MEDIAINI.COM – Video on demand (VOD) kini menjadi alternatif hiburan yang paling dicari saat pandemi. Usaha di bidang digital yang menyediakan layanan streaming online tersebut dianggap bisa sedikit menghapus dahaganya para pecinta film. Pasalnya, bioskop sampai saat ini juga belum ada tanda-tanda akan dibuka.
Sejak tahun 2018, bisnis video streaming memang sudah diprediksi akan terus mengalami peningkatan. Hal tersebut cukup terbukti dengan moncernya berbagai platform layanan streaming di Indonesia seperti Netflix, Catchplay, Viu dan lain sebagainya.
Platform Streaming Makin Banyak
Berbagai layanan streaming mulai masuk ke Indonesia di tahun 2016-an. Hanya berselang dua tahun, layanan video streaming mulai menunjukan geliatnya hingga sekarang.
Netflix misalnya, layanan streaming ini mengandalkan tayangan-tayangan orginal sebagai jualan utamanya. Alhasil, tayangan yang diberikan bersifat eksklusif dan tidak bisa dinikmati di platform lain. Yang paling baru dan mencuri perhatian adalah film serial Messiah dan Marriage Story. Pada tahun 2018, Netflix mencatatkan pendapatan hingga 4 miliar Dolar AS.
Kemudian Viu, layanan dari Hongkong ini lebih mengandalkan drama Korea sebagai daya tariknya. Namun, mereka juga menyediakan berbagai drama dari Asia lainnya.
Tak hanya didominasi pemain luar negeri. Dari sisi pemain lokal, ada Genflix yang bahkan hadir lebih awal dibanding para pesaingnya. Genflix mulai mengudara sejak tahun 2013.
Layanan streaming ini banyak mengandalkan tontonan sepak bola. Kontennya juga sangat variatif, mereka bahkan memiliki konten khusus dengan bahasa Jawa.
Operator Seluler Melirik Bisnis Video Streaming
Penikmat video streaming di Indonesia semakin tumbuh, terutama sejak pembatasan aktivitas sosial di luar rumah. Alhasil, pilihan untuk menikmati hiburan pun menjadi terbatas. Banyak dari mereka kemudian lebih memilih layanan streaming untuk konsumsi hiburan dari rumah.
Kondisi tersebut membuat beberapa operator seluler mulai melirik bisnis ini. Salah satunya dengan menjalin kerja sama dengan para penyedia layanan video streaming. Operator seluler Tri misalnya.
Tri Indonesia telah menjalin kerja sama dengan berbagai layanan video streaming. Agar pelayanan maksimal, Tri selalu berusaha menjaga kualitas konten video supaya tetap sesuai dengan budaya tanah air. Pihaknya rutin melakukan komunikasi dengan penyedia layanan untuk menyalurkan keluhan-keluhan pelanggannya.
Keputusan penurunan konten memang ada di pihak penyedia layanan sepenuhnya. Pihak operator sebagai pemberi kanal tidak punya hak tersebut. Meski demikian, jika nantinya ada keluhan, pihaknya akan tetap berupaya untuk berkomunikasi dengan penyedia layanan tersebut.
Adapun skema bisnis yang biasa dipakai dalam menjalin kerja sama dengan penyedia layanan streaming sangat beragam. Misalnya dengan membeli secara borongan, nanti operator yang akan menaikan harga aslinya untuk meraup keuntungan.
Selain itu, bisa juga dengan berbagi keuntungan, penyedia layanan akan mendapat 60 persen dan operator akan mendapat 40 persen. Namun, tak jarang ada operator yang tidak mempedulikan keuntungan dari layanan ini. Mereka murni mengandalkan pemasukan dari pulsa data yang meningkat karena adanya layanan video streaming.
Prediksi Keuntungan Bisnis di 2022
Konten-konten original dari berbagai platform penyedia layanan streaming online merupakan kekuatan utama mereka. Sisi eksklusif dimana tak bisa ditonton di platform lain telah membuat daya tarik tersendiri. Hasilnya, layanan tersebut menjadi memiliki banyak pelanggan.
Di tahun 2017 pendapatan platform penyedia layanan streaming terus mengalami kenaikan yang signifikan. Di tahun itu pula, pendapatannya tercatat naik 15,2 persen dari tahun sebelumnya. Sejak saat itu, bisnis ini terus mengarah ke tren positif setiap tahunnya.
Raksasa layanan streaming seperti Netflix, Hulu, dan Amazon memang masih mendominasi pasar. Namun, sejalan dengan itu, banyak pula pemain kecil yang mulai tumbuh subur. Global Entertainment and Media Outlook 2018-2022 PricewaterhouseCooper memprediksi keuntungan bisnis ini akan mencapai 30,6 miliar dolar AS pada 2022 mendatang. (Chelsea Venda)



























Discussion about this post