Bisnis Salon Kecantikan, Modal dan Peluang di Tengah Pandemi

Share artikel ini

MEDIAINI.COM – Memasuki era adaptasi kebiasaan baru, beberapa sektor bisnis mulai dibuka kembali atau diperlonggar, tentunya dengan berbagai syarat khusus agar nantinya tak menyalahi protokol kesehatan. Salah satu yang mulai menggeliat kembali setelah sekian lama redup adalah bisnis salon kecantikan. 

Di Bandung misalnya, para pengusaha salon telah melakukan simulasi penerapan protokol kesehatan di salon miliknya. Mereka mulai menerapkan beberapa teknologi baru untuk mendukung hal tersebut. Seperti memakai sinar UV untuk mensterilkan alat cukur, membatasi jumlah pengunjung hanya 50 persen saja setiap harinya, menjaga jarak, hingga menerapkan sistem antrean. Ini membuktikan bahwa industri salon kecantikan telah siap untuk membuka diri di era adaptasi kebiasaan baru.

Setelah sekian lama orang tak melakukan perawatan terhadap rambut dan tubuh mereka, bisnis salon diprediksi akan jadi peluang yang menjanjikan di era adaptasi kebiasaan baru ini.

Memulai Bisnis Salon Kecantikan

Perawatan kecantikan telah jadi kebutuhan primer bagi sebagian besar wanita Indonesia. Ini ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan bisnis salon dalam beberapa tahun terakhir. Mulai di pusat perbelanjaan, ruko, hingga di pinggir jalan, menjamur ratusan pusat salon kecantikan. Tertarik dan ingin ikut terjun ke dalam bisnis ini?

Pertama, sebelum membuka salon kecantikan, Anda sebaiknya menentukan dulu konsep yang akan digunakan. Ada banyak sekali jenis perawatan yang bisa dilakukan di salon. Mulai dari potong rambut, creambath, perawatan wajah, rebonding, semir rambut dan masih banyak lagi. Di fase awal, penting untuk menentukan konsep utama yang akan jadi jualan utama.

Kedua, menentukan lokasi salon. Setidaknya ada dua jenis yang popular. Yakni salon rumahan, salon yang bertempat di rumah si pemilik, dan salon non perumahan, yaitu salon yang berdiri di mall, di ruko, atau tempat yang memiliki traffic yang ramai.

Beda lokasi tentu membuat pangsa pasar yang diraih juga berbeda. Jika memilih salon perumahan, maka kemungkinan target pasarnya hanya warga di sekitar perumahan tersebut. Tapi jika memilih salon di mall misalnya, maka target pasar akan lebih luas lagi. Karena mall bisa didatangi oleh beragam pengunjung dari berbagai daerah dan beragam kalangan.

Ketiga, beri nilai lebih ke pelanggan yang bisa menambah kepuasan. Selain hasil akhir perawatan yang optimal, ada hal lain yang bisa jadi nilai tambah yaitu seperti keramahan pelayanan.

Terakhir, ikutilah tren. Perkembangan dunia kecantikan selalu dinamis. Mulai dari model rambut, warna rambut hingga jenis perawatannya. Dengan mengikuti tren, salon jadi tidak ketinggalan zaman. Pelanggan yang datang pun bisa bebas meminta model-model kekinian tanpa khawatir salon tersebut tidak sanggup melayani.

Modal Usaha Salon

Rencana bisnis akan mentah ketika tak dibarengi dengan perkiraan modal usaha. Berikut, adalah perkiraan modal menurut kurasi Mediaini.com.

Modal utama digunakan untuk sewa lokasi dan perizinan. Ketika pelaku bisnis lebih memilih untuk mendirikan salon di rumah sendiri, tentu ini akan meringankan modal untuk lokasi. Pelaku bisnis hanya perlu melakukan serangkaian proses perizinan pembukaan bisnis salon, kurang lebih akan membutuhkan Rp7 juta.

Kendati salon rumahan, namun, bukan berarti peralatan di salon tersebut ala kadarnya. Kelengkapan alat juga jadi penambah daya tarik bagi pelanggan. Semakin lengkap, pelanggan bisa lebih leluasa memilih model rambut dan yang lainnya.  Modal untuk membeli berbagai peralatan salon yang lengkap kurang lebih berkisar Rp20 juta.

Kemudian, aktivitas bisnis salon erat kaitannya dengan alat-alat. Alhasil, tagihan listrik jadi hal yang perlu diperhatikan. Selain itu, penggunaan air juga jadi sorotan. Untuk kegiatan operasional, termasuk air dan listrik, pelaku bisnis mesti menyiapkan sekitar Rp2 juta per bulan.

Lalu, jika pelaku bisnis memiliki keterampilan khusus dalam salon kecantikan, maka tak perlu memusingkan gaji karyawan. Namun jika tidak, pelaku bisnis perlu merekrut karyawan dan membayar gajinya per bulan. Umumnya, gaji karyawan berkisar Rp1,5 juta. Ini tergantung kepada berapa karyawan yang dipekerjakan.

Tips Sukses Bertahan di Era New Normal

Salah satu kunci sukses pelaku bisnis adalah komitmen. Ketika pelaku bisnis memiliki komitmen yang kuat, mereka akan mencurahkan pikiran dan tenaga untuk membuat bisnis itu berhasil. Alhasil, pelaku bisnis jadi tidak gampang menyerah dan terus berupaya memajukan bisnis salon kecantikan.

Nah di era baru ini, komitmen mesti dibarengi dengan serangkaian adaptasi kebiasaan baru. Misalnya, dengan membuat sistem yang terintegrasi secara online agar pelanggan tak perlu datang ke gerai dan mengantri. Selain untuk mendapatkan nomer antrian, pelanggan hendaknya juga bisa konsultasi secara virtual terlebih dahulu. Mulai dari menentukan perawatan, model tertentu dan lainnya. Ini akan memangkas waktu pelanggan agar tak berlama-lama berada di salon.

Jangan hanya mengandalkan pengunjung yang datang ke salon saja. Pelaku bisnis juga bisa membuat produk baru, seperti menjual sabun kecantikan untuk melakukan perawatan di rumah. Hal ini tentu saja akan menambah pendapatan, ketika salon ala era baru memang harus membatasi pengunjung hariannya (Chelsea Venda)

Baca juga : 7 Salon Terbaik di Luar Jakarta, Sudah Pernah Mencoba?