Derap Industri Fesyen Kala Pandemi, Apakah Masih Eksis dan Memiliki Janji?

Derap Industri Fesyen Kala Pandemi, Apakah Masih Eksis dan Memiliki Janji?

MEDIAINI.COM – Pandemi COVID-19 mempengaruhi seluruh lini ekonomi, termasuk industri fesyen Indonesia. Anjuran social distancing membuat  penutupan toko sampai pembatalan fashion show atau annual show di berbagai daerah.

Industri fesyen kemudian menciptakan inovasi baru dalam menghadirkan pergelaran busana. Mereka mencoba bertahan dengan menghadirkan virtual fashion show. Koreografer Edwan Handoko menyebut virtual fashion show bisa menjadi solusi untuk menjaga kreativitas dan semangat dalam menghadapi kondisi seperti saat ini.

Tantangan dalam Industri Fesyen

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Jawa Tengah (Disperindag), Muhammad Arif Sambodo, menuturkan saat ini industri tekstil termasuk garmen dan fashion di dalamnya telah menyumbang 8,41 persen dari pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah.

Di perdagangan ekspor, industri ini juga menyumbang 40 persen dari total ekspor di Jateng. Jumlah tersebut terus naik dari tahun ke tahun. Namun menurutnya potensi yang besar ini masih menghadapi banyak tantangan yang belum selesai. Misalnya, industri fesyen cenderung tersentralisasi di beberapa kabupaten atau kota saja seperti Sukoharjo, Kota Semarang, Solo dan sekitarnya. Mayoritas masih didominasi kota-kota besar.

Maka dari itu pihaknya terus mendorong pemerataan industri di berbagai kabupaten kota dan daerah. Salah satunya dengan mewajibkan daerah untuk mengenalkan produk fesyen kearifan lokal yang mereka punya.

Kiat di Era New Normal

Desainer perancang busana Musa Widyatmodjo pernah memberikan kiat-kiat bagi industri fesyen melalui IG live akun pribadi miliknya.

Pertama, pebisnis harus cerdas berinvestasi. Menurutnya saat ini bukan saat yang tepat untuk berinvestasi guna membangun citra brand. Dana tersebut lebih baik digunakan untuk menciptakan produk baru berdasarkan pengamatan tentang kondisi masyarakat sekarang.

Kedua, adaptif dan kreatif. Pelaku industri fesyen perlu adaptif, kreatif, dan jeli melihat peluang di tengah pandemi. Misalnya, sekarang ini banyak masyarakat melakukan WFH dan video conference. Itu berarti fesyen bagian pinggang ke atas menjadi kebutuhan utama saat ini.

Ketiga, brand as reason. Branding bukan lagi tentang cerita, melainkan alasan. Harus ada alasan kenapa seseorang perlu membeli produk tertentu, mengingat kondisi sekarang yang masih pandemi.

Strategi Bertahan ala UMKM

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki, mengatakan akan memaksimalkan penggunaan bahan baku dan produk fesyen dari dalam negeri dan mengkampanyekan gerakan #BanggaBuatanIndonesia dan #Semuanyaadadisini seperti yang diinstruksikan Presiden Joko Widodo.

Salah satu perusahaan yang sejalan dengan gerakan nasional tersebut adalah Asia Pacific Rayon (APR). APR sendiri merupakan perusahaan penghasil serat viscose rayon dalam negeri. Serat yang dihasilkan APR dipasok ke industri untuk diolah oleh pelaku usaha hilir menjadi benang, kain hingga pakaian, termasuk untuk para UKM.

Selain itu, Kementerian Koperasi dan UKM juga menyelenggarakan Webinar bertajuk Strategi UKM Fashion di Era New Normal yang bekerja sama dengan Webinar yang didukung oleh Asia Pacific Rayon (APR) pada bulan Juli lalu.

Acara yang bisa diikuti oleh para pelaku industri fesyen secara gratis ini bertujuan untuk memberikan gambaran nyata bisnis dan peluang untuk pelaku industri dan UKM di sektor fesyen di tengah masa pandemi ini serta dalam menghadapi tren fesyen global mendatang.

Di sisi lain, sinergi semua pihak sangat dibutuhkan guna mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Sejalan dengan gerakan nasional tersebut, Bank BRI selaku lembaga perbankan yang fokus untuk penyelamatan UMKM menggelar acara Nusantara Fashion Festival (NUFF) 2020

NUFF 2020 diselenggarakan pada tanggal 1 – 31 Agustus 2020 dengan menghadirkan 75 karya perancang, label dan UMKM mode dalam virtual fashion show. Sejumlah pembicara dalam fashion talks dan juga produk kolaborasi spesial desainer dan brand lokal akan ditampilkan dalam charity auction.

Industri Fesyen Harus Berubah

Anna Wintour, ikon dunia fashion sekaligus pemimpin redaksi majalah Vogue menyebut bahwa virus corona akan memaksa industri fashion untuk berubah secara radikal. Dengan kata lain, industri fashion tak akan kembali seperti dulu lagi.

Wintour juga mengungkapkan bahwa pandemi virus corona ini menyebabkan perubahan pola pikir terhadap berbagai hal yang dilakukan rumah mode, salah satunya mendorong keberlanjutan (sustainability).

Anna Wintour bahkan telah mengumumkan kerjasamanya dengan Amazon untuk membantu menyelamatkan dunia fesyen. Mereka nantinya akan membuat project “Common Threads: Vogue x Amazon Fashion,” yaitu etalase online baru yang menampilkan 20 nama kreatif dunia fashion. (Chelsea Venda).

 

Exit mobile version