milik Supeno bervariasi. Menurutnya hal tersebut tergantung kepada tingkat kesulitan dan sparepart apa yang mesti diganti. Ia biasa mematok harga puluhan ribu hingga ratusan ribu per sepeda.

Tingginya permintaan perbaikan sepeda juga dirasakan oleh Niko Kurniawan. Dirinya yang merupakan mantan atlet sepeda, sudah sangat lihai dalam hal reparasi sepeda. Hal itu membuat pelanggannya jatuh hati dan tak berpaling dari bengkelnya.

Pemuda 26 tahun tersebut memilih melakoni bisnis bengkel sepeda karena tak ingin jauh-jauh dari hobi kesayangannya. Bengkel milik warga Kudus ini tak hanya melayani reparasi, namun juga perakitan sepeda.

Pemilik sepeda, dibebaskan untuk mendesain sepeda sesuai dengan keinginannya. Nantinya, tangan dingin dari Niko yang akan memberi saran sekaligus menyempurnakan sepeda rakitan tersebut. Keterampilan tersebut membuat bengkelnya ramai dikunjungi para pesepeda. (Chelsea Venda)

Baca juga : Rekomendasi Bengkel Sepeda Semarang, Antara Servis Panggilan vs Bengkel Sepeda Konvensional

Exit mobile version